Connect with us

Ekonomi

Rupiah Kamis 28 Mei 2026: Ambles Dalam Terjepit Sentimen Global dan Domestik, Awas Lewat Rp18.000

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Dolar Amerika Serikat (AS) semakin kuat menekan rupiah dalam perdagangan valuta asing sehingga Kamis (28/5/2026) mata uang Garuda kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa. (AI/Ist)

Dolar Amerika Serikat (AS) semakin kuat menekan rupiah dalam perdagangan valuta asing sehingga Kamis (28/5/2026) mata uang Garuda kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa. (AI/Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Nilai tukar rupiah kembali harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup ambles melemah terjepit kombinasi sentimen geopolitik global yang memanas dan sorotan terhadap kondisi fiskal domestik.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah sore ini parkir di level Rp17.846 per dolar AS, atau mengalami depresiasi sebesar 44,5 poin (0,25%) dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Sepanjang hari, tekanan terhadap rupiah bahkan sempat menyeretnya menyentuh level psikologis baru di Rp17.906 per dolar AS pada menjelang siang hari.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) turut mencatatkan pelemahan ke level Rp17.789 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya di Rp17.743 per dolar AS.

Dengan posisi penutupan hari ini maka rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa. Bahkan bila bila menengok posisi siang hari tadi maka rekor terlemah paling buruk sudah tersentuh Rp17.906 perdolar AS.

Advertisement

Untuk perdagangan valuta asing esok, Jumat (29/5/2026), rupiah belum aman karena diperkirakan akan tetap melemah. Posisi rekor baru terlemah berada di depan mata dengan level Rp18.000 perdolar AS.

Terjepit Sentimen Global dan Domestik

Para analis menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh dua faktor utama, baik dari luar maupun dalam negeri:

  • Faktor Eksternal (Ketegangan Timur Tengah & Yield Tinggi): Indeks dolar AS (DXY) kembali perkasa di atas level 99 menyusul laporan eskalasi ketegangan baru di Timur Tengah setelah AS melancarkan serangan udara ke fasilitas militer Iran. Kondisi ini memicu sentimen risk-off di kalangan investor global, yang berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke mata uang safe-haven. Di saat yang sama, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 4,4% hingga 4,5% memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
  • Faktor Internal (Defisit APBN & Transaksi Berjalan): Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit) akibat menyusutnya surplus neraca perdagangan. Selain itu, pelaku pasar mencermati realisasi defisit APBN kuartal I-2026 yang telah menyentuh angka Rp240 triliun (sekitar 0,93% dari PDB), serta penurunan cadangan devisa dari US$151,9 miliar pada Februari menjadi US$148,2 miliar per akhir Maret 2026.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi seperti dilansir kompas, mengatakan, faktor eksternal dan internal menekan rupiah sehingga melemah pada hari ini. Dari sisi eksternal, faktor perang antara Iran dan AS yang semakin memanas setelah AS melakukan serangan baru ke Iran memicu potensi penyerangan balasan dari Iran. Kemudian Presiden AS Donald Trump juga melayangkan ancaman akan menyerang Oman sebagai negara negosiasi yang mendukung kebijakan perdamaian antara Iran dan AS.

Di Eropa, Ukraina tengah meminta bantuan ke AS untuk melawan Rusia yang telah menyerang ibu kotanya, Kyiv dengan ratusan drone dan rudal.

“Ini yang sebenarnya membuat ketegangan tersediri strategi politik meningkat tajam baik di Timur Tengah maupun di Eropa Timur,” ujarnya kepada media, Kamis.

Advertisement

Menurut Ibrahim, meningkatnya tensi geopolitik membuat harga minyak mentah dunia kembali melonjak. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan disebut telah bergerak di kisaran 96 dolar AS per barrel. Kenaikan harga minyak tersebut dinilai berpotensi memicu inflasi global, termasuk di AS. Situasi itu memperbesar ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

“Pada hari Rabu Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari dia mengatakan bahwa kekhawatiran utama Bank Sentral saat ini adalah inflasi yang lebih tinggi daripada kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk,” ungkapnya.

Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi itu kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipicu tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, hingga kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.

Dia juga menyoroti adanya perpindahan dana masyarakat ke instrumen valuta asing di tengah ketidakpastian pasar. Selain itu, sentimen investor disebut turut dipengaruhi berbagai isu tata kelola program pemerintah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Advertisement

“Kemudian dibarengi juga dengan manajemen yang bobrok di pemerintahan tentang masalah MBG (makan bergizi gratis), kemudian yang terakhir adalah Koperasi Merah Putih ya ini membuat negara mengalami kerugian puluhan triliun,” imbuhnya.

Namun, pelemahan rupiah hari ini masih lebih baik dibanding prediksi Ibrahim. Dia semua memperkrakan rupiah bakal ditutup di level Rp 17.900 per dollar AS hari ini.

Sementara pada perdagangan esok, Jumat (29/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan mendekati level Rp 18.000 per dollar AS.

“Kita melihat bahwa dalam perdagangan di hari ini ya libur nasional kemungkinan besar 100 poin ya rupiah akan melemah bisa saja dalam perdagangan di sampai sore ini rupiah akan melemah di Rp 17.900,” tuturnya.

Respons Pemerintah

Advertisement

Merespons tren pelemahan ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa dari sisi fundamental ekonomi, kondisi Indonesia sebenarnya masih relatif aman. Pemerintah menegaskan situasi ini sudah masuk dalam simulasi risiko fiskal mereka, termasuk skenario harga minyak mentah dunia yang tinggi.

Pemerintah bersama Bank Indonesia memastikan akan terus memantau pasar obligasi domestik agar tetap kondusif dan menyiapkan langkah-langkah strategis terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement