Olahraga
Jelang Kongres GABSI 2026: Tantangan Organisasi Ke Depan, Bukan Sekadar Memilih Ketua Umum, tetapi Membangun Sistem yang Bisa Bertahan

Tantangan sesungguhnya organisasi PB GABSI 2026–2030 adalah membangun ekosistem bridge Indonesia yang sehat dan berkelanjutan. (Foto: Istimewa)
Oleh: Bert Toar Polii
FAKTUAL INDONESIA: Menjelang Kongres XXVII PB GABSI di Mamuju pada 20–21 September 2026, perhatian keluarga besar bridge Indonesia tentu tertuju pada pertanyaan siapa yang akan dipercaya menjadi Ketua Umum PB GABSI periode 2026–2030.
Tim Penjaringan dan Penyaringan telah menetapkan dua calon resmi, yaitu Dr. Ir. Isradi Zainal dan Verdianto Iskandar Bitticaca.
Keduanya telah menawarkan gagasan mengenai modernisasi organisasi, digitalisasi, pembinaan, kompetisi nasional dan peningkatan prestasi.
Namun, bagi saya, ada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang menang dalam Kongres.
Pertanyaannya adalah:
Organisasi seperti apa yang ingin kita bangun setelah Kongres Mamuju?
Sebab Ketua Umum hanya satu orang.
Pengurus akan berganti.
Tetapi sistem organisasi harus tetap hidup.
Dan justru di sinilah tantangan terbesar PB GABSI 2026–2030.
- Mengubah Organisasi dari Berbasis Figur Menjadi Berbasis Sistem
Ini mungkin tantangan paling mendasar.
Selama ini banyak program organisasi olahraga sangat bergantung pada siapa yang menjadi Ketua Umum, siapa yang menjadi pengurus dan siapa yang berada di balik sebuah program.
Akibatnya, ketika kepengurusan berganti, tidak jarang program yang sudah berjalan ikut berhenti.
Menurut saya, pola seperti ini harus mulai ditinggalkan.
PB GABSI membutuhkan sistem yang tetap berjalan siapa pun Ketua Umumnya.
Contohnya sederhana.
Kalau Liga Bridge Indonesia dianggap penting, maka liga jangan menjadi program milik seorang Ketua Umum.
Liga harus menjadi sistem kompetisi nasional.
Kalau database pemain dianggap penting, database tersebut harus tetap digunakan oleh kepengurusan berikutnya.
Kalau sistem Master Point diperbaiki, jangan kembali ke sistem lama hanya karena pengurus berganti.
Kalau program pembinaan usia muda berhasil, harus ada mekanisme yang menjamin keberlangsungannya.
Dengan demikian, setiap Ketua Umum berikutnya tidak perlu memulai dari nol.
- Membangun Tata Kelola yang Profesional
Bridge Indonesia sudah berkembang jauh.
Kita memiliki pemain berprestasi, pelatih, TD, klub, Pengprov, Pengkab/Pengkot dan komunitas yang tersebar di berbagai daerah.
Tetapi organisasi modern membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang yang mau bekerja.
Dibutuhkan tata kelola yang jelas.
Misalnya:
siapa melakukan apa;
siapa bertanggung jawab kepada siapa;
bagaimana keputusan dibuat;
bagaimana anggaran digunakan;
bagaimana program dievaluasi;
bagaimana laporan disampaikan kepada anggota;
dan bagaimana keberhasilan sebuah program diukur.
Transparansi dan akuntabilitas tidak boleh hanya menjadi slogan.
Harus ada mekanisme yang membuat anggota dapat melihat bahwa organisasi memang bekerja.
- Digitalisasi Jangan Berhenti pada Website dan Media Sosial
Kedua kandidat sama-sama memberikan perhatian pada digitalisasi dalam visi mereka. Isradi menekankan organisasi profesional dan berbasis digital, sementara Verdianto antara lain menawarkan digitalisasi administrasi dan basis data nasional.
Menurut saya, ini adalah langkah yang sangat penting.
Tetapi digitalisasi jangan hanya berarti membuat website baru atau lebih aktif di media sosial.
Yang dibutuhkan adalah Digital GABSI Ecosystem.
Bayangkan kalau suatu hari PB GABSI memiliki satu database nasional yang berisi:
Pemain → Klub → Pengprov → Pelatih → TD → Wasit → Turnamen → Hasil → Master Point → Prestasi.
Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk:
seleksi atlet;
pemantauan prestasi;
pemetaan pemain muda;
penyusunan ranking;
pembinaan daerah;
penyusunan kalender pertandingan;
administrasi keanggotaan;
hingga mencari sponsor.
Kalau ini berhasil diwujudkan, digitalisasi bukan lagi sekadar teknologi.
Digitalisasi menjadi alat untuk mengubah cara organisasi bekerja.
- Menghidupkan Kembali Klub
Ini menurut saya merupakan salah satu pekerjaan rumah terbesar.
PB GABSI tidak mungkin membina seluruh pemain Indonesia secara langsung.
Pemain berkembang di klub.
Di klub pemain belajar.
Di klub pemain berlatih.
Di klub pemain mendapatkan pasangan.
Di klub pemain bertemu lawan.
Di klub pemain muda belajar dari pemain senior.
Karena itu:
Kalau klub hidup, bridge hidup.
Kalau klub mati, pembinaan ikut mati.
Inilah alasan mengapa saya berkali-kali mengusulkan agar Liga Bridge Indonesia dihidupkan kembali.
Liga bukan hanya kompetisi.
Liga adalah mesin kehidupan klub.
Ketika ada liga:
pemain punya target → klub punya aktivitas → tim punya tujuan → daerah punya kegiatan → organisasi mempunyai data kompetisi.
Dan yang paling penting, pemain tidak harus menunggu Kejurnas untuk mendapatkan pertandingan serius.
- Membuat Kalender Kompetisi Nasional yang Pasti
Pemain bridge membutuhkan kepastian.
Mereka perlu mengetahui:
Januari bermain di mana?
April ada apa?
Juli ada Kejurnas apa?
Oktober ada liga?
Kalender nasional jangan hanya menjadi kumpulan turnamen yang berdiri sendiri.
Kita membutuhkan ekosistem kompetisi.
Misalnya:
Liga → Kejurnas → Seleksi Nasional → Tim Nasional → Kejuaraan Internasional.
Dengan sistem seperti itu, setiap pertandingan mempunyai fungsi.
Turnamen lokal menjadi bagian dari pembinaan.
Liga menjadi tempat mengasah kemampuan.
Kejurnas menjadi arena nasional.
Seleksi menjadi pintu menuju tim nasional.
Dan kejuaraan internasional menjadi puncak prestasi.
- Regenerasi Harus Dimulai dari Sekarang
Kita tidak boleh hanya bertanya:
Siapa pemain terbaik Indonesia sekarang?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Siapa yang akan menjadi pemain terbaik Indonesia 10 tahun lagi?
Karena itu pembinaan usia muda harus menjadi program jangka panjang.
Bukan sekadar mengirim anak-anak ke satu kejuaraan junior.
Yang dibutuhkan adalah piramida:
Sekolah → Klub Junior → Pengprov → Kejurnas Junior → Pelatnas → Tim Nasional.
Dan jangan lupa bahwa regenerasi bukan hanya pemain.
Kita juga membutuhkan:
pelatih muda;
TD muda;
wasit;
administrator;
organizer;
scorer;
pengurus klub;
dan generasi baru yang memahami teknologi bridge.
- Prestasi Internasional Harus Didukung Sistem
Indonesia memiliki tradisi prestasi internasional yang panjang.
Tetapi prestasi tidak boleh hanya mengandalkan munculnya pemain hebat secara kebetulan.
Kita membutuhkan high performance system.
Mulai dari:
talent identification → pembinaan → kompetisi → seleksi → pelatnas → try-out → kejuaraan internasional → evaluasi.
Setiap tahap harus memiliki indikator keberhasilan.
Misalnya, kalau targetnya Asian Games atau World Championships, maka persiapan tidak boleh baru dimulai beberapa bulan sebelum keberangkatan.
Harus ada program empat tahun.
- Masalah Pendanaan Harus Ditangani Secara Profesional
Ini persoalan yang sering menjadi penghambat.
Program bagus tanpa dana hanya akan menjadi dokumen.
Karena itu PB GABSI harus mulai membangun model pendanaan yang berkelanjutan.
Bukan hanya mengandalkan bantuan pemerintah.
Kita perlu memikirkan:
sponsorship perusahaan;
corporate partnership;
event partnership;
donasi;
fundraising;
kerja sama dengan institusi pendidikan;
kerja sama dengan pemerintah daerah;
dan commercial events.
Gagasan mengenai sponsorship corporate dan Bapak Angkat Bridge Indonesia bahkan sudah muncul dalam program yang ditawarkan salah satu kandidat.
Yang penting adalah bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi sistem yang profesional.
Sponsor tidak hanya mencari logo mereka ditempel.
Sponsor ingin melihat:
audience → exposure → aktivitas → data → hasil.
- Memperkuat Hubungan PB, Pengprov, Pengkab/Pengkot dan Klub
Organisasi nasional tidak boleh terasa jauh dari daerah.
Sebaliknya, daerah juga tidak boleh merasa bahwa semua keputusan hanya datang dari Jakarta.
Harus ada komunikasi dua arah.
PB GABSI membuat kebijakan nasional.
Pengprov menerjemahkannya sesuai kondisi daerah.
Pengkab/Pengkot dan klub menjalankannya di lapangan.
Kemudian pengalaman dari lapangan kembali menjadi masukan bagi PB.
Jadi bentuknya bukan piramida satu arah.
Tetapi ekosistem yang saling terhubung.
- Menjaga Persatuan Setelah Kongres
Ini mungkin tantangan yang paling sensitif.
Dalam setiap pemilihan organisasi, pasti ada pihak yang menang dan ada pihak yang kalah.
Tetapi setelah Kongres selesai, istilah “kubu A” dan “kubu B” harus berhenti.
Yang tersisa hanya:
GABSI.
Orang-orang yang mendukung kandidat yang kalah tetap mempunyai kemampuan, pengalaman dan jaringan yang sangat dibutuhkan organisasi.
Karena itu, saya berharap Ketua Umum terpilih mampu merangkul semua pihak.
Dan saya juga berharap mereka yang tidak terpilih bersedia memberikan kontribusi.
Sebab:
Kita boleh berbeda pilihan dalam Kongres.
Tetapi kita tidak boleh berbeda tujuan untuk bridge Indonesia.
- Jangan Takut Membuat Target yang Bisa Diukur
Salah satu kelemahan organisasi adalah terlalu banyak program yang terdengar bagus tetapi sulit diukur hasilnya.
Ke depan saya berharap setiap program mempunyai KPI — Key Performance Indicators.
Misalnya:
Tahun pertama
database nasional mulai berjalan;
kalender kompetisi nasional ditetapkan;
liga dimulai kembali;
program pembinaan junior diperkuat.
Tahun kedua
jumlah klub aktif meningkat;
kompetisi daerah bertambah;
sistem ranking semakin terintegrasi;
program pelatih dan TD muda berjalan.
Tahun ketiga
prestasi internasional meningkat;
semakin banyak pemain muda masuk tim nasional;
sponsor semakin kuat;
liga sudah menjadi kompetisi rutin.
Tahun keempat
Pertanyaan sederhananya:
Apakah PB GABSI 2030 lebih kuat daripada PB GABSI 2026?
Kalau jawabannya ya, berarti organisasi berhasil.
- Seratus Hari Pertama Akan Sangat Penting
Saya sudah pernah menulis bahwa Kongres Mamuju bukan garis akhir.
Kongres Mamuju adalah garis start.
Karena itu saya berharap Ketua Umum terpilih tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mulai bekerja.
Menurut saya, 100 hari pertama harus digunakan untuk melakukan tiga hal:
- Konsolidasi
Menyusun tim dan pembagian tugas yang jelas.
- Audit
Melihat kondisi organisasi yang sebenarnya:
keuangan, database, anggota, klub, prestasi, program, fasilitas dan hubungan internasional.
- Eksekusi
Memilih beberapa program prioritas yang langsung berjalan.
Jangan sampai enam bulan pertama habis hanya untuk rapat membicarakan program.
- Yang Dibutuhkan Bukan Banyak Program, tetapi Program yang Berkelanjutan
Ini yang menurut saya harus menjadi pelajaran penting.
Lebih baik mempunyai 10 program yang benar-benar berjalan selama empat tahun daripada 50 program yang hanya muncul dalam proposal.
Organisasi yang kuat bukan organisasi yang mempunyai program paling banyak.
Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu:
merencanakan → menjalankan → mengukur → mengevaluasi → memperbaiki → melanjutkan.
Inilah yang disebut institutionalization.
- Tantangan Terbesar: Meninggalkan Warisan Sistem
Ketua Umum 2026–2030 pada akhirnya akan menyelesaikan masa baktinya.
Tahun 2030 akan datang.
Dan saat itu pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa Ketua Umum 2026?”
Tetapi:
“Apa yang ditinggalkan oleh kepengurusan 2026–2030?”
Apakah kita meninggalkan organisasi yang masih bergantung kepada figur?
Atau kita meninggalkan:
database yang rapi,
klub yang hidup,
liga yang berjalan,
pembinaan junior yang berkesinambungan,
sistem kompetisi yang jelas,
keuangan yang sehat,
organisasi yang profesional,
dan
generasi baru yang siap mengambil alih.
Itulah warisan yang sebenarnya.
Kongres Mamuju Harus Menjadi Titik Balik
Dua kandidat resmi telah menawarkan gagasan masing-masing. Isradi menekankan profesionalisme, modernisasi, digitalisasi dan pembinaan berkelanjutan, sementara Verdianto antara lain menawarkan penguatan sistem organisasi, kompetisi nasional, reformasi Master Point dan pemasyarakatan bridge.
Sekarang tugas keluarga besar GABSI adalah menilai gagasan tersebut dengan kritis.
Bukan hanya:
“Siapa yang paling saya kenal?”
Bukan pula:
“Siapa yang paling dekat dengan saya?”
Tetapi:
“Siapa yang paling mampu membangun sistem yang membuat bridge Indonesia berkembang bahkan setelah masa kepemimpinannya berakhir?”
Karena tantangan PB GABSI 2026–2030 bukan hanya memenangkan pertandingan.
Bukan hanya mendapatkan medali.
Bukan hanya menyelenggarakan turnamen.
Tantangan sesungguhnya adalah membangun ekosistem bridge Indonesia yang sehat dan berkelanjutan.
Dan kalau itu berhasil dilakukan, maka kita tidak hanya akan menghasilkan lebih banyak juara.
Kita akan menghasilkan organisasi yang mampu melahirkan juara dari generasi ke generasi.
Dari figur menuju sistem.
Dari program menuju institusi.
Dari turnamen menuju ekosistem.
Dari prestasi sesaat menuju prestasi berkelanjutan.
Itulah tantangan organisasi PB GABSI ke depan.
Dan menurut saya, inilah pekerjaan terbesar yang menanti setelah Kongres Mamuju.
Salam Bridge! ♠️♥️♦️♣️
- Bert Toar Polii – Tukang Bridge












