Ekonomi
Rupiah Rabu 23 Juni 2026: Melemah Hari Ketujuh Berturut-turut, Angka Psikologis Rp18.000 jadi Sorotan

Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk hari ketujuh berturut-turut Rabu (24/6/2026) dan dikhawatirkan kembali tembus Rp18.000. (Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Tekanan terhadap rupiah belum mereda juga sehingga kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Selain melemah pada hari ketujuh berturut-turut, nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rapor merah dan merosot mendekati psikologis baru.
Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah di pasar spot tumbang 93 poin atau melemah 0,52 persen, mendarat di level Rp17.952 per dolar AS.
Tambah loyo dibandingkan saat pembukaan pembukaan perdagangan Rabu pagi ketika rupiah
dibuka melemah 72 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.931 per dolar AS.
Sedangkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.868 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Selasa 23 Juni 2026: Perpanjang Tren Negatif, Masih Bergerak Melemah Terbatas
Kejatuhan ini menandai posisi terlemah mata uang domestik dalam hampir dua pekan terakhir.
Pemicu Pelemahan Rupiah
Pemicu otot rupiah kian lunglai di hadapan the greenback diantaranya:
- Efek Dominan ‘Sikap Galak’ The Fed
Sentimen utama datang dari negeri paman Sam. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) kini bergeser menjadi lebih hawkish atau ketat. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan AS pada pertemuan mendatang. Alhasil, indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam setahun terakhir, memicu kelangkaan likuiditas dolar di pasar global.
- Badai Risk-Off Melanda Pasar Global
Kombinasi dari ketegangan geopolitik internasional yang tak kunjung reda serta lesunya pasar aset digital memicu fenomena risk-off. Dalam situasi ini, para investor global serentak menarik modal mereka dari aset-aset berisiko tinggi di negara berkembang (emerging markets), lalu mengamankannya ke instrumen safe haven seperti obligasi pemerintah AS dan mata uang dolar.
Baca Juga : Rupiah Senin 22 Juni 2026: Melemah ke Rp17.843 per Dolar, Menjaga Jangan Terperosok Lebih Dalam
- Evaluasi MSCI dan Arus Modal Keluar
Tekanan internal juga diperberat oleh keputusan MSCI yang memperpanjang evaluasi terhadap status klasifikasi pasar Indonesia hingga November 2026. Bayang-bayang potensi penurunan peringkat ini memicu aksi jual dan arus modal keluar (capital outflow) oleh investor asing secara agresif, yang secara langsung menekan stabilitas rupiah.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong seperti dikutip dari TredingView, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang masih berlanjut. Indeks dolar AS (DXY) bahkan menyentuh level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
“Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Lukman, Rabu (24/6/2026).
Selain faktor eksternal, rupiah juga mendapat tekanan dari sentimen risk-off di pasar keuangan domestik. Menurut Lukman, pelaku pasar masih mencermati hasil evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia.
“Meskipun, MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, tetapi masih akan melakukan peninjauan ulang pada November dan tetap membuka peluang downgrade ke Frontier Market,” kata Lukman.
Baca Juga : Rupiah Jumat 19 Juni 2026: Melemah Lagi Lewati Rp17.800, Setelah Libur Masih Negatif
Nasib dan Proyeksi Esok
Rupiah sejatinya tidak merosot sendirian. Mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau ikut layu dihantam keperkasaan dolar AS pada hari ini. Won Korea Selatan tercatat memimpin pelemahan dengan koreksi tajam hingga 0,89%, disusul oleh Baht Thailand yang merosot 0,61%.
Meskipun Bank Indonesia (BI) terus berupaya melakukan intervensi di pasar valuta asing guna meredam volatilitas berlebih, derasnya sentimen eksternal membuat langkah penyelamatan membutuhkan waktu ekstra untuk memulihkan keperkasaan sang Garuda.
Untuk perdagangan Kamis (25/6), Lukman menilai fokus investor akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang merupakan indikator inflasi acuan The Fed.
Ia memperkirakan data tersebut berpotensi menunjukkan kenaikan inflasi, sehingga dapat semakin memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS.
Dengan sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) berada di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga : Rupiah Kamis 18 Juni 2026: Melemah 32 Poin Setelah Dolar Menggila, Tetap Cermati Sentimen Global
Melihat penutupan Rabu sore yang jatuh cukup dalam ke level Rp17.952 per dolar AS, pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan Kamis, 25 Juni 2026 diproyeksikan masih akan berada di bawah tekanan besar eksternal. Angka psikologis baru di level Rp18.000 kini menjadi sorotan utama pasar.
Penutupan hari ini yang hanya berjarak 48 poin dari level Rp18.000 membuat area ini menjadi level resistance psikologis yang sangat krusial. Jika sentimen risk-off global belum mereda pada pembukaan pasar besok pagi, rupiah rentan menguji atau bahkan menembus batas psikologis tersebut.
Pasar akan sangat bergantung pada langkah stabilisasi dari BI di pasar spot dan domestik non-deliverable forward (DNDF). Setelah BI menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pekan lalu, pelaku pasar menanti bauran strategi lanjutan untuk menahan derasnya arus modal keluar (capital outflow) akibat ketidakpastian evaluasi MSCI.
Selama indeks dolar AS (DXY) bergerak kuat di zona premium akibat proyeksi sikap ketat (hawkish) The Fed, mata uang emerging markets—termasuk rupiah—akan cenderung bergerak defensif. ***














