Connect with us

Ekonomi

Ironi Negeri Agraris: Di Kalteng Bangun Food Estate, Di Wondama Petani Berhenti Tanam Padi

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Sibuk bangun Food Estate di Kalimantan Tengah, para petani di Teluk Wondama Papua Barat terlupakan

Sibuk bangun Food Estate di Kalimantan Tengah, para petani di Teluk Wondama Papua Barat terlupakan

FAKTUALid – Di tengah-tengah semangat besar membangun food estate dengan membuka berhektar-hektar tanah persawahan di Kalimantan Tengah, nun jauh di sana di Papua Barat para petani berhenti menanam padi karena biaya produksi tinggi. Ironi negeri agraris.

Jeritan dan derita para petani di Kampung Sobey Indah, Distrik Teluk Duairi Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat itu menyentak hingar bingar beberapa Kementrian yang beramai-ramai mengarahkan perhatian ke Hamparan, Kalimantan Tengah.

Berlomba-lomba memberikan dukungan pada mefa proyek pembukaan lahan persawahan untuk pengembangan food estate. Kawasan ini diharapkan menjadi lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa dan menjadi salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024.

Haruskah konsentrasi menjalankan perintah Presiden Joko Widodo untuk mencetah sawah di Kalteng itu menutup mata dan telinga pada nasib para petani di daerah lainnya di Tanah Air?

Yang jelas,  pemerintah sejak tahun 2015 melaksanakan program cetak sawah, salah satunya di Teluk Wondama. Petani di daerah itu kini sedang kesulitan memperoleh pupuk.

Advertisement

Menurut laporan antaranews.com, warga transmigran di Kampung Sobey Indah, Distrik Teluk Duairi Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, sebulan terakhir mulai meninggalkan profesi utama sebagai petani sawah karena biaya produksi jauh lebih tinggi dibandingkan menanam produk lain.

Banyak petani sawah yang beralih menanam palawija maupun sayur-sayuran sebab biaya produksi dapat di jangkau.

Jadi Padang Rumput

Kondisi yang dialami oleh petani padi kabupaten Teluk Wondama tersebut membuat anggota DPRD, Jumat, angkat bicara meminta pemerintah daerah selamatkan petani padi Kabupaten Wondama.

Anggota DPRD kabupaten Teluk Wondama, Remran Sinadia di Wasior, mengharapkan Pemkab Teluk Wondama segera mengambil langkah agar para petani kembali bergairah menanam padi sawah.

Advertisement

Dia khawatir hamparan sawah yang cukup luas di Sobey Indah akan dibiarkan terlantar begitu saja.

Karena itu, DPRD minta ada intervensi segera dari pemerintah agar para petani di sana bisa kembali semangat mengolah sawah terutama untuk tanaman padi.

“Jika tidak ada penanganan serius kami kuatir areal persawahan di Sobey akan berubah menjadi padang rumput liar karena ditinggalkan petani,“ ujarnya.

Selain itu, DPRD juga minta Pemkab Wondama segera mencari cara agar Wondama mendapat pasokan pupuk subsidi karena selama ini pupuk subsidi belum pernah masuk ke Wondama.

Tanpa pupuk subsidi biaya produksi menjadi tinggi akibatnya para petani terpaksa membeli sendiri ke Manokwari dengan harga yang jauh lebih mahal.

Advertisement

Kampung Sobey dan Sobey Indah merupakan kawasan pemukiman transmigrasi pertama di Kabupaten Teluk Wondama. Sedikitnya 250 KK transmigran telah ditempatkan di lokasi tersebut sejak 2008 dengan pekerjaan utama sebagai petani sawah.

Kampung Sobey dan Sobey Indah sejak dulu menjadi lumbung pangan Teluk Wondama karena semua petani fokus menghasilkan beras.

Bupati Teluk Wondama Hendrik Mambor yang memberikan keterangan terpisah, mengatakan pihaknya akan segera rapat dengan dinas terkait guna membahas permasalahan petani dan mencari jalan keluarnya.***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement