Olahraga
Dari Surabaya Menuju Mamuju, Rantai Sejarah Kongres GABSI dan Kebangkitan Bridge Indonesia

Perjalanan GABSI tidak hanya diukur dari jumlah kongres atau pergantian kepengurusan, Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu kekuatan bridge Asia. (Foto : Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Ada teman yang meminta saya menuliskan sejarah Kongres GABSI sejak awal berdirinya di Surabaya pada tahun 1953 hingga Kongres GABSI XXVII yang akan diselenggarakan di Mamuju, Sulawesi Barat, pada 20–21 September 2026. Permintaan itu sederhana, tetapi ternyata membawa saya pada perjalanan panjang menelusuri kembali jejak organisasi yang telah menjadi rumah bagi para pemain bridge Indonesia selama lebih dari tujuh dekade.
Sebagai orang yang mulai aktif dalam kepengurusan PB GABSI sejak sekitar tahun 1980-an, saya memiliki banyak pengalaman dan catatan pribadi mengenai perkembangan organisasi pada periode tersebut. Namun untuk masa-masa awal, tulisan ini disusun berdasarkan buku sejarah GABSI, arsip organisasi, berbagai dokumen yang masih tersimpan, serta cerita para senior yang menjadi saksi perjalanan panjang bridge Indonesia.
Baca Juga : Masyarakat Bridge Sumringah, Banyak Tokoh Berminat Jadi Calon Ketum PB Gabsi
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai karya akademis yang sempurna. Sebaliknya, tulisan ini saya persembahkan sebagai catatan sejarah yang diharapkan dapat menjadi warisan bagi generasi penerus bridge Indonesia agar mereka memahami bagaimana organisasi ini dibangun dan dipelihara oleh begitu banyak tokoh yang mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya demi kemajuan olahraga bridge di Indonesia.
Lahirnya GABSI di Kota Pahlawan
Permainan bridge sebenarnya telah dikenal di Indonesia sejak masa Hindia Belanda. Namun aktivitas tersebut masih terbatas pada komunitas-komunitas tertentu dan belum memiliki organisasi nasional.
Setelah Indonesia merdeka, muncul kebutuhan untuk membentuk organisasi yang dapat menyatukan para pemain bridge di seluruh tanah air. Momentum itu akhirnya terwujud pada tanggal 12 Desember 1953 di Surabaya.
Pada hari bersejarah tersebut berdirilah Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI).
Baca Juga : Harus Menjadi Titik Balik, Catatan Kritis Menjelang Kongres GABSI Mamuju
Tokoh utama yang memprakarsai pendirian organisasi ini adalah Willy Th. Roring, seorang perwira TNI Angkatan Laut yang juga memiliki kecintaan besar terhadap olahraga bridge. Bersama tokoh-tokoh seperti G.A. Muntu dan H.V. Muntu, ia meletakkan fondasi organisasi yang hingga kini tetap berdiri kokoh.
Surabaya kemudian dikenang sebagai kota kelahiran bridge nasional Indonesia.
Menjadi Bagian dari Keluarga Bridge Dunia
Perkembangan GABSI berlangsung cukup pesat. Dalam waktu relatif singkat, organisasi ini mulai menjalin hubungan dengan komunitas bridge internasional.
Keanggotaan dalam organisasi bridge kawasan Asia dan dunia membuka kesempatan bagi pemain Indonesia untuk mengikuti berbagai kejuaraan internasional. Melalui hubungan tersebut, Indonesia memperoleh banyak manfaat, mulai dari sistem pertandingan yang lebih modern, pendidikan pemain, pelatihan wasit, hingga pengembangan organisasi.
Langkah ini menjadi fondasi penting yang kemudian mengantarkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan bridge utama di Asia.
Baca Juga : Terpilih Aklamasi Pimpin Pengkot Gabsi Jakpus, Didi Andries Fokus Kembangkan dan Tingkatkan Prestasi Bridge Jatung Jakarta
Ketua Umum PB GABSI dari Masa ke Masa
Keberhasilan GABSI mempertahankan eksistensinya selama lebih dari 70 tahun tidak terlepas dari kepemimpinan para tokoh nasional yang pernah memimpin organisasi ini.
No Ketua Umum PB GABSI Periode
1 Willy Th. Roring 1953–1961
2 Kusno Utomo 1962–1964
3 Ny. Dr. Harustiati Soebandrio 1964–1966
4 Dr. G. Rambitan 1966–1968
5 Mayjen TNI P. Sobiran 1968–1972
6 Letjen TNI Kemal Idris 1972–1974
7 Prof. Dr. Soenawar Sukowati 1974–1978
8 Marsda TNI Wisnu Djadjengminardo 1978–1982
9 H.N. Sumual 1982–1986
10 Tulus Supranoto, SH 1986–1990
11 Amran Zamzami 1990–1994
12 Wiranto 1994–1998
13 Wiranto 1998–2002
14 Prof. Dr. Miranda S. Goeltom 2002–2006
15 Wimpy S. Tjetjep 2006–2010
16 Dahlan Iskan 2010–2014
17 Eka Wahyu Kasih 2014–2018
18 Prof. Dr. Miranda S. Goeltom 2018–2022
19 H. Syarif Bastaman, SH, MH 2022–2026
Daftar ini menunjukkan bahwa bridge Indonesia sejak lama memperoleh dukungan dari kalangan militer, akademisi, ekonom, profesional, dan pejabat negara.
Histori Kongres GABSI
Baca Juga : Big Question Menuju Goa, PB Gabsi Di Mana? Indonesia Mau Bertandingan atau Sekadar Jadi Penonton?
Kongres merupakan forum tertinggi organisasi. Di sinilah arah pembinaan bridge nasional ditentukan, pengurus dipilih, serta berbagai keputusan strategis organisasi ditetapkan.
Berikut adalah histori Kongres GABSI sejak pertama kali diselenggarakan:
No Kongres Tahun Kota Penyelenggara
1 I 1955 Surabaya
2 II 1957 Yogyakarta
3 III 1959 Surabaya
4 IV 1961 Malang
5 V 1963 Bandung
6 VI 1966 Jakarta
7 VII 1967 Medan
8 VIII 1969 Semarang
9 IX 1970 Denpasar
10 X 1972 Ujungpandang
11 XI 1974 Magelang
12 XII 1976 Yogyakarta
13 XIII 1978 Surabaya
14 XIV 1980 Bandung
15 XV 1982 Ujungpandang
16 XVI 1984 Mataram
17 XVII 1986 Cisarua, Bogor
18 XVIII 1990 Balikpapan
19 XIX 1994 Banda Aceh
20 XX 1998 Mataram
21 XXI 2002 Palembang
22 XXII 2006 Jakarta Selatan
23 XXIII 2010 Batam
24 XXIV 2014 Manado
25 XXV 2018 Padang
26 XXVI 2022 Surakarta
27 XXVII 2026 Mamuju
Baca Juga : Mari Kita Jujur, GABSI di Persimpangan: Berani Berubah atau Pelan-Pelan Hilang?
Tabel ini memperlihatkan bagaimana GABSI secara konsisten membawa forum tertinggi organisasi ke berbagai wilayah Indonesia. Tidak banyak organisasi olahraga nasional yang mampu menjaga tradisi demokrasi organisasi secara berkesinambungan selama lebih dari tujuh dekade.
Kongres-Kongres yang Menjadi Tonggak Sejarah
Surabaya 1955
Kongres pertama setelah pendirian GABSI menjadi langkah awal konsolidasi organisasi nasional.
Medan 1967
Menunjukkan bahwa perkembangan bridge nasional tidak hanya berpusat di Pulau Jawa.
Cisarua 1986
Menjadi penanda berakhirnya era kepemimpinan H.N. Sumual dan dimulainya masa kepemimpinan Tulus Supranoto.
Banda Aceh 1994
Salah satu kongres paling bersejarah dalam perjalanan GABSI. Dalam kongres ini Jenderal Wiranto terpilih sebagai Ketua Umum PB GABSI. Demi kepentingan organisasi, Amran Zamzami bersedia mendampingi sebagai Ketua Harian.
Batam 2010
Mencerminkan semangat keterbukaan Indonesia sebagai kota perbatasan yang berkembang pesat.
Manado 2014
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern GABSI, terjadi persaingan terbuka lebih dari satu calon Ketua Umum. Hal ini menunjukkan semakin matangnya demokrasi organisasi.
Padang 2018
Baca Juga : Visi Gabsi 2030 Mimpi Tukang Bridge? Roadmap Masa Depan: Dari Organisasi Menjadi Ekosistem
Menghasilkan berbagai penyempurnaan AD/ART yang menjadi fondasi modernisasi organisasi.
Surakarta 2022
Menandai kebangkitan aktivitas bridge nasional pasca pandemi Covid-19.
Mamuju 2026
Untuk pertama kalinya Provinsi Sulawesi Barat menjadi tuan rumah Kongres GABSI. Sebuah tonggak baru dalam upaya pemerataan pembangunan bridge nasional.
Prestasi Indonesia di Panggung Dunia
Perjalanan GABSI tidak hanya diukur dari jumlah kongres atau pergantian kepengurusan.
Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu kekuatan bridge Asia.
Atlet-atlet Indonesia berulang kali meraih gelar juara dalam berbagai kejuaraan Asia Pacific Bridge Federation, Southeast Asian Games, Asian Games, serta berbagai turnamen internasional lainnya dan bahkan Kejuaraan Dunia resmi dari World Bridge Federation.
Nama-nama seperti Henky Lasut, Eddie Manoppo, Denny Sacul, Franky Karwur dan banyak pemain lainnya telah mengharumkan nama Indonesia di dunia bridge internasional.
Baca Juga : Mengakhiri Auto Pilot, Memulai Akselerasi: Catatan Konstruktif Menjelang Kongres PB Gabsi XXVII – September 2026, Mamuju
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya memiliki organisasi yang kuat, tetapi juga tradisi prestasi yang panjang.
Peran GABSI dalam Pembinaan
Di luar penyelenggaraan kompetisi, GABSI terus berupaya membangun masa depan bridge Indonesia melalui berbagai program pembinaan:
- Pembinaan atlet junior dan pelajar.
- Festival Bridge Pelajar Nasional.
- Pelatihan guru dan pelatih bridge.
- Sertifikasi pelatih dan wasit.
- Pengembangan bridge masuk sekolah.
- Pembinaan atlet daerah.
- Pengembangan bridge online.
- Digitalisasi sistem pertandingan.
- Modernisasi administrasi organisasi.
Baca Juga : Pembenahan Menyeluruh, Masukan Buat Kongres Gabsi XXVII, Mamuju, Sulawesi Barat – September 2026
Program-program tersebut menjadi fondasi regenerasi yang sangat penting bagi keberlangsungan bridge Indonesia.
Mamuju: Babak Baru Sejarah GABSI
Ketika para delegasi berkumpul di Mamuju pada September 2026, mereka tidak hanya datang untuk memilih Ketua Umum baru atau menyusun program kerja empat tahun ke depan.
Mereka sesungguhnya sedang melanjutkan estafet sejarah yang telah dimulai oleh para pendiri GABSI di Surabaya pada tahun 1953.
Kongres XXVII akan menentukan arah organisasi menuju tahun 2030 dan seterusnya. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks: regenerasi pemain, transformasi digital, pembinaan usia muda, peningkatan prestasi internasional, serta perjuangan agar bridge semakin diakui sebagai olahraga intelektual yang memiliki nilai pendidikan tinggi.
Baca Juga : Malang dalam Sejarah Bridge Indonesia: Dari HUT Gabsi ke-50 hingga BTC Bridge Open
Penutup
Dari Surabaya tahun 1953 hingga Mamuju tahun 2026, perjalanan GABSI bukan sekadar catatan pergantian pengurus atau perpindahan lokasi kongres.
Ia adalah kisah tentang dedikasi ribuan insan bridge Indonesia yang selama lebih dari tujuh puluh tahun menjaga, merawat, dan mengembangkan olahraga ini dengan penuh kecintaan.
Generasi pendiri telah meletakkan fondasi.
Generasi berikutnya memperkuat bangunan.
Kini tanggung jawab itu berada di tangan kita untuk memastikan bahwa generasi yang akan datang tetap memiliki rumah bernama GABSI.
Karena sejarah yang besar tidak pernah dibangun oleh satu orang atau satu generasi. Sejarah besar selalu merupakan hasil kerja estafet yang diteruskan dari tangan ke tangan, dari hati ke hati, dan dari kongres ke kongres.
Dari Surabaya menuju Mamuju, estafet itu terus berjalan. Dan semoga akan terus berlanjut untuk puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. ***














