Connect with us

Ekonomi

Rupiah Rabu 19 Agustus 2026: Menguat Pasca BI Tahan Suku Bunga, Esok Masih Fluktuatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar (kurs) rupiah yang dibuka menguat pada perdagangan valuta asing Rabu (19/8/2026) makin menguat saat penutupan setelah Bank Indonesia mengumumkan mempertahankan suku bunga atau BI Rate di level 5,75%. (Foto: Istimewa)

Nilai tukar (kurs) rupiah yang dibuka menguat pada perdagangan valuta asing Rabu (19/8/2026) makin menguat saat penutupan setelah Bank Indonesia mengumumkan mempertahankan suku bunga atau BI Rate di level 5,75%. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses berbalik ke zona hijau pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026) sore, setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%.

Rupiah berhasil menguat 22 poin atau 0,12 persen dan parkir di level Rp17.840 per dolar AS, membaik dibanding posisi sebelumnya di level Rp17.862 per dolar AS.

Sejak pembukaan perdagangan valuta asing, mata uang Garuda sudah dibuka menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.860 per dolar AS.

Bergerak menguat juga Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI yang naik ke level Rp17.844 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.856 per dolar AS.

Penguatan kurs rupiah ini berjalan seirama dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tampil kompak menguat menghadapi keperkasaan greenback.

Advertisement

Mata uang Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling tinggi terhadap dolar AS, sebesar 1,25%. Diikuti yen Jepang yang menguat 0,28%, kemudian dolar Singapura 0,13%, yuan China 0,09%, serta baht Thailand 0,02%. Sedangkan dolar Taiwan relatif stabil.

Sementara  mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS diantaranya peso Filipina melemah 0,05%, ringgit Malaysia turun 0,06%, dan rupee India menurun 0,07%.

Penyebab Rupiah Menguat

Beberapa faktor sentimen domestik dan global menjadi pendorong utama menguatnya nilai tukar rupiah hari ini:

  • Sentimen Bank Indonesia (BI Rate): Langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) memberikan angin segar serta menjaga stabilitas daya tarik aset keuangan domestik bagi investor.
  • Keperkasaan Mata Uang Asia: Rupiah mengekor penguatan mayoritas mata uang Asia lainnya, di mana won Korea Selatan dan yen Jepang memimpin penguatan pasar regional.
  • Sikap ‘Wait and See’ Investor Global: Pelaku pasar cenderung menahan diri sembari mencermati rilis risalah rapat Federal Reserve (The Fed) serta mengamati perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai langkah BI ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dari dampak gejolak global.

Ibrahim seperti dilansir Media Indonesia, menambahkan bahwa kebijakan moneter tersebut juga bertujuan menjaga inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5±1%. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.

Advertisement

Bank Indonesia juga dilaporkan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing. Langkah ini diambil guna memperkuat likuiditas, mengurangi segmentasi di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar valuta asing (valas).

Ibrahim juga mengatakan, investor mencermati pernyataan yang berbeda antara Teheran dan Washington mengenai status jalur pelayaran strategis tersebut. Ketidakpastian tersebut turut mendorong negara-negara di kawasan mencari alternatif untuk menjaga kelancaran distribusi minyak.

Sementara itu, dua perusahaan pelayaran besar asal China menghentikan pengiriman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb akibat konflik di Timur Tengah. Kedua perusahaan tersebut kemudian mengalihkan pengambilan muatan minyak ke wilayah di luar kawasan Teluk.

Di tengah berbagai perkembangan tersebut, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor menantikan risalah rapat Federal Reserve pada Juli 2026 untuk memperoleh gambaran mengenai pandangan para pejabat bank sentral terhadap inflasi dan arah suku bunga.

Prediksi Kamis, 20 Agustus 2026

Advertisement

Memasuki perdagangan Kamis (20/8/2026) esok, mata uang rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun berpeluang melanjutkan penguatan tipis.

  • Proyeksi Rentang Kurs: 800 – Rp17.880 per dolar AS.
  • Faktor Penentu: Pergerakan indeks dolar AS pascalaporan risalah The Fed dan dinamika isu jalur perdagangan minyak Selat Hormuz di kawasan Teluk akan menjadi sentimen penentu arah pergerakan rupiah esok hari.

Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis akan berlangsung fluktuatif. Ia memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement