Ekonomi
IHSG Terbang Pasca – Imlek, Rupiah Terpeleset Tertekan Ketegangan Selat Hormuz

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung tancap gas menguat pada bursa saham Rabu (18/2/2026) sebaliknya nilai tukar (kurs) rupiah tertekan sehingga melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
FAKTUAL INDONESIA: Langkah awal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berbeda dengan rupiah pada perdagangan saham dan valuta pasca usai libur panjang Hari Raya Imlek.
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), IHSG tampil perkasa sejak pembukaan hingga penutupan sehingga terbang menguat ke level 8.310,23.
Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah loyo sejak pembukaan hingga ditutup melemah ke nilai Rp16.884 per dolar AS akibat tertekan gejolak global dan sentimen fiskal domestik.
Baca Juga : Pemprov DKI Jakarta Satukan Semangat Imlek dan Ramadan di Bundaran HI
IHSG Menguat Signifikan
Pasar modal Indonesia mengawali langkah dengan gagah pada perdagangan Rabu (18/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses parkir di zona hijau, ditutup menguat signifikan sebesar 1,19% atau naik 97,95 poin ke level psikologis baru di 8.310,23.
IHSG sudah masuk zona hijau ketika dibuka menguat 23,54 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.235,81. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,87 poin atau 0,23 persen ke posisi 831,54.
Pada akhir perdagangan, IHSG ditutup menguat 97,96 poin atau 1,19 persen ke posisi 8.310,23. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 8,86 poin atau 1,07 persen ke posisi 838,53.
Kenaikan ini menjadi angin segar bagi para investor, mengingat indeks sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya melesat menjelang penutupan sesi kedua.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG Masih Loyo Jelang Long Weekend Imlek, Tertekan Aksi Ambil Untung
Transportasi dan Energi “Ngegas”
Optimisme pasar terlihat dari meratanya penguatan di seluruh sektor saham (11 sektor). Sektor Transportasi menjadi bintang lapangan dengan kenaikan fantastis sebesar 3,25%. Tak ketinggalan, sektor Energi juga ikut membara dengan penguatan 2,45%, disusul oleh sektor barang konsumen non-primer yang naik 2%.
Lonjakan di sektor transportasi disinyalir dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang persiapan bulan suci Ramadhan yang diprediksi jatuh pada esok hari, 19 Februari 2026.
Data Perdagangan Hari Ini:
- Total Transaksi: Rp25,33 Triliun (Sangat likuid!)
- Volume Saham: 52,75 Miliar lembar saham berpindah tangan.
- Kondisi Saham: 454 saham menguat, 216 saham melemah, dan 145 saham stagnan.
- Top Gainers: Saham BIPI terbang hingga 34,52%, disusul PART yang naik 34,33%.
Baca Juga : IHSG dan Rupiah Hari Ini Harus Sama-sama Masuk Zona Merah
Sentimen Global dan Domestik
Penguatan IHSG hari ini sejalan dengan mayoritas bursa di kawasan Asia yang juga menghijau. Nikkei Jepang naik 1,02% dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,52%.
Dari dalam negeri, investor tampaknya mulai melakukan priced-in terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait arah suku bunga, serta merespons positif data kinerja keuangan emiten kuartal IV-2025 yang mulai rilis ke publik.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa penguatan IHSG hari ini dipicu oleh euforia pasar pascalibur panjang. Menurut Ratna seperti dilansir media indonesia, pelaku pasar menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap fundamental ekonomi nasional, antisipasi kinerja emiten tahunan, serta prospek pembagian dividen menjadi faktor pendukung utama.
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas indeks saham Asia yang menguat di tengah momentum libur Imlek dan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurut Pilarmas, seperti dilaporkan beritasatu, kemajuan dialog antara AS dan Iran berpotensi menurunkan premi risiko geopolitik. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan kedua negara telah mencapai kesepahaman awal. Pejabat AS juga mengindikasikan pembicaraan lanjutan akan digelar di Jenewa dalam dua pekan mendatang dengan proposal baru.
Baca Juga : Rupiah Perkasa, IHSG BEI Melesat Tajam, Awas Ancaman Mengintai
Prediksi Besok
Untuk perdagangan esok hari, pelaku pasar diprediksi akan lebih mencermati rilis data suku bunga BI dan momentum hari pertama Ramadhan. Secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan terbatas menuju area resistance selanjutnya di kisaran 8.350, namun waspadai adanya aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek.
Kombinasi Penekan Rupiah
Nilai tukar rupiah harus rela ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (18/2/2026). Mata uang Garuda melemah tipis namun signifikan, tertekan oleh kombinasi panasnya suhu geopolitik global dan sentimen fiskal dalam negeri.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menutup hari dengan koreksi 0,28% atau turun 47 poin ke level Rp16.884 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp16.837.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.884 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.844 per dolar AS.
Rupiah ketika pembukaan perdagangan sudah dibuka melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.855 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.837 per dolar AS.
Baca Juga : IHSG BEI Bangkit Perkasa Tembus Level 8.100, Rupiah Tergelincir Digoyang Dolar
Efek Hormuz dan Sinyal The Fed
Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Pasar keuangan global saat ini sedang dalam mode waspada tinggi akibat ketidakpastian negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Situasi semakin tegang setelah adanya laporan latihan militer di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.
Kondisi ini membuat investor berbondong-bondong memburu safe haven seperti dolar AS. Selain itu, sinyal hawkish dari pejabat The Fed yang mengindikasikan suku bunga AS tetap tinggi dalam waktu lama kian mempersempit ruang gerak rupiah.
Bayang-bayang Defisit APBN
Dari dalam negeri, tekanan datang dari sorotan pasar terhadap pelebaran defisit APBN 2025 yang menyentuh angka 2,92% PDB. Hal ini memicu kekhawatiran terkait terbatasnya ruang fiskal pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi eksternal.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, seperti dilansir kontan, menjelaskan pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan kembali dolar AS yang merespons pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve.
Baca Juga : IHSG BEI Rebound Fantastis, Rupiah Menguat Pimpin Mayoritan Mata Uang Asia
Selain faktor eksternal, investor juga cenderung bersikap hati-hati menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung Kamis (19/2/2026). Pasar menilai arah kebijakan moneter domestik akan sangat menentukan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
“Namun pada umumnya investor masih berhati-hati mengantisipasi RDG BI besok, secara pemerintah dan bank sentral memiliki target pertumbuhan ekonomi yang memerlukan pelonggaran moneter dan fiskal,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Dari eksternal, pelaku pasar juga menantikan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu malam waktu AS. Dokumen tersebut akan memberi petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Dengan pertimbangan di atas, untuk perdagangan Kamis, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.800 – Rp 16.950 per dolar AS.
Ringkasan Kurs Per hari ini (18/2):
Penutupan Bloomberg: Rp16.884 per dolar AS
Kurs Referensi JISDOR: Rp16.884 per dolar AS
Rentang Harian: Rp16.850 – Rp16.903 per dolar AS. ***














