Connect with us

Ekonomi

Prediksi IHSG BEI Jumat 29 Mei 2026: Menanti Badai Rebalancing MSCI dan Efek Rupiah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Setelah libur dari 27 - 28 Mei 2026, menarik untuk mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (29/5/2026), mampu bangkit menguat atau justru tetap terperosok di zona merah? (Ist)

Setelah libur dari 27 – 28 Mei 2026, menarik untuk mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (29/5/2026), mampu bangkit menguat atau justru tetap terperosok di zona merah? (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Pasar saham Indonesia besok, Jumat (29/5/2026), kembali dibuka setelah libur selama dua hari, 27 dan 28 Mei. Bursa besok juga perdagangan terakhir pekan ini dan bulan Mei sebelum dibuka kembali Selasa (2/6/2026).

Akankah  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan tampil segar untuk bangkit dari posisi melemah saat ditutup Selasa lalu? Ataukah justru tetap loyo sehingga akan tetap berkubang di zona merah?

Jawaban yang menarik untuk dinantikan meskipun dengan rasa khawatir mengingat hari ini, Kamis (28/5/2026), nilai tukar (kurs) rupiah kembali mendapat pukulan dari sentiment global dan domestic. Rupiah harus melemah ambles ke posisi terlemah sepanjang sejarah yang baru Rp17.846 per dolar AS.

Setelah sempat ditutup melemah di level 6.130,19 akibat aksi ambil untung (profit taking) sebelum libur panjang Hari Raya Idul Adha, IHSG  diproyeksikan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas di kisaran 6.000 hingga 6.200.

Perdagangan esok hari dipastikan menarik perhatian besar karena bertepatan dengan tanggal efektif pelaksanaan (effective date) dari penyesuaian portofolio berkala alias rebalancing indeks bergengsi Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026.

Advertisement

Tiga Sentimen Penggerak Pasar

Para analis mencatat ada tiga sentimen utama yang akan menguji ketahanan indeks di akhir pekan:

  • Puncak Volatilitas Rebalancing MSCI: Jumat (29/5) menjadi momen penting bagi para manajer investasi pasif global untuk merestrukturisasi portofolio mereka sesuai dengan bobot baru MSCI. Mengingat jumlah konstituen asal Indonesia dipangkas dari 18 menjadi 11 saham, pasar mengantisipasi adanya fluktuasi volume transaksi yang tinggi menjelang prapemutupan (pre-closing). Namun, praktisi pasar modal Hans Kwee menilai tekanan jual non-fundamental ini justru bisa menjadi titik nadir (bottom) penurunan IHSG sebelum kembali bangkit mencerminkan fundamentalnya yang kokoh.
  • Kurs Rupiah yang Masih Membayang: Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat mendekati area sensitif masih menjadi batu sandungan bagi selera risiko investor asing. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah akibat musim pembagian dividen ke luar negeri (repatriasi) serta tingginya bunga acuan global berpotensi memicu volatilitas jangka pendek pada pergerakan indeks.
  • Tensi Panas Timur Tengah: Dari panggung global, aksi militer Amerika Serikat di wilayah Iran selatan terus memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi dan keamanan dunia. Kondisi risk-off ini membuat investor cenderung defensif dan beralih ke aset aman (safe haven).

Analisis dan Rekomendasi Saham

Meski dibayangi sejumlah sentimen berat, secara teknikal laju IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Menurut riset Phintraco Sekuritas, indikator Stochastic RSI telah memperlihatkan sinyal pembalikan arah (reversal) menuju area pivot, dibarengi dengan penyempitan histogram negatif pada MACD. Hal ini membuka peluang konsolidasi yang sehat bagi indeks jika mampu bertahan di atas level psikologis 6.000.

Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, memperkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (29/5/2026) masih berada dalam rentang terbatas.

“IHSG diperkirakan bergerak dengan support di kisaran 5.950-6.000 dan resistance di area 6.200-6.286,” ujarnya seperti dilansir tradingview.

Advertisement

Sementara itu, MNC Sekuritas memprediksi bahwa area koreksi IHSG yang dapat diperkirakan berikutnya akan menguji ke 5.899 sekaligus area support-nya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada akhir pekan ini diperkirakan masih akan cenderung volatil, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta dinamika geopolitik global.

Untuk menghadapi volatilitas di akhir pekan, sejumlah sekuritas menyarankan investor tetap cermat memilah saham-saham dengan fundamental likuid atau emiten defensif. Beberapa saham yang direkomendasikan para analis untuk dicermati dalam perdagangan Jumat (29/5) antara lain:

  • BBTN (PT Bank Tabungan Negara Tbk)
  • BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk)
  • BRPT (PT Barito Pacific Tbk)

Saham berbasis komoditas emas seperti MDKA atau instrumen EMAS sebagai pelindung nilai ditengah ketidakpastian geopolitik. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement