Connect with us

Internasional

Presiden Korsel Mengadu Nuklir Korut Meningkat, Trump Malah Menjawab Ingin Bertemu Diktator Kim Jong Un Lagi

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Presiden Korsel Mengadu Nuklir Korut Meningkat, Trump Malah Menjawab Ingin Bertemu Diktator Kim Jong Un Lagi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk bertemu lagi dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat bertemu dengan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung di Washington, Senin (25/8/2025)

FAKTUAL INDONESIA: Ketika bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Senin (25/8/2025), Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung mengadu bahwa kemampuan nuklir dan misil Korea Utara (Korut) jauh berkembang selama empat tahun Trump tidak menjabat setelah kalah dalam pemilu 2020.

Menjawab hal itu Trump malah mengatakan kepada Lee Jae Myung, ia ingin bertemu kembali dan mengundang Presiden Korut Kim Jong Un. Trump menyatakan, ia ingin menghidupkan kembali persahabatannya dengan diktator milenial yang telah secara ilegal merakit persenjataan nuklir sementara negaranya sendiri tetap kelaparan dan terisolasi di bawah sanksi ekonomi selama beberapa dekade.

Seperti dikutip dari independent.co.uk, Trump mengatakan kepada Lee Jae Myung bahwa ia ingin bertemu dengan diktator Korea Utara Kim Jung Un setelah pemimpin Korea Selatan tersebut mencatat bahwa Korea Utara telah “mengembangkan lebih jauh kemampuan nuklir dan misilnya” selama empat tahun Trump tidak menjabat setelah kalah dalam pemilu 2020.

Baca Juga : Amerika dan Rusia Memanas, Trump Kerahkan 2 Kapal Selam Nuklir Tanggapi Pernyataan Provokatif Medvedev

Setelah Lee mengatakan ia berharap Trump akan “menghadirkan era perdamaian baru di Semenanjung Korea,” presiden Amerika itu menjawab: “Saya akan melakukannya, dan kami akan berunding. Ia ingin bertemu dengan saya.”

“Dia tidak ingin bertemu dengan Biden karena dia tidak menghormati Biden, tetapi kami berharap dapat bertemu dengannya, dan kami akan memperbaiki hubungan,” katanya.

Advertisement

“Kim Jong Un dan saya memiliki hubungan yang sangat baik… dan masih baik,” tambah Trump.

Trump  juga mengisyaratkan bahwa ia akan menghadiri pertemuan puncak Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik tahun ini di Seoul dan mengatakan ia bisa “menyelinap” untuk “melakukan sesuatu” guna membantu hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan, yang secara teknis masih dalam keadaan perang sejak tahun 1950-an.

“Saya berhubungan baik dengan Kim Jong Un dan apa pun yang bisa saya lakukan, saya akan berhubungan dengan Korea Selatan dan menyatukan semua orang,” ujarnya.

Kim, 41, telah memimpin Republik Rakyat Demokratik Korea sejak kematian ayahnya, Kim Jong Il, pada tahun 2011.

Selama masa jabatannya sebagai pemimpin tertinggi negara itu, ia telah berupaya meningkatkan program nuklir terlarang dan program rudal balistik Korea Utara dengan tujuan memperoleh kemampuan untuk menyerang negara-negara barat seperti Amerika Serikat.

Advertisement

Baca Juga : AS Serang Fasilitas Nuklir Iran, Trump Sebut Serangan Itu Sukses

Ia tetap melakukan hal itu meskipun ada banyak resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyerukan denuklirisasi seluruh Semenanjung Korea.

Trump menjadi presiden AS pertama yang sedang menjabat yang bertemu dengan pemimpin Korea Utara ketika ia bertemu dengan Kim di Singapura pada bulan Juni 2018. Kedua pemimpin bertemu untuk pertemuan puncak kedua di Hanoi pada bulan Maret 2019, dan pada bulan Juni 2019 Trump membuat sejarah ketika ia bertemu dengan Kim untuk waktu yang singkat di Zona Demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan.

Pemimpin Amerika itu menjadi presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di DPRK ketika ia melintasi perbatasan yang memisahkan kedua negara Korea atas undangan Kim.

Saat itu, Trump mengundang Kim untuk mengunjungi AS “ketika waktunya tepat”, tetapi sejak saat itu, hanya ada sedikit pembicaraan antara Washington dan Pyongyang. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement