Lifestyle
Jam Tangan Cartier Crash, Harganya Masih di Atas Rp 10 Miliar

Elegan dan menarik dengan bentuk seperti penyok.(ist)
FAKTUAL-INDONESIA : Arloji Cartier Crash dengan cangkang penyok masih dihargai puluhan miliar rupiah. Jam tangan mewah ini memang terlihat sangat menarik dan elegan.
Cartier Crash dengan cangkang penyok ini masih diminati penggemar jam mewah. Pasalnya, jam ini memiliki sejarah panjang.
Jam tangan dengan desain antik ini memang sengaja dibuat seperti jam penyok, padahal sesungguhnya itu hanyalah sebuah desain.
Bagian cangkang terlihat seolah-olah penyok atau tidak simetris, sehingga orang awam bisa salah menafsirkan jika arloji ini rusak akibat terbentur sesuatu.
Sebenarnya, dari mana ide Cartier untuk menciptakan arloji penyok?
Konon, inspirasi pembuat jam dalam mendesain model Crash dimulai pada tahun 1967.
Kala itu, seorang pelanggan membawa arloji Baignoire yang rusak ke butik Cartier di London, Inggris.
Arloji tersebut meleleh hingga bagian cangkangnya tampak penyok karena sang pelanggan mengalami kecelakaan mobil.
Tampilan model Baignoire milik pelanggan yang rusak itu disinyalir menginspirasi para desainer di Cartier untuk membuat jam tangan Crash.
Namun faktanya tidaklah demikian. Dalam sebuah artikel yang dimuat laman Hodinkee, dijelaskan Cartier Crash terlahir dari era “Swinging Sixties” yang terjadi di kota London pada 1960-an.
Hal ini diungkap oleh Francesca Cartier Brickell, cucu perempuan Jean-Jacques Cartier dan penulis buku “The Cartiers: The Untold Story of the Family Behind the Jewelry Empire”.
“Untuk memahami arloji Crash, kita harus kembali ke era Swinging Sixties, ketika ibu kota Inggris menghadapi revolusi mode, musik, dan barang-barang konsumen,” katanya.
“Berlawanan dengan tahun 1950-an yang dipenuhi penghematan dan pengekangan pasca-perang, tahun 1960-an adalah dekade pemberontakan.”
“Kaum muda menantang status quo dan ingin berbeda dari orangtua mereka.”
Mewabahnya subkultur mods dan penggunaan rok mini di jalan-jalan kota London mengubah wajah kota itu dari wilayah pasca perang menjadi pusat mode.
“Dengan latar belakang itu, jelas mengapa desain arloji pemberontak seperti London Crash menangkap imajinasi publik,” kata Brickell.
Kakek Brickell, Jean-Jacques Cartier adalah orang yang mendesain jam tangan Cartier Crash bersama desainer andalannya, Rupert Emmerson.
“Kakek saya mengaku sudah memikirkan untuk mengadaptasi model Oval (salah satu arloji Cartier London terpopuler saat itu) menjadi sesuatu yang baru sesuai era Swinging Sixties yang lebih memberontak,” tutur dia.
Dari situ, tim pembuat jam di Cartier memerlukan beberapa kali percobaan dan membentuk dial asimetris sedemikian rupa agar nantinya pengguna dapat membaca waktu secara akurat.
Pada akhirnya, di tahun 1967, Cartier Crash resmi diperkenalkan ke publik.
Selang beberapa tahun kemudian, Cartier merilis beragam varian Crash dalam jumlah terbatas, seperti edisi London Crash pada 1980-an dan Paris Crash dalam cangkang platinum di awal 1990-an.
Belum lama, platform lelang jam tangan online, Loupe This menjual salah satu contoh Cartier Crash dari tahun 1967 dengan harga mencapai puluhan miliar rupiah.
Hanya dalam kurun waktu tujuh hari, penawaran untuk Cartier Crash ini meningkat drastis dari 50 dollar AS menjadi 1.503.888 dollar AS (lebih kurang Rp 21,7 miliar).
Dengan tambahan premi sebesar 10 persen, total biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan jam tangan ini menjadi 1,65 juta dollar AS atau setara Rp 23,8 miliar.
Nilai Cartier Crash tersebut dua kali lipat melebihi perkiraan awal sebesar 800.000 dollar AS, atau sekitar Rp 11,5 miliar.***














