Connect with us

Internasional

NU Serukan Gencatan Senjata Antara Rusia dan Ukraina, Hindari Lebih Banyak Korban Jiwa

Avatar

Diterbitkan

pada

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. (Ist).

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. (Ist).

FAKTUAL-INDONESIA: Meski konflik antara Rusia dan Ukraina bukan soal agama, namun Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi Masyarakat (Ormas) Islam tetap menyeru agar Rusia dan Ukraina melakukan gencatan senjata.

Hal ini dilakukan karena NU melihat dampak perang tersebut telah menyengsarakan rakyat, terutama pihak Ukraina yang menjadi sasaran serangan militer Rusia sejak 11 hari terakhir ini.

“Kami sudah janji pertemuan dengan Duta Besar Ukraina, Rusia, soal perang yang sekarang sedang berlangsung. Saya sampaikan ke duta besar yang sudah berkunjung ke kantor, kami serukan genjatan senjata,” kata Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat berkunjung ke Kantor NU Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Minggu (6/3/2022)  malam.

Menurut dia, NU sebagai organisasi masyarakat turut serta memberikan kontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia. Maka adanya masalah antara Ukraina dan Rusia juga diharapkan bisa diselesaikan dengan duduk bersama.

“Semua perbedaan pertentangan dibicarakan secara damai,” lanjutnya.

Advertisement

Terjadinya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, menurut Yahya, juga berimbas pada Indonesia. Misalnya, dari sisi tenaga kerja.
Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memastikan 30 pekerja migran Indonesia (PMI) telah berhasil dievakuasi dari Ukraina dan telah tiba di Tanah Air bersama dengan rombongan warga negara Indonesia lainnya.

Kepala BP2MI Benny Rhamdani dalam konferensi pers virtual, diikuti dari Jakarta menjelaskan bahwa para pekerja migran itu telah tiba di Indonesia bersama rombongan WNI lainnya pada 3 Maret 2022 pada pukul 17.10 WIB.

Dia menjelaskan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berhasil dievakuasi dari Ukraina tersebut terdiri dari 29 perempuan dan satu orang laki-laki. Kebanyakan dari PMI yang dievakuasi bekerja sebagai spa terapis dan berasal dari Bali.

Ia mengatakan masih terdapat 14 WNI yang berada di Bukares, Rumania karena mayoritas dari mereka terpapar COVID-19. Dari tes yang dilakukan 12 orang positif COVID-19 dan dua orang memilih tinggal di Bukares untuk menemani anak mereka yang juga terkonfirmasi positif.

“Enam orang di antaranya adalah pekerja migran Indonesia yang diketahui dan dinyatakan positif COVID-19,” jelasnya.

Advertisement

Benny juga memastikan perwakilan Indonesia di Bukares akan terus memantau keadaan 14 orang tersebut dan jika telah memungkinkan akan dievakuasi menggunakan pesawat kembali ke Indonesia.

Untuk PMI yang telah tiba dan dinyatakan tidak terinfeksi COVID-19, setelah menjalani tes di Indonesia saat ini menjalani karantina di Wisma Pasar Rumput, Jakarta. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement