Connect with us

Nasional

Warga Tapanuli Utara Diminta Hindari Kemungkinan Tsunami, Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pusat gempa yang mengguncang Tapanuli Utara, Sumatera Utara dan potensi gelombang tinggi di perairan wilayah Indonesia, 1 -2 Oktober 2022

Pusat gempa yang mengguncang Tapanuli Utara, Sumatera Utara dan potensi gelombang tinggi di perairan wilayah Indonesia, 1 -2 Oktober 2022

FAKTUAL-INDONESIA: Menyusul terjadinya rentetan gempa yang terjadi Sabtu (1/10/2022),

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yang tinggal di wilayah pesisir mewaspadai kemungkinan terjadinya tsunami.

Dalam bagian lain BMKG meminta masyarakat untuk mewaspadai gelombang tinggi hingga empat meter yang berpotensi terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia pada 1-2 Oktober 2022.

Dari pantauan media yang dilansir antaranews.com, rentetan gempa yang terjadi di Tapanuli Utara menimbulkan getaran sedang hingga kuat selama tiga hingga lima detik di wilayah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Tengah, Labuhan Batu Utara dan Kota Medan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama instansi terkait lain masih mendata dampak gempa di wilayah Tapanuli Utara dan sekitarnya.

Advertisement

Warga diminta meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi potensi gempa bumi susulan dan memastikan jalur evakuasi ke luar rumah tidak terhalang barang-barang berukuran besar.

Warga yang tinggal di wilayah pesisir dianjurkan memperhatikan kejadian gempa bumi. Apabila gempa berlangsung lebih dari 30 detik, warga diminta segera menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terjadinya tsunami

Gelombang Hingga 4 Meter

BMKG mengimbau  masyarakat untuk mewaspadai gelombang tinggi hingga empat meter yang berpotensi terjadi di beberapa wilayah perairan pada 1-2 Oktober 2022.

“Waspada gelombang tinggi hingga empat meter di sejumlah perairan Indonesia,” ujar Kepala Pusat Meteorologi Maritim, BMKG, Eko Prasetyo yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Advertisement

Ia mengemukakan, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Barat Laut-Timur Laut dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari Timur-Tenggara dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knot.

Ia menambahkan, kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Malaka bagian utara, perairan P. Simeulue, perairan utara Sabang, perairan Kep. Nias, perairan Banten.

Kondisi itu, ia memaparkan, menyebabkan terjadinya peluang peningkatan gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di perairan timur P. Simeulue-Kep. Mentawai, Selat Lombok bagian utara, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, perairan P. Sawu, perairan Kupang-P. Rotte, Laut Sawu, perairan selatan Flores.

Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di Laut Sulawesi bagian timur, Laut Arafuru bagian timur, perairan Biak, perairan Sarmi-Jayapura, perairan Manokwari, Samudra Pasifik Utara Papua Barat-Jayapura.

Ia menambahkan, untuk gelombang di kisaran lebih tinggi 2,5-4 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian utara, perairan utara Sabang, perairan barat Aceh, perairan barat P. Simeulue-Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu.

Advertisement

Selanjutnya,  perairan barat Lampung, Samudra Hindia Barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Banten-Sumbawa, Selat Bali-Lombok-Alas Bagian selatan, perairan selatan P. Sumba, Samudra Hindia Selatan Banten-NTT.

Untuk itu, lanjut dia, perlu diperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran seperti perahu nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 m), kapal tongkang* (Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m), kapal ferry (Kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 m).

Kemudian, kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 m).

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada,” kata Eko Prasetyo. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement