Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Hari Jumat 11 September 2026: Terseret Ketidakpastian Sentimen Global, Masih Cendrung Melemah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup di zona merah, Jumat (11/9/2026), dan diprediksi berpotensi mengalami konsolidasi awal pekan depan. (Foto: AI)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup di zona merah, Jumat (11/9/2026), dan diprediksi berpotensi mengalami konsolidasi awal pekan depan. (Foto: AI)

FAKTUAL INDONESIA: Menjelang akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mampu lepas dari zona merah. Jika kemarin terjun bebas maka hari ini, Jumat (11/9/2026), harus rela terseret melemah oleh ketidakpastian sentiment global seperti lonjakan harga minyak dunia.

Tak pelak lagi, IHSG ditutup melemah 47,96 poin atau 0,73 persen ke level 6.541,38. Sejak pembukaan perdagangan ketika dibuka melemah  36,55 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.552,79,

pergerakan indeks saham domestik bergerak loyo di zona merah sepanjang hari.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 pada pembukaan perdagangan turun 3,28 poin atau 0,50 persen ke posisi 652,70. Saat penutupan indeks LQ45 merosot  6,26 poin atau 0,95 persen ke posisi 649,72.

Hal itu  seiring dengan maraknya aksi lepas portofolio oleh para investor. Aksi ambil untung (profit taking) dari investor asing menjadi salah satu pemicu utama koreksi IHSG. Sentimen global yang dipenuhi ketidakpastian—mulai dari lonjakan harga minyak mentah dunia hingga ekspektasi suku bunga acuan global yang masih bertengger di level tinggi—membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan mengamankan likuiditas menjelang akhir pekan.

Sektor komoditas dan perbankan berkapitalisasi besar (big caps) turut mencatatkan penurunan yang menyeret indeks. Tekanan di pasar reguler juga dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat tertekan terhadap dolar AS di hari yang sama.

Advertisement

Yang agak menenangkan, pelemahan IHSG terpantau sejalan dengan mayoritas bursa saham di Asia. Yang menguat tercatat indeks Straits Times Singapura dengan menanjak 4,27 persen ke 5.694,02.

Sementara yang terkoreksi terpantau  indeks Nikkei Jepang melemah 1,87 persen ke 64.050,00, Shanghai (Tiongkok) melandai 1,18 persen ke 3.888,11, Hang Seng (Hongkong) melorot  0,60 persen ke 24.805,63, dan Kospi (Korea Selatan) merosot 1,76 persen ke 6.909,91.

Pasokan Energi Global

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memicu pelemahan IHSG. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah dunia melampaui level 100 dolar AS per barel.  Perkiraan harga energi akan tetap tinggi dalam jangka panjang, yang berpotensi mengerek inflasi global, muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyataka perang tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Pelaku pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat. Data PPI Final Demand AS tercatat naik menjadi 0,4 persen (mtm) dan 4,6 persen (yoy). Kenaikan inflasi di tingkat produsen ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan, 16 September 2026.

Advertisement

Sedangkan dari dalam negeri, sentimen positif sebenarnya datang dari rilis data Bank Indonesia (BI). Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 tumbuh 1,1 persen (yoy), membaik dibandingkan Juni yang terkontraksi 3,0 persen. Namun, sentimen ini tertutup oleh kekhawatiran meningkatnya beban subsidi energi pada APBN akibat kenaikan harga minyak dunia.

Prediksi Senin, 14 September 2026

“Pada sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas,” kata Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana.

Seperti dikutip dari Kontan, Herditya memproyeksikan, IHSG memiliki level support di 6.440 dan resistance di 6.623 pada pekan depan. Untuk pilihan saham, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham ADMR pada rentang Rp 1.710-Rp 1.765, INET di kisaran Rp 366 – Rp 400, serta NCKL pada rentang Rp 980- Rp 1.060.

Memasuki awal pekan depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih berpotensi mengalami konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas (limited downside).

Advertisement
  • Level Support & Resistance: IHSG diproyeksikan menguji level support terdekat di rentang 500 – 6.520, sementara level resistance diperkirakan berada pada kisaran 6.580 – 6.610.
  • Sentimen Kunci Pekan Depan:
    • Dinamika Harga Komoditas: Investor akan mencermati pergerakan harga minyak mentah global dan komoditas energi lainnya yang berdampak pada saham-saham tambang.
    • Rilis Data Ekonomi: Rencana rilis data ekonomi domestik, termasuk neraca perdagangan serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, akan menjadi jangkar sentimen pasar.
    • Arus Modal Asing (Net Foreign Flow): Pergerakan arus modal asing di saham-saham blue chip akan menjadi indikator penting apakah aksi bargain hunting (berburu saham murah) mulai terjadi.

Pergerakan Bursa Hari Ini

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh atau sebelas sektor saham berakhir di zona merah. Sektor barang konsumen non-primer mencatat penurunan terdalam sebesar 1,38 persen, disusul sektor transportasi & logistik (1,26 persen), dan sektor infrastruktur (1,20 persen).

Saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar terpantau PTSN, SAPX, MITI, SRAJ, dan MBTO. Dalam bagian lain saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni GSMF, MSKY, JAWA, APIC dan UDNG.

Tercatat frekuensi perdagangan saham sebanyak 1.916.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 28,59 miliar lembar saham senilai Rp14,66 triliun. Sebanyak 197 saham naik, 471 saham menurun dan 295 tidak bergerak nilainya. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement