Ekonomi
Dampak Amerika Serang Venezuela, IHSG Melesat Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Justru Melemah

Operasi militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerbu Venezuela secara tidak langsung berdampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan saham dan valuta Senin (5/1/2026).
FAKTUAL INDONESIA: Aksi militer Amerika Serikat (AS) menyerbu Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro membawa dampak yang berbeda terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan saham dan valuta Senin (5/1/2026).
Langkah Presiden AS Donald Trump melakukan operasi militer menyerang Venezuela memang tidak berpengaruh langsung terhadap perdagangan saham di Indonesia namun pasar memberikan sentimen positif. Tak pelak lagi IHSG menguat sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan bahkan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa atawa all time high (ATH).
Sebaliknya memanasnya hubungan Amerika dengan Venezuela itu membuat nilai tukar rupiah melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
Baca Juga : Kemlu Khawatirkan, Serangan AS ke Venezuela Jadi Preseden Buruk Hubungan Internasional
IHSG Melesat ke Rekor Baru
Ketika pembukaan perdagangan Senin pagi, IHSG BEI dibuka menguat 30,60 poin atau 0,35 persen ke posisi 8.778,73. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,08 poin atau 0,24 persen ke posisi 854,08.
Memang sempat turun ke level 8.732,319 namun kemudian kembali melaju di zona hijau dengan melonjak dan bahkan ditutup di rekor tertinggi sepanjang masa atawa all time high (ATH). IHSG melonjak 111,06 poin atau 1,27% menjadi 8.859,19. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,77 poin atau 0,91 persen ke posisi 859,77.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai memanasnya hubungan Venezuela dan Amerika Serikat berpotensi menambah tekanan sentimen di pasar keuangan, meskipun dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung. Menurutnya, konflik geopolitik yang melibatkan negara produsen energi tetap perlu dicermati oleh pelaku pasar. Meski Venezuela tidak termasuk dalam jajaran 20 besar produsen minyak mentah dunia, ketegangan yang terjadi tetap dapat mempengaruhi persepsi risiko global, khususnya terhadap pasokan energi dan stabilitas harga komoditas.
“Apa yang akan terjadi hari ini? Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar,” ujar Nico dalam analisa hariannya, Senin, seperti dilansir kompas.com.
Baca Juga : DPR Desak Kemenlu Siapkan Evakuasi WNI di Venezuela
Nico menilai kondisi tersebut dapat menahan laju penguatan indeks dalam jangka pendek. Investor, khususnya investor asing, cenderung bersikap lebih berhati-hati sambil menunggu kejelasan arah konflik, serta respons negara-negara lainnya terhadap langkah Amerika Serikat. “Untuk pasar saham dan obligasi, kami melihat ada potensi koreksi meskipun pelaku pasar dan investor akan cenderung wait and see pada perdagangan hari ini,” paparnya.
Seperti dilansir kontan, investor asing mencatat net buy atau beli bersih Rp 38,87 miliar di seluruh pasar saat IHSG di rekor tertinggi. Net buy asing terutama terjadi di pasar negosiasi, yakni Rp 48,84 miliar. Sedangkan di pasar reguler, investor asing mencatat net sell atau jual bersih sebesar Rp 9,98 miliar.
Saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 154,1 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 124,5 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp 110,6 miliar.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp 415,2 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 271,5 miliar, dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) Rp 83,4 miliar.
Baca Juga : Terbaru, Trump Ancam Lancarkan Operasi Militer ke Kolombia setelah Serang Venezuela dan Incar Kuba
Sebanyak 446 saham menguat, 246 saham terkoreksi, serta 114 saham stagnan. Seluruh indeks utama kompak menguat. IDX30 naik 0,81%, PQ45 naik 0,91%, dan Sri-Kehati naik 0,46%. Kemudian JII dan ISSI masing-masing naik 1,92% dan 1,93%.
Mayoritas sektor saham berakhir di zona hijau pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026. Penguatan tertinggi terjadi pada sektor industri dasar (Basic-Ind) yang naik 2,62%, diikuti sektor energi bertambah 2,31%, sektor transportasi menguat 2,02%, serta sektor barang konsumen siklikal (Cyclical) naik 1,66%.
Sektor kesehatan meningkat 1,62%, sektor industri naik 1,61%, sektor keuangan bertambah 1,42%, infrastruktur menguat 0,96%, barang konsumen non-siklikal (Non-Cyclical) naik 0,82%, dan properti bertambah 0,41%. Sementara itu, sektor teknologi tercatat turun tipis 0,07%.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Sementara itu seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global setelah Amerika melakukan aksi militer dengan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Senin sore. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan melemah 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.740 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.
Baca Juga : Walikota New York Mamdani Mengutuk serangan Amerika terhadap Venezuela
Padahal ketika pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.722 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas global akibat eskalasi geopolitik yang dipicu langsung oleh Amerika Serikat.
“Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa Maduro telah ditahan selama penggerebekan akhir pekan di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada. Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade dan memicu kecaman dari beberapa negara, sementara investor menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional,” tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini seperti dilansir Ipotnews.
Menurutnya, pernyataan Presiden Donald Trump pascaoperasi militer tersebut turut memperburuk sentimen pasar. Trump menyebut penangkapan Maduro sebagai langkah tegas terhadap apa yang ia sebut sebagai rezim kriminal, serta menyatakan AS akan memastikan “transisi yang aman dan tertib” di Venezuela.
Bukan hanya Venezuela, Trump juga mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara lain yang dianggap bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran, bahkan kembali mengulang wacana pengambilalihan Greenland. Ini menciptakan ketidakpastian yang sangat luas.
Baca Juga : Presiden Trump Sebar Foto Maduro, Bukti Presiden Venezuela Itu Sudah Ditangkap
Ibrahim menambahkan, para pelaku pasar khawatir tindakan Washington dapat menjadi preseden bagi negara adidaya lain seperti Tiongkok dan Rusia dalam menyelesaikan konflik geopolitik melalui cara serupa.
Dari sisi eksternal lainnya, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah pemerintah China yang mengumumkan stimulus tambahan untuk mendorong konsumsi domestik. Beijing meluncurkan program senilai 62,5 miliar yuan atau sekitar USD8,94 miliar untuk memperpanjang subsidi barang elektronik konsumen, meski dampaknya terhadap mata uang regional masih terbatas.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari data neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,66 miliar pada November 2025, meningkat dari surplus Oktober 2025 sebesar USD2,39 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun masih berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.740 hingga Rp16.770 per dolar AS,” ungkap Ibrahim. ***














