News
AI Membantu Saya Mencari Kembali Jejak Prestasi 50 Tahun di Dunia Bridge
Bukan Sekadar Mencari Medali, tetapi Menemukan Kembali Cerita di Balik Perjalanan

Mungkin inilah manfaat AI yang paling saya rasakan, bukan menggantikan pengalaman, bukan menggantikan ingatan, bukan pula menulis ulang kehidupan seseorang seolah-olah semuanya bisa ditemukan di internet tetapi membantu membuka kembali pintu-pintu arsip yang selama ini tertutup. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
FAKTUAL INDONESIA: Setelah lebih dari lima puluh tahun berkecimpung di dunia bridge, saya sendiri kadang kesulitan menjawab sebuah pertanyaan yang sebenarnya sederhana:
“Sebenarnya apa saja prestasi yang pernah saya raih?”
Bukan karena tidak ada yang bisa diceritakan.
Justru sebaliknya.
Perjalanan itu sudah terlalu panjang.
Saya mulai belajar bridge pada 1971, ketika masih duduk di kelas 3 SMA di Tondano. Pada 1974 saya pertama kali mengikuti Kejurnas di Magelang. Tahun 1976 saya menjadi juara nasional Patkawan Terbuka di Kejurnas Yogyakarta dan mendapat kesempatan pertama mewakili Indonesia ke luar negeri, di Kejuaraan Dunia di Monte Carlo.
Lima puluh tahun kemudian, saya masih duduk di meja bridge.
Saya masih bermain.
Masih menulis.
Masih mengikuti perkembangan bridge dunia.
Dan karena perjalanan itu begitu panjang, saya berpikir:
Mengapa tidak mencoba mencari kembali jejak perjalanan tersebut dengan bantuan AI?
Ternyata hasilnya cukup menarik.
Bahkan lebih menarik daripada yang saya bayangkan.
AI sebagai asisten pencarian
Saya meminta AI menelusuri berbagai sumber:
arsip World Bridge Federation;
hasil pertandingan;
roster kejuaraan;
pemberitaan media;
dokumentasi kejuaraan internasional;
arsip organisasi;
tulisan-tulisan lama;
dan berbagai sumber lain yang mencantumkan nama saya.
AI kemudian menemukan banyak hal.
Ada prestasi yang ternyata sudah saya lupa.
Ada pertandingan yang masih saya ingat tetapi sulit ditemukan dokumennya.
Ada pula nama saya yang tercantum dalam arsip, tetapi ternyata saya tidak pernah berangkat.
Di sinilah saya menyadari sesuatu:
AI sangat membantu menemukan arsip, tetapi AI tidak otomatis mengetahui kebenaran sebuah peristiwa.
Karena itu setiap hasil pencarian harus saya periksa kembali.
Saya harus bertanya:
Apakah saya benar-benar berangkat?
Apakah saya benar-benar bermain?
Apakah saya benar-benar menjadi NPC?
Apakah nama saya hanya sudah didaftarkan sebelumnya?
Dan ternyata jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa mengubah sebuah cerita.
2005 – nama saya ada, tetapi saya tidak berangkat
Contoh paling jelas adalah World Senior Championship 2005 di Estoril, Portugal.
Dalam arsip WBF, nama saya tercantum sebagai NPC Indonesia.
Kalau hanya melihat arsip tersebut, orang bisa saja menyimpulkan bahwa saya ikut membawa Indonesia menjadi runner-up dunia.
Tetapi saya tahu kenyataannya.
Saya tidak berangkat ke Estoril.
Kemungkinan besar nama saya sudah didaftarkan PB GABSI sebelumnya sebagai NPC, tetapi ketika terjadi perubahan keberangkatan, roster tersebut tidak diperbarui.
Jadi meskipun nama saya masih ada dalam arsip, saya tidak boleh mengklaim prestasi tersebut.
Maka:
2005 saya keluarkan dari daftar prestasi pribadi.
2009 – juga saya keluarkan
Hal yang sama berlaku untuk World Senior Championship 2009 di São Paulo.
Indonesia memang meraih medali perunggu.
Tetapi saya tidak menjadi bagian dari tim tersebut.
Maka prestasi tersebut juga tidak saya masukkan.
Prinsip saya sederhana:
Lebih baik daftar prestasi sedikit tetapi benar daripada panjang tetapi keliru.
Bagi saya, ini penting.
Karena tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuat CV saya terlihat lebih hebat.
Saya justru ingin membuatnya lebih akurat.
Dari Tondano ke panggung dunia
Perjalanan itu dimulai dengan sangat sederhana.
1971.
Saya belajar bridge ketika masih duduk di kelas 3 SMA di Tondano.
1974.
Saya pertama kali mengikuti Kejurnas di Magelang.
1976.
Saya menjadi juara nasional Patkawan Terbuka di Kejurnas Yogyakarta.
Kemenangan itu membawa saya mendapatkan kesempatan pertama mewakili Indonesia ke luar negeri.
Tujuannya:
Monte Carlo.
Kejuaraan Dunia.
Bagi seorang pemain muda dari Tondano, pengalaman tersebut tentu luar biasa.
Saya belum tahu bahwa perjalanan itu akan berlangsung selama lebih dari lima puluh tahun.
1978 dan tahun-tahun awal perjalanan internasional
Dalam catatan lama yang saya miliki, saya menemukan kembali sejumlah prestasi pasangan yang sudah lama berlalu.
Di antaranya:
Juara Pasangan Asia Pacific 1978 bersama George Soo dari Filipina;
Juara II bersama Denny Sacul di Bangkok;
Juara III bersama Roy Tirtadji di Hong Kong;
Juara Kejuaraan Pasangan Antarwartawan Bridge di Maastricht, Belanda bersama Ananta Widjaya;
Juara Pesta Sukan Singapura bersama Amiruddin Jusuf;
Juara pasangan Gold Coast Congress bersama Giovani Watulingas;
Juara pasangan ASEAN Bridge Club Championships bersama almarhum Memed Hendrawan;
Juara pasangan Selangor Congress bersama Tanudjan Sugiarto.
Ketika membaca kembali catatan tersebut, saya sendiri baru menyadari:
ternyata perjalanan itu sudah sangat panjang sejak masa muda.
Orang-orang yang pernah duduk satu meja dengan saya
Semakin lama saya menelusuri perjalanan tersebut, semakin saya menyadari bahwa prestasi bridge tidak pernah benar-benar merupakan prestasi seorang diri.
Di balik setiap hasil ada partner.
Ada rekan satu tim.
Ada lawan.
Ada kapten.
Ada coach.
Dan ada sahabat.
Dalam perjalanan panjang itu saya pernah duduk satu meja dengan banyak nama besar bridge Indonesia.
Di antaranya:
Munawar Sawiruddin
Munawar adalah salah satu pemain senior yang sangat saya hormati.
Kami pernah menjadi bagian dari tim nasional dan tim senior Indonesia.
Pada final APBF di Wuyi 2014, saya bahkan turun bermain bersama Munawar pada session kedua melawan Australia.
Indonesia akhirnya menjadi juara Asia Pacific.
Henky Lasut
Henky adalah salah satu maestro bridge Indonesia.
Kami berada dalam generasi yang sama dan berkali-kali berada dalam lingkungan tim nasional dan kompetisi internasional.
Michael Bambang Hartono
Dengan Bambang Hartono, perjalanan saya berlangsung sampai periode yang relatif baru.
Kami pernah menjadi pasangan dan rekan satu tim dalam berbagai event internasional, termasuk Asian Games 2018 ketika kami menjadi bagian dari tim Super Mixed Indonesia yang meraih medali perunggu.
Denny Sacul
Almarhum Denny Sacul mempunyai tempat khusus dalam perjalanan saya.
Kami pernah menjadi pasangan dalam berbagai kesempatan.
Pada APBF 2015, kami meraih medali perak nomor pasangan dan sekaligus menjadi bagian dari tim Senior Indonesia yang meraih emas.
Memed Hendrawan
Dengan almarhum Memed Hendrawan saya juga pernah menjadi pasangan dalam berbagai kesempatan.
Salah satu yang paling saya ingat adalah World Bridge Championships Bali 2013, ketika kami mencapai babak perempat final dan tercatat sebagai kelompok peringkat 5–8 dunia.
Tanudjan Sugiarto
Dan tentu saja Tanudjan Sugiarto.
Perjalanan saya bersama Tanudjan mempunyai cerita tersendiri.
Ada Wuyi.
Ada Sanya.
Ada kesempatan Wroclaw yang akhirnya harus dijalani dengan partner lain.
Dan ada begitu banyak pertandingan lain yang kami jalani bersama.
2013 – Bali: tahun yang sangat penting
Tahun 2013 mempunyai tempat khusus dalam perjalanan saya.
Indonesia akhirnya menjadi tuan rumah 41st World Bridge Teams Championships di Nusa Dua, Bali.
WBF kemudian menggambarkan Bali 2013 sebagai sebuah kejuaraan yang sangat sukses dan memberikan penghargaan tinggi kepada tuan rumah Indonesia atas keramahan, organisasi dan penyelenggaraannya.
Saya pada waktu itu bukan hanya memikirkan pertandingan sebagai pemain.
Saya juga aktif dalam organisasi PB GABSI dan terlibat dalam berbagai persiapan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kejuaraan dunia tersebut.
Dalam proses persiapan itulah saya berinteraksi cukup intensif dengan Gianarrigo Rona, Presiden WBF.
Rona sendiri terpilih kembali sebagai Presiden WBF di Nusa Dua pada 2013.
Jadi hubungan saya dengan beliau bukan hubungan yang baru muncul ketika kasus Sanya terjadi.
Kami sudah saling mengenal melalui pekerjaan dan persiapan kejuaraan dunia di Bali.
Dan ternyata hubungan profesional tersebut beberapa tahun kemudian menjadi bagian dari sebuah cerita yang tidak pernah saya duga.
2013 – sekaligus bertanding di Kejuaraan Dunia
Di Bali saya juga turun sebagai pemain.
Saya berpasangan dengan Memed Hendrawan.
Arsip resmi WBF mencatat pasangan POLII Bert Toar – HENDRAWAN Memed dalam d’Orsi Seniors Trophy. WBF juga mencatat bahwa Indonesia mencapai fase perempat final dalam kompetisi tersebut.
Kami kalah di perempat final dari Jerman.
Kemudian terjadi sesuatu yang cukup luar biasa.
Jerman akhirnya dinyatakan bersalah melakukan cheating dan WBF mencabut gelar serta medali mereka.
Saya sempat mempertanyakan:
“Kalau tim yang mengalahkan kami kemudian didiskualifikasi, mengapa Indonesia tidak naik ke semifinal?”
Jawabannya ternyata tidak demikian.
Sanksi terhadap Jerman tidak membatalkan pertandingan perempat final yang sudah kami mainkan.
Karena itu hasil Indonesia tetap:
Peringkat 5–8 dunia.
Dan sekarang saya memahami bahwa itu memang hasil resmi kami.
2014 – Wuyi: awal perjalanan istimewa bersama Tanudjan
Setelah Bali, tahun 2014 menjadi tahun penting.
Memed Hendrawan mengundurkan diri dari tim senior.
Saya kemudian berpasangan dengan Tanudjan Sugiarto.
Prestasi pertama kami langsung sangat baik.
Pada The 2nd Asia Pacific Bridge Cup di Wuyi, China, tim Senior Indonesia menjadi juara.
Tim tersebut diperkuat pemain-pemain seperti:
Henky Lasut, Eddy Manoppo, Munawar Sawiruddin, Michael Bambang Hartono, Bert Toar Polii dan Tanudjan Sugiarto.
Pada final melawan Australia, saya bahkan turun bermain bersama Munawar pada session kedua.
Indonesia menjadi juara.
Bagi saya, momen tersebut sangat istimewa.
2014 – Sanya: ketika hasil di meja tidak cukup
Beberapa bulan kemudian saya dan Tanudjan kembali bermain bersama di 14th Red Bull World Bridge Series di Sanya, China.
Kami tampil di nomor Senior Pairs.
Hasil kami sebenarnya sangat baik.
Tetapi kemudian terjadi persoalan.
Kami tidak dapat mengikuti final.
Dan yang membuat persoalan ini berbeda adalah:
bukan karena hasil permainan kami.
Dalam buletin resmi WBF bahkan tercatat adanya:
“Registration process error.”
Kesalahan proses registrasi tersebut menyebabkan kerugian bagi pasangan Senior Indonesia Bert Toar Polii–Tanudjan Sugiarto.
Championship Manager bahkan menyampaikan permintaan maaf.
Bagi saya, persoalan tersebut tentu tidak selesai hanya dengan sebuah permintaan maaf.
Sebagai anggota International Players Bridge Association (IPBA), saya kemudian menulis komplain mengenai kasus tersebut melalui buletin IPBA.
Saya merasa kasus seperti ini harus dicatat.
Bukan hanya demi kepentingan saya dan Tanudjan.
Tetapi juga karena saya percaya bahwa seorang pemain yang sudah mendapatkan hasil di meja pertandingan berhak mendapatkan perlakuan administratif yang benar.
Saya tidak tahu saat itu apa akibat dari tulisan tersebut.
Saya hanya merasa:
kalau ada sesuatu yang tidak benar, harus disampaikan dengan cara yang baik dan melalui jalur yang tepat.
Dari Sanya ke Wroclaw
Dua tahun kemudian, saya mendapatkan sebuah email yang sampai sekarang masih saya simpan.
Tanggal:
14 Desember 2015.
Pengirim:
Gianarrigo Rona, President World Bridge Federation.
Email tersebut sangat singkat tetapi bagi saya sangat berarti.
Presiden WBF menulis bahwa, sebagaimana sudah disampaikannya kepada saya di Chennai, beliau dengan senang hati menginformasikan bahwa:
saya dan partner saya, Sugiarto Tanudjan, diundang mengikuti World National Seniors Pairs Championship di Wroclaw.
Undangan tersebut diberikan dengan:
FREE ENTRY
dan
B&B ACCOMMODATION IN DOUBLE ROOM
Awalnya akomodasi diberikan untuk:
10–16 September 2016.
Tetapi ada satu kalimat yang membuat email ini menjadi dokumen yang sangat penting:
“Expressing again to you and Tanudjan my apologies for what happened in Sanya…”
Presiden WBF secara langsung kembali menyampaikan permintaan maaf kepada saya dan Tanudjan atas apa yang terjadi di Sanya.
Jadi sekarang hubungan antara kedua peristiwa itu bukan lagi dugaan.
Ada bukti tertulisnya.
Saya meminta akomodasi diperpanjang
Saya kemudian mengajukan permintaan lain.
Saya ingin mengikuti seluruh rangkaian kejuaraan sampai upacara penutupan.
Karena itu saya meminta agar masa akomodasi diperpanjang.
Permintaan tersebut disetujui.
Akhirnya akomodasi menjadi:
10–18 September 2016.
Saya memang ingin menyaksikan sampai akhir seluruh rangkaian World Bridge Games.
Tetapi Tanudjan tidak bisa berangkat
Kemudian muncul persoalan yang sama sekali berbeda.
Tanudjan harus mewakili Jawa Tengah pada PON 2016 di Bandung.
Karena itu ia tidak dapat berangkat ke Wroclaw.
Padahal undangan WBF pada awalnya diberikan kepada:
Bert Toar Polii – Tanudjan Sugiarto.
Saya kemudian mengajukan permintaan khusus kepada WBF:
“Apakah saya diperbolehkan mengganti partner?”
Permintaan tersebut disetujui.
Saya akhirnya tetap berangkat.
Dan partner saya di Wroclaw menjadi:
Hartono.
Arsip resmi WBF memang mencatat:
POLII Bert Toar – HARTONO Hartono
sebagai pasangan Indonesia di Senior Pairs Wroclaw 2016, dengan hasil akhir 46,07%.
Jadi Wroclaw bukan cerita tentang medali.
Bukan pula cerita tentang hasil yang luar biasa.
Tetapi bagi saya, Wroclaw mempunyai arti lain.
Ini adalah cerita tentang sebuah kesempatan kedua.
Sanya 2014 → Wroclaw 2016
Kalau saya rangkai sekarang, perjalanan itu terlihat sangat jelas:
Sanya 2014
Bert Toar Polii – Tanudjan Sugiarto
Kesalahan registrasi → kehilangan kesempatan tampil di final.
↓
Setelah Sanya
Komplain melalui IPBA.
↓
14 Desember 2015
Presiden WBF mengirim undangan.
Free entry + B&B accommodation.
Dan kembali meminta maaf atas apa yang terjadi di Sanya.
↓
Permintaan saya
Akomodasi diperpanjang agar saya bisa mengikuti penutupan.
10–18 September 2016.
↓
2016
Tanudjan tidak bisa berangkat karena PON Jawa Tengah.
↓
Permintaan khusus
Saya meminta izin mengganti partner.
↓
WBF menyetujui
↓
Wroclaw
Bert Toar Polii – dr. Hartono.
Kalau hanya membaca daftar hasil pertandingan, cerita ini tidak akan pernah terlihat.
Tetapi ketika dokumen dan pengalaman pribadi disatukan, barulah kisahnya menjadi utuh.
2015 – dua medali dalam satu kejuaraan
Di antara Sanya dan Wroclaw, tahun 2015 juga menjadi salah satu tahun penting.
Pada APBF Championship 2015 di Bangkok, tim Senior Indonesia menjadi juara.
Saya bersama:
Michael Bambang Hartono
Munawar Sawiruddin
Henky Lasut
Eddy Manoppo
Denny Sacul
meraih:
🥇 Medali Emas Senior Team
Bersama Denny Sacul saya juga meraih:
🥈 Medali Perak Pairs
Satu kejuaraan menghasilkan dua medali.
2016 – masih bermain, sekaligus membina
Wroclaw juga bukan satu-satunya kegiatan saya pada 2016.
Saya juga bertugas sebagai coach tim Girls Indonesia pada World Youth Team Championships di Salsomaggiore, Italia.
Di sinilah perjalanan saya mulai semakin menarik.
Saya masih bermain sebagai pemain senior.
Tetapi sekaligus mulai semakin aktif dalam pembinaan generasi muda.
2018 – Asian Games
Kemudian datang salah satu momen terbesar dalam sejarah bridge Indonesia.
Pada Asian Games 2018, bridge untuk pertama kalinya dipertandingkan.
Saya menjadi bagian dari tim Super Mixed Indonesia.
Bersama:
Michael Bambang Hartono
Conny Eufke Sumampouw
Rury Andhani
Franky Steven Karwur
Jemmy Boyke Bojoh
kami meraih:
🥉 Medali Perunggu Asian Games
Bagi saya, medali ini mempunyai makna khusus.
Bukan hanya karena warna perunggunya.
Tetapi karena kami menjadi bagian dari sejarah ketika bridge pertama kali masuk Asian Games.
2018 – Minahasa Award
Pada 30 November 2018, saya menerima:
Minahasa Award – “Tuama Leos, Keter Wo Nga’asan”
Piagam yang saya miliki menyebut penghargaan tersebut diberikan atas:
dedikasi dan pengabdian dalam olahraga bridge sebagai pemain internasional dan pengurus PB GABSI.
Piagam itu juga mencatat saya sebagai:
peraih medali perunggu Asian Games olahraga bridge.
Bagi saya, penghargaan ini sangat berarti.
Karena yang dihargai bukan hanya hasil pertandingan.
Tetapi juga:
dedikasi dan pengabdian.
Gelar-gelar Bridge
Selain medali dan penghargaan, perjalanan panjang tersebut juga menghasilkan gelar-gelar bridge.
Yang tercatat dalam berbagai sumber dan dokumentasi yang telah kita kumpulkan adalah:
World Bridge Federation
World Life Master
Senior International Master (SIM)
Asia Pacific Bridge Federation
Grand Master
GABSI
Life Master
Jadi gelar saya dapat dituliskan:
World Life Master – WBF
Senior International Master – WBF
Grand Master – APBF
Life Master – GABSI
Bagi saya, gelar-gelar tersebut bukan sekadar titel.
Di balik setiap gelar ada ribuan papan yang dimainkan, perjalanan panjang, partner, lawan, kemenangan, kekalahan dan pengalaman.
2020 – Satyalancana Dharma Olahraga
Kemudian datang salah satu penghargaan yang paling berarti bagi saya.
Pada 2020 saya menerima:
Satyalancana Dharma Olahraga
dari Presiden Republik Indonesia.
Dokumen yang saya miliki mencantumkan:
Bert Toar Polii – Olahragawan/Bridge
berdasarkan:
Keppres RI No. 36/TK/Tahun 2020
ditetapkan di Jakarta pada:
13 Mei 2020.
Ini adalah salah satu penghargaan tertinggi yang saya terima sebagai atlet.
Atlet Legenda
Saya juga menerima penghargaan:
Atlet Legenda
dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Bukti dokumentasinya sekarang sudah saya miliki.
Bagi saya, penghargaan ini melengkapi perjalanan panjang tersebut.
Kalau Satyalancana Dharma Olahraga merupakan penghargaan negara, Minahasa Award merupakan penghargaan dari daerah asal, maka Atlet Legenda menjadi pengakuan dari lingkungan olahraga nasional.
2022 – masih bermain dan memimpin
Pada Bridge Asia Cup 2022 di Jakarta, saya kembali memperkuat tim senior Indonesia.
Saya bukan hanya bermain.
Saya juga dipercaya menjadi kapten tim.
Bagi saya, kepercayaan tersebut mempunyai arti khusus.
Karena setelah perjalanan yang begitu panjang, saya masih dipercaya untuk duduk di meja pertandingan sekaligus memimpin tim.
2025 – pemain sekaligus Playing Captain
Pada 54th APBF Championships di Hefei, China, saya kembali memperkuat tim Senior Indonesia.
Kali ini saya dipercaya sebagai:
Pemain sekaligus Playing Captain
Indonesia kemudian meraih:
🥉 Medali Perunggu APBF Senior Team
Bagi saya, yang paling menarik bukan hanya medalinya.
Tetapi kenyataan bahwa setelah lebih dari lima puluh tahun bermain bridge, saya masih dipercaya untuk bermain sekaligus memimpin tim senior Indonesia di tingkat Asia Pasifik.
2026 – masih duduk di meja bridge
Dan sekarang kita sampai pada 2026.
Saya masih bermain.
Masih menulis.
Masih mengikuti perkembangan bridge.
Masih memikirkan pembinaan.
Masih memikirkan bagaimana bridge Indonesia bisa berkembang.
Kalau ada yang bertanya:
“Kapan karier bridge Bert Toar Polii berakhir?”
Jawaban saya:
Belum.
Partner yang membentuk perjalanan saya
Semakin lama saya menelusuri arsip, semakin saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya bukan cerita tentang saya seorang.
Di balik setiap prestasi ada orang lain.
Ada partner.
Ada rekan satu tim.
Ada lawan yang membuat kita belajar.
Ada coach.
Ada kapten.
Ada pengurus.
Ada keluarga.
Dan ada sahabat.
Nama-nama seperti:
Munawar Sawiruddin
Henky Lasut
Michael Bambang Hartono
Denny Sacul
Memed Hendrawan
Tanudjan Sugiarto
bukan sekadar nama dalam daftar hasil pertandingan.
Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya di bridge.
Sebagian masih bersama kita.
Sebagian sudah pergi.
Tetapi semuanya meninggalkan jejak.
AI membantu saya mencari, tetapi manusia tetap harus mengingat
Inilah yang paling menarik dari proyek ini.
Saya awalnya mengira AI hanya akan membantu menemukan berita lama.
Ternyata lebih dari itu.
AI menemukan arsip WBF.
AI menemukan hasil pertandingan.
AI menemukan pemberitaan lama.
AI menemukan nama saya dalam berbagai dokumen.
Tetapi kemudian saya harus mengatakan:
“Yang itu jangan dimasukkan. Saya tidak berangkat.”
Atau:
“Yang itu benar. Saya memang bermain.”
Atau:
“Yang ini saya ingat berbeda. Mari kita cek lagi.”
Dan di sinilah saya melihat batas sekaligus kekuatan AI.
AI dapat mencari.
AI dapat menghubungkan informasi.
AI dapat membantu membaca arsip.
Tetapi AI tidak menjalani pertandingan tersebut.
Saya yang menjalaninya.
Karena itu pengalaman manusia tetap diperlukan untuk memverifikasi arsip.
Sejarah pribadi ternyata juga perlu diverifikasi
Kita sering mengira bahwa sejarah diri sendiri pasti kita ingat dengan benar.
Ternyata tidak selalu.
Nama bisa tertinggal dalam roster.
Dokumen bisa tidak diperbarui.
Kesalahan administrasi bisa terjadi.
Partner bisa berubah.
Perjalanan bisa batal.
Dan prestasi yang sudah puluhan tahun berlalu bisa saja terlupakan.
Karena itu saya memilih satu prinsip:
Jangan masukkan sesuatu hanya karena ada nama saya di internet. Pastikan saya benar-benar ada di sana.
Ini juga alasan mengapa beberapa informasi yang semula ditemukan AI akhirnya saya keluarkan.
2005 – tidak saya masukkan.
2009 – tidak saya masukkan.
Sebaliknya, pengalaman seperti:
Bali 2013 – 5–8 dunia
tetap saya pertahankan karena memang saya jalani.
Dan kisah:
Sanya 2014 → Wroclaw 2016
justru menjadi semakin kuat karena sekarang ada dokumen pendukung yang menjelaskan apa yang terjadi di balik hasil pertandingan.
Dari 1971 sampai 2026
Kalau perjalanan panjang tersebut saya ringkas:
1971
Mulai belajar bridge.
1974
Pertama kali mengikuti Kejurnas.
1976
Juara nasional dan pertama kali mewakili Indonesia ke luar negeri.
1978
Juara Pasangan Asia Pacific.
2011
NPC tim putri Indonesia dan mencapai final Venice Cup.
2013
Bertanding di World Bridge Championships Bali dan mencapai perempat final, tercatat dalam kelompok peringkat 5–8 dunia.
2014
Juara Asia Pacific Senior Team di Wuyi.
2014
Sanya bersama Tanudjan Sugiarto; hasil baik tetapi kehilangan kesempatan tampil di final akibat kesalahan registrasi.
2015
Juara APBF Senior Team dan peraih perak Pairs.
2016
World Bridge Games Wroclaw; berpasangan dengan dr. Hartono setelah memperoleh persetujuan WBF untuk mengganti partner.
2016
Coach tim Girls Indonesia pada World Youth Team Championships.
2018
Medali perunggu Asian Games.
2018
Minahasa Award.
2020
Satyalancana Dharma Olahraga dari Presiden Republik Indonesia.
2022
Masih bermain dan dipercaya memimpin tim senior.
2025
Medali perunggu APBF sebagai pemain sekaligus Playing Captain.
2026
Masih aktif bermain dan menulis.
Dan di sepanjang perjalanan itu saya memperoleh gelar:
World Life Master – WBF
Senior International Master – WBF
Grand Master – APBF
Life Master – GABSI
Lebih dari lima puluh tahun.
Dan ternyata ceritanya masih berlanjut.
Penutup
Saya mencari prestasi, tetapi menemukan perjalanan hidup
Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat saya terlihat hebat.
Terus terang, itu bukan tujuan saya.
Saya hanya ingin menjawab sebuah pertanyaan sederhana:
“Setelah lebih dari lima puluh tahun menjadi Tukang Bridge, sebenarnya jejak apa yang sudah saya tinggalkan?”
AI membantu saya mencari jawabannya.
Arsip WBF memberikan petunjuk.
Media memberikan konfirmasi.
Dokumen penghargaan memberikan bukti.
Email Presiden WBF memberikan sebuah cerita yang tidak mungkin saya temukan hanya dari tabel hasil pertandingan.
Dan ingatan saya sendiri membantu meluruskan ketika sebuah arsip tidak sesuai dengan kenyataan.
Dari proses tersebut saya justru mendapatkan pelajaran sederhana:
SEJARAH TIDAK CUKUP HANYA DICARI.
SEJARAH HARUS DIVERIFIKASI.
Termasuk sejarah diri sendiri.
Mungkin inilah manfaat AI yang paling saya rasakan.
Bukan menggantikan pengalaman.
Bukan menggantikan ingatan.
Bukan pula menulis ulang kehidupan seseorang seolah-olah semuanya bisa ditemukan di internet.
Tetapi membantu membuka kembali pintu-pintu arsip yang selama ini tertutup.
Kemudian saya tinggal masuk.
Melihat kembali nama-nama lama.
Mengingat wajah-wajah yang pernah duduk satu meja.
Mengingat kemenangan.
Mengingat kekalahan.
Mengingat partner-partner yang pernah menemani perjalanan.
Dan kadang menemukan cerita yang ternyata sudah hampir saya lupakan.
Seperti Sanya.
Seperti Wroclaw.
Seperti email Presiden WBF yang masih saya simpan.
Pada akhirnya saya sadar:
Yang saya cari sebenarnya bukan daftar prestasi.
Saya sedang mencari kembali perjalanan hidup saya di dunia bridge.
Dan setelah melihat kembali semuanya, saya hanya bisa tersenyum dan berkata:
“Oh… ternyata perjalanan saya sudah sejauh ini.”
Tetapi satu hal belum berubah.
Saya masih:
TUKANG BRIDGE
Dan selama kartu masih dibagikan,
PERMAINAN BELUM SELESAI. ***













