Connect with us

Ekonomi

Rupiah Hari Kamis 17 September 2026: Anjlok 57 Poin, Jumat Masih Dalam Tekanan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Ketika nilai tukar (kurs) rupiah melemah lagi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Kamis (17/9/2026), mata uang negara-negara di Asia jutru menguat. (Foto: AI/Istimewa)

Ketika nilai tukar (kurs) rupiah melemah lagi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Kamis (17/9/2026), mata uang negara-negara di Asia jutru menguat. (Foto: AI/Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA: Mata uang rupiah kembali harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026). Nilai tukar rupiah ditutup melemah 57 poin (0,32%) ke level Rp17.753 per dolar AS, setelah sempat dibuka merosot 43 poin di posisi Rp17.739 per dolar AS.

Pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia rupiah  juga bergerak melemah ke level Rp17.753 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.712 per dolar AS

Tekanan terhadap mata uang Garuda datang di tengah dinamika kebijakan moneter global yang bergejolak serta konflik ketegangan geopolitik yang masih berlanjut.

Kebijakan Aggresif vs Gesekan Politik

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti beberapa faktor utama yang menekan rupiah hari ini:

  • Kenaikan Suku Bunga The Fed: Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat menaikkan suku bunga Federal Funds Rate ke kisaran 3,75%–4,0%. Langkah ini merupakan kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan kekhawatiran terhadap inflasi dan mengisyaratkan ketatnya kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.
  • Perselisihan Gedung Putih & The Fed: Presiden AS Donald Trump menuntut pemangkasan suku bunga hingga 1% atau lebih rendah, memicu ketegangan mengenai independensi bank sentral AS.
  • Dinamika Timur Tengah: Walau AS dan kelompok Houthi melakukan dialog gencatan senjata yang meredakan kecemasan pasokan minyak, hubungan Washington dan Teheran masih tegang terkait lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sinyal RDG Bank Indonesia

Dari dalam negeri, fondasi ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang cukup baik:

Advertisement
  1. Komitmen Fiskal: Wakil Menteri Keuangan Suhasil Nazara menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas APBN agar tetap menjadi mesin penggerak konsumsi, investasi, dan ekspor masyarakat.
  2. Suku Bunga BI Berpotensi Status Quo: Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September 2026, analis memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan. Kenaikan 100 bps sebelumnya dinilai sudah cukup presisi untuk menahan capital outflow dan menjaga rupiah di rentang Rp17.300–Rp17.800 per dolar AS.

Perbandingan Mata Uang Asia

Di saat rupiah tertekan, mayoritas mata uang kawasan Asia justru parkir di zona hijau:

Mata UangPergerakan
Ringgit Malaysia🟢 +0,25%
Dolar Taiwan🟢 +0,20%
Peso Filipina🟢 +0,16%
Yuan China🟢 +0,06%
Yen Jepang🟢 +0,06%
Baht Thailand🟢 +0,05%
Rupee India🟢 +0,01%
Dolar Hong Kong🟢 +0,01%
Rupiah Indonesia🔴 -0,32%

Prediksi Jumat, 18 September 2026

Mempertimbangkan kuatnya sentimen kenaikan suku bunga AS dan pergerakan pasar menjelang akhir pekan, rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan:

  • Tren Pergerakan: Fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
  • Rentang Proyeksi: 750 – Rp17.790 per dolar AS. ***
Lanjutkan Membaca
Advertisement