Connect with us

Nasional

Menag Nasaruddin Tegaskan Bahasa Agama Jauh Lebih Efektif untuk Menyelamatkan Lingkungan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Menag Nasaruddin Tegaskan Bahasa Agama Jauh Lebih Efektif untuk Menyelamatkan Lingkungan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat memberikan arahan dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Kebijakan Ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (29/12/2025). (Kemenag)

FAKTUAL INDONESIA: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan, bahasa agama  jauh lebih efektif untuk menyelamatkan lingkungan dibanding bahasa hukum, politik, atau birokrasi.

“Karena di dalam agama ada konsep dosa dan pahala yang langsung menyentuh kesadaran manusia. Di situlah perubahan perilaku bisa dimulai,” kata Menag Nasaruddin saat memberikan arahan dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Kebijakan Ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (29/12/2025).

Hadir dalam giat ini jajaran eselon 1 dan eselon 2 Kementerian Agama, para Staf Khusus Menteri Agama, Staf Ahli Menteri Agama, dan Penasihat Ahli Menteri Agama.

Baca Juga : Romo Mudji Sutrisno Wafat, Menag Nasaruddin Sampaikan Duka Mendalam, Figur yang Sangat Menghargai Nilai-nilai Kebudayaan dalam Beragama

Menag menjelaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan regulasi dan teknokratis. Ia menilai, pendekatan tersebut kerap gagal karena tidak menyentuh dimensi batin dan tanggung jawab moral manusia.

“Kalau hanya bahasa hukum, orang bisa patuh karena takut sanksi. Tapi kalau bahasa agama, orang bergerak karena kesadaran,” ujarnya.

Advertisement

Nasaruddin menyebut bahwa salah satu akar persoalan kerusakan lingkungan adalah cara pandang modern yang menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi.

“Cara pandang itu lahir dari sekularisasi pengetahuan yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai spiritual. Sejak alam dianggap tidak sakral, manusia merasa bebas mengeksploitasinya tanpa batas,” ucapnya.

Baca Juga : Hadiri Perayaan Natal di Manado, Menag Nasaruddin Ungkap Ada Modal Sosial Luar Biasa di Sulut

Dalam perspektif keagamaan, Nasaruddin menyampaikan bahwa alam memiliki hak yang harus dihormati, sebagaimana manusia memiliki hak. “Relasi manusia dan alam seharusnya bersifat saling menjaga sebagai sesama makhluk Tuhan. Manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Karena itu, alam juga memiliki hak yang wajib dijaga,” tuturnya.

Nasaruddin menyampaikan bahwa jaringan keagamaan nasional yang dimiliki Kementerian Agama menjadi modal utama dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.

“Kementerian Agama memiliki sumber daya kelembagaan yang sangat luas, mulai dari penyuluh agama, penghulu, rumah ibadah, hingga lembaga pendidikan keagamaan. Jaringan ini dapat menjadi instrumen efektif untuk membangun kesadaran ekologis berbasis agama. Inilah peran strategis Kementerian Agama dalam menjaga keberlanjutan kehidupan,” paparnya. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement