Ekonomi
Rupiah Senin 8 Juni 2026: Depresiasi Tajam Dihantam Twin Pressures, Proyeksi Tetap Suram

Nilai tukar (kurs) rupiah semakin mengkhawatirkan setelah dalam perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026), melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
FAKTUAL INDONESIA: Kasihan benar nasib rupiah karena seperti tidak mendapat perhatian serius sehingga terus anjlok menghadapi tekanan bukan saja dari luar namun juga dalam negeri. Tak mengherankan bila pada perdagangan valuta asing Senin (8/6/2026), nilai tukar (kurs) rupiah terpantau babak belur bahkan nyaris menembus level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan.
Berdasarkan data pasar spot hari ini mata uang Garuda ditutup melemah signifikan hingga berada di kisaran Rp 18.188 per dolar AS. Angka ini menunjukkan depresiasi tajam sekitar 152 poin atau ambles 0,84% dibandingkan dengan posisi penutupan akhir pekan lalu Rp18.036 per dolar AS.
Pelemahan ini lebih buruk dari saat pembukaan perdagangan Senin pagi ketika rupiah dibuka
melemah 71 poin atau 0,39 persen menjadi Rp18.107 per dolar AS.
Tak pelak, pelemahan tersebut menandai rekor baru bagi rupiah sebagai level penutupan terendah yang pernah tercatat.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.171 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.039 per dolar AS.
Yang bisa dijadikan penghibur, tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di kawasan setelah terkoreksi 1,03%.
Selanjutnya, rupe India melemah 0,74%, diikuti peso Filipina yang turun 0,31%. Dolar Taiwan juga terkoreksi 0,29%, sementara baht Thailand melemah 0,26%. Dolar Hong Kong turut mengalami pelemahan tipis sebesar 0,008% terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Pada sisi lain, sejumlah mata uang Asia berhasil mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan menjadi yang paling perkasa dengan kenaikan 1,73%. Yuan China menguat 0,06%, disusul dolar Singapura yang naik 0,05%. Sementara itu, yen Jepang turut mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,04% terhadap dolar AS.
Lebih mengkhawatirkan lagi, rupiah diproyeksikan tetap suram untuk perdagangan esok hari alias tetap akan melemah.
Sejumlah pengamat pasar uang memperingatkan, apabila Bank Indonesia tidak mengambil langkah moneter yang agresif—seperti menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) secara signifikan—rupiah dibayangkan bisa bergerak liar menuju level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir Juni ini. Pelaku pasar kini dalam mode wait and see memantau respons kebijakan lanjutan dari otoritas fiskal dan moneter.
Kombinasi Sentimen Jadi Pemicu
Para analis menilai ambruknya nilai tukar rupiah kali ini dipicu oleh efek domino dari faktor global serta kekhawatiran dari dalam negeri (twin pressures).
- Faktor Eksternal: Konflik Geopolitik dan Kebijakan The Fed
- Ketegangan Timur Tengah: Eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Iran, khususnya di area strategis seperti Selat Hormuz, memicu kepanikan pasar. Investor global kompak mengalihkan aset mereka ke instrumen aman (safe haven), yang mendongkrak keperkasaan indeks dolar AS.
- Suku Bunga Tinggi: Ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di level tinggi dalam waktu yang lebih lama kian mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang.
- Faktor Internal: Cadangan Devisa dan Beban APBN
- Menyusutnya Cadangan Devisa: Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Mei dilaporkan turun ke angka 144,9 miliar dolar AS, membatasi amunisi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi pasar secara agresif.
- Risiko Defisit Anggaran: Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik diproyeksi mengerek defisit APBN 2026 mendekati batas aman 3%. Selain itu, pasar tengah mencermati kesiapan anggaran untuk program-program besar pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor eksternal menjadi pemicu utama melemahnya rupiah. Salah satunya adalah kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Israel di wilayah Lebanon yang memicu kekhawatiran pasar global.
“Pasar juga mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tetap optimistis peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang lebih luas masih terbuka,” ucapnya dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Seperti dilansir beritasatu, selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS turut didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Pada Mei 2026, ekonomi AS mencatat penambahan 172.000 lapangan kerja, jauh melampaui ekspektasi pasar yang berada di angka 85.000.
Data bulan sebelumnya juga direvisi naik menjadi 179.000 dari sebelumnya 115.000, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih cukup solid.
Laporan ketenagakerjaan yang kuat membuat peluang Bank Sentral AS atau The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi menjadi semakin besar. Bahkan, pasar mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
“Fokus pasar minggu ini adalah data inflasi AS terbaru berupa Indeks Harga di tingkat Konsumen AS yang akan dirilis hari Rabu,” ungkap Ibrahim Assuaibi.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh menurunnya cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 berada di level US$ 144,9 miliar, turun dibandingkan posisi April 2026 yang mencapai US$ 146,2 miliar.
Penurunan cadangan devisa tersebut dinilai mengurangi amunisi stabilisasi nilai tukar di tengah derasnya tekanan eksternal yang sedang berlangsung.
Untuk perdagangan Selasa (9/6/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dibayangi volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.180-Rp 18.230,” kata Ibrahim.
Alarm Bagi Sektor Riil dan Ancaman Inflasi
Dampak dari terpuruknya nilai tukar ini tidak bisa dianggap remeh. Sektor riil diprediksi akan langsung merasakan rembetannya dalam waktu dekat jika intervensi tidak membuahkan hasil optimal.
Pelemahan rupiah yang berlarut-larut berpotensi menaikkan biaya impor bahan baku industri (imported inflation). Hal ini otomatis menekan daya beli masyarakat, meningkatkan beban utang korporasi berbasis dolar AS, hingga memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor yang sensitif terhadap kurs.
Berikut perbandingan kurs jual-beli dolar AS di sejumlah bank papan atas tanah air per sore hari ini:
| Perbankan | Harga Beli (Rp) | Harga Jual (Rp) |
| BCA (e-rate) | 18.125 | 18.145 |
| Bank Mandiri (Special Rate) | 18.050 | 18.080 |
| BRI | 17.900 | 18.200 |









