Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Hari Rabu 9 September 2026: Terkoreksi Tipis Ditahan Profit Taking, Besok Konsolidatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Rabu (9/9/2026), di zona merah.

Padahal setelah menguat sehari sebelumnya, IHSG mengawali perdagangan pagi ini dengan bergerak menguat 14,40 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.700,84. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga naik 0,90 poin atau 0,14 persen ke posisi 666,48.

Namun setelah sempat mencoba bertahan di zona hijau dan menyentuh level psikologis 6.700 pada sesi perdagangan, IHSG ditutup melemah tipis sebesar 8,24 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.678,20. Indeks LQ45 turun 1,33 poin atau 0,20 persen ke posisi 664,25.

Aksi profit taking (ambil untung) yang melanda sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) menjadi penahan utama pergerakan indeks domestik di penghujung sesi.

Dengan kembali melemah maka untuk ursa saham regional Asia, IHSG mengikuti jejak indeks Nikkei yang melemah 0,19 persen ke 65.146,00, indeks Hang Seng merosot 0,17 persen ke 25.274,96, dan indeks Straits Times terkoreksi 0,66 persen ke 5.729,63.

Advertisement

Sedangkan yang menguat antara lain indeks Shanghai naik 0,28 persen ke 3.951,51 dan indeks Kospi menanjak 1,40 persen ke 7.051,64.

Faktor Penggerak IHSG Hari Ini

Pelemahan IHSG dan bursa kawasan Asia karena tekanan yang  datang dari kenaikan harga minyak mentah global di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

“Bursa Asia didominasi pelemahan seiring harga minyak kembali naik di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga,” kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus kajiannya,  Rabu.

Menurut Nico seperti dilansir Metrotv, harga minyak mentah global kembali naik. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga global.

Advertisement

Pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan European Central Bank (ECB) pada Kamis, 10 September 2026. Pasar memperkirakan ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Sementara dari dalam negeri, investor masih berhati-hati menjelang rilis data penjualan ritel Juli 2026 pada Kamis. Sebelumnya, penjualan ritel Juni tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut.

Meski demikian, pelemahan IHSG relatif terbatas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid pada kuartal III dan IV-2026 meskipun terjadi sejumlah bencana alam.

Pergerakan IHSG pada perdagangan pertengahan pekan ini dipengaruhi oleh dinamika internal dan sentimen global:

  • Aksi Ambil Untung Sektor Unggulan: Tekanan koreksi didorong oleh aksi lepas saham oleh investor pada sektor perbankan dan saham berbasis konsumer setelah penguatan pada sesi sebelumnya.
  • Fluktuasi Harga Komoditas Global: Kenaikan harga minyak mentah dan energi dunia menahan selera risiko pasar, membuat investor bersikap wait and see.
  • Respon Terhadap Penguatan Rupiah: Laju menguatnya rupiah ke kisaran Rp17.511 per dolar AS menopang arus modal, sehingga koreksi IHSG tetap terbatas dan tidak terperosok lebih dalam.

Prediksi Kamis, 10 September 2026

Memasuki perdagangan Kamis, 10 September 2026, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif (sideways) dengan kecenderungan menguat terbatas. Para pelaku pasar tengah mengantisipasi rilis data inflasi Amerika Serikat (Indeks Harga Konsumen/CPI) yang menjadi acuan kebijakan suku bunga global.

Advertisement
Indikator PasarRincian / Proyeksi
Penutupan Rabu (9/9/2026)6.678,20 (-0,12%)
Area Support6.620 – 6.650
Area Resistance6.720 – 6.750
Proyeksi Pergerakan KamisSideways dengan peluang rebound terbatas

Jika IHSG mampu mempertahankan posisi di atas area support 6.650, peluang untuk kembali menguji level resisten 6.720 tetap terbuka lebar. Investor disarankan memfokuskan strategi buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat di sektor energi dan perbankan yang telah terkoreksi.

Lima Sektor Menguat

Pada awal perdagangan, IHSG sempat menguat sebelum bergerak ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG bertahan di zona merah hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, lima sektor menguat. Sektor transportasi dan logistik memimpin dengan kenaikan 2,19 persen, diikuti sektor industri yang naik 0,89 persen dan sektor barang baku sebesar 0,73 persen.

Sementara itu, enam sektor melemah. Sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 1,47 persen, diikuti sektor barang konsumen nonprimer 1,18 persen dan sektor teknologi 0,97 persen.

Advertisement

Saham dengan penguatan harga terbesar antara lain DPUM, SPAX, ESTI, KOKA, dan MSJA. Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni MEDS, UDNG, LUCY, NATO, dan PPRI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,15 juta kali transaksi dengan volume 32,53 miliar saham dan nilai transaksi Rp16,13 triliun. Sebanyak 325 saham menguat, 337 saham melemah, dan 301 saham tidak bergerak.***

Lanjutkan Membaca
Advertisement