Olahraga
Yon Mardiono: Tidak Perlu Pelatnas Tenis Meja di Luar Negeri, Lebih Baik Datangkan Sparring

Sekretaris Jenderal Indonesia Pingpong League (Sekjen IPL) Yon Mardiyono. (Foto: Bambang)
FAKTUAL-INDONESIA: Sebagai persiapan regenerasi dan prospek kejayaan tenis meja Indonesia ke depan maka pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games tahun 2025 di Thailand sebaiknya tidak hanya menempa para pemain senior hasil seleksi nasional (Seleknas) Piala Menpora yang berjalan lancar dan sukses di GBK Arena, Senayan, Jakarta, 25 – 29 Mei lalu.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang turun tangan mengambil alih pelaksanaan Pelatnas SEA Games itu sebaiknya juga memasukkan para pemain junior sebagai pelapis.
“Seleknas ini bagus karena menjadi langkah obyektif dalam pemilihan pemain untuk pembentukan tim nasional. Sebelumnya kan dalam menghadapi perhelatan SEA Games pemilihan pemain tidak obyektif. Comot sana comot sini. Jadi ini langkah bagus yang obyektif untuk mencari pemain untuk Pelatnas,” kata mantan pemain nasional yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Indonesia Pingpong League (Sekjen IPL) Yon Mardiyono di sela-sela pertandingan hari terakhir Seleknas Piala Menpora, Kamis (29/5/2025) malam.
Menyambut langkah Kemenpora untuk kebangkitan prestasi tenis meja Indonesia itu, Yon mengusulkan, agar segera untuk menggelar Pelatnas usai Seleknas. Selain menentukan pemain yang dipanggil ke Pelatnas tentunya perlu juga segera menunjuk kepala pelatih dengan obyektif.
Baca Juga : Sambut Gembira dan Dukung Tenis Meja Piala Menpora 2025, Ketum PB PTMSI Peter Layardi Lay Kirim Atlet Pelatnas Jangka Panjang Putra Putri Jadi Peserta
“Setelah pelatih kepala ditunjuk maka pelatih-pelatih dari pemain yang masuk Pelatnas juga dipanggil dan diajak untuk memberikan masukan serta bahkan membantu di Pelatnas. Mereka juga bisa diajak untuk memberikan masukan meskipun keputusan dan tanggung jawab tetap pada pelatih kepala,” ujar Yon yang juga pendiri dan pembina Onic Sport Club.
Dalam perbincangan dengan para awak media, sebelum melangkah lebih jauh soal persiapan tim SEA Games, Yon secara khusus mengusulkan agar di Pelatnas nanti juga bisa digembleng para pemain muda atau junior. Dia menyatakan, jika nanti yang dipilih 8 pemain putra dan 8 putri untuk Pelatnas maka perlu dilapis dengan pemain junior 4 putra dan 4 putri.
“Ini sebagai langkah penyiapan regenreasi dan prospek ke depan. Semangat kebangkitan tenis meja Indonesia melalui Seleknas ini harus dijadikan momentum menyiapkan langkah ke depan juga. Dengan masuknya para pemain junior ini maka kita akan memiliki pemain-pemain muda yang mumpuni ke depannya,” tegasnya.
Ditegaskannya, pemain junior juga harus dikasi ruang karena yang senior sekarang untuk dunia tidak bisa berbuat banyak. “Tapi bukan berarti kita pesimis. Kita harus mengukur lebih jauh. Jangka menengah kita ambil yang 19 tahun, jangka panjang yang 12 – 13 tahun,” tuturnya.
Evaluasi Lewat Turnamen
Menurut Yon, untuk persiapan SEA Games Thailand, tidak perlu melakukan Pelatnas di luar negeri. Dia mengusulkan lebih baik tetap basecamp Pelatnas di dalam negeri namun perlu diperkuat dengan mendatangkan pemain sparring dari luar negeri. Langkah ini, katanya, selain lebih hemat dari sisi biaya juga akan bisa lebih efektif karena bisa memenuhi kebutuhan yang diprogramkan di Pelatnas.
Baca Juga : Simulasi Piala Sudirman 2025 di Pelatnas Cipayung: Diwarnai Mati Lampu, Tim Rajawali Sukses Ungguli Garuda
“Misalnya kita Pelatnas di luar negeri belum tentu apa yang kita butuhkan bisa dipenuhi. Kita akan di atur mereka. Sebaliknya kalau mengundang pemain ke sini maka kita yang atur. Itu pengalaman saya,” kata Yon.
Sebaliknya, ujar Yon, kalau mengundang pemain ke Indonesia, selain akan lebih murah juga mereka bisa diminta untuk memberikan latihan yang dibutuhkan. Karena itu sparring itu tidak bisa menetap lima bulan penuh tetapi diganti setiap bulan karena pingpong itu yang pertama memang bagus tapi setelah sebulan sudah biasa lagi.
“Selain itu kita bisa menebarkan ilmu mereka bukan saja kepada atlet Pelatnas tetapi juga ke orang-orang yang suka melihat Pelatnas. Ini kan bisa jadi contoh bagi yang melihat atlet luar itu,” ungkapnya.
Dia juga menekankan Pelatnas itu sifatnya evaluasi sehingga tidak perlu ada seleksi lewat pertandingan lagi diantara pemain yang dibina. Kalau dalam lima bulan kita seleksi maka tidak akan murni karena masing-masing pemain menyimpan ilmunya yang baru akan dikeluarkan saat seleksi. Jadi saat Pelatnas hanya saling intip aja. Jangan sampai saat pelatnas sembunyi-sembunyi dan saat seleksi baru dikeluarkan.
“Padahal musuh kita orang luar maka di Pelatnas harus habis-habisan dalam latihan sehingga benar-benar siap nantinya melawan mereka,” ujarnya.
Kalau seleksi pemain lagi hasilnya akan sama karena pemainnya itu-itu saja. Tidak bisa jadi acuan untuk melawan luar negeri. Karena mereka sudah saling bertemu. Yang masuk 8 besar kekuatannya tidak jauh berbeda.
Baca Juga : Kemenpora Kucurkan Rp420,2 Miliar untuk Pelatnas Jangka Panjang 13 IOCO, Sepakbola Ungguli Cabor Emas Olimpiade
Sebagai wahana untuk mengevaluasi perkembangan pemain yang nantinya akan dipilih masuk tim inti, Yon menyatakan bisa dilakukan melalui banyak mengikuti pertandingan di evenat-event internasional.
“Misalnya nanti ada event IPL Asia Tenggara di Thailand, Juli. Kemudian ada UAH International Super Series V 2025, Juni, yang akan diikuti pemain-pemain ASEAN. Itu bisa jadi evaluasi,” terangnya.
Dengan memperbanyak ikut turnamen internasional juga bisa diuji mental pemain dalam menghadapi pemain luar di luar negeri. Tidak hanya bagus saat bertanding di dalam negeri melawan pemain sendiri.
“Kita ingin pemain yang juga tangguh bersaing di luar negeri. Bukan hanya jago kandang,” jelasnya. ****
.














