Ekonomi
Inflasi Tetap Tinggi Paksa Dolar Melemah dan Wall Street Merosot

Dolar Amerika Serikat diperdagangkan melemah sementara para pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat
FAKTUAL-INDONESIA: Dolar Amerika Serikat melemah dan indeks-indeks utama di Wall Street merosot pada perdagangan Rabu atau Kamis (12/5/2022) pagi WIB.
Dinamika perdagangan itu dipicu oleh masih tetap tingginya inflasi Amerika sehingga dolar melemah dan Wall Street merosot.
Selain inflasi tinggi, Federal Reserve juga tidak mungkin beralih ke jalur kebijakan moneter yang lebih agresif membuat dolar melemah dan Wall Street merosot.
Dolar melemah pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah data ekonomi menunjukkan inflasi AS tetap tinggi tetapi tidak mungkin membuat Federal Reserve beralih ke jalur kebijakan moneter yang lebih agresif.
Indeks harga konsumen naik 0,3 persen bulan lalu, kenaikan terkecil sejak Agustus, Departemen Tenaga Kerja mengatakan pada Rabu (11/5/2022), versus lonjakan 1,2 persen bulan-ke-bulan dalam IHK Maret, kenaikan terbesar sejak September 2005.
Pada basis tahunan, IHK naik 8,3 persen, lebih tinggi dari perkiraan 8,1 persen tetapi di bawah 8,5 persen bulan sebelumnya.
Menurut lansiran antaranews.com, data mengisyaratkan inflasi mungkin telah mencapai puncaknya tetapi tidak mungkin dengan cepat mendingin dan menggagalkan rencana Fed saat ini untuk mengetatkan kebijakan moneter.
Indeks dolar, yang telah menyentuh level terendah empat sesi di 103,37 menjelang laporan inflasi, segera menguat ke level tertinggi sesi 104,13 setelah data tersebut, tepat di bawah level tertinggi dua dekade di 104,19 yang dicapai pada Senin (9/5/2022).
“Harapan terus-menerus muncul di sini tetapi pada akhirnya pasar benar dalam berpikir bahwa tekanan inflasi ini pada akhirnya bersifat sementara, bahwa kita akan melihat penurunan dalam masalah rantai pasokan dan permintaan juga untuk beberapa bulan mendatang,” kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto.
“Pada dasarnya bagi saya, tantangannya di sini adalah ekspektasi inflasi yang berlabuh dengan baik di seluruh spektrum … pada akhirnya para pedagang akan melihat melalui ini dan kita akan melihat sedikit pembalikan dalam tren yang kita lihat sekarang.”
Greenback telah naik lebih dari 8,0 persen tahun ini karena investor telah condong ke safe haven di tengah kekhawatiran tentang kemampuan Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi, bersama dengan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan yang timbul dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus COVID-19 di China.
Namun, dolar bergejolak setelah data tersebut, indeks dolar mundur dari tertinggi sesi dan terakhir turun 0,029 persen pada 103,890, dengan euro turun 0,07 persen menjadi 1,052 dolar.
Setelah Fed menaikkan suku bunga acuan overnight sebesar 50 basis poin minggu lalu, kenaikan terbesar dalam 22 tahun, investor telah mencoba untuk menilai seberapa agresif bank sentral akan menaikkan suku bunganya. Ekspektasi sepenuhnya memperkirakan kenaikan lain setidaknya 50 basis poin pada pertemuan bank sentral Juni, menurut Alat FedWatch CME.
Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan pada Rabu (11/5/2022) bahwa kenaikan suku bunga hipotek rumah (KPR), obligasi pemerintah AS dan instrumen kredit lainnya menunjukkan bank sentral tetap kredibel dalam upayanya untuk menggagalkan kenaikan inflasi.
Investor akan melihat lagi data inflasi pada Kamis waktu setempat di indeks harga produsen untuk April, dengan ekspektasi kenaikan bulanan sebesar 0,5 persen versus lonjakan 1,4 persen pada Maret. Pada basis tahunan, ekspektasi untuk lompatan 10,7 persen dibandingkan dengan lonjakan 11,2 persen bulan sebelumnya.
Euro menguat karena Bank Sentral Eropa telah memperkuat ekspektasi bahwa mereka akan menaikkan suku bunga acuan pada Juli untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade guna melawan rekor inflasi tinggi, dengan beberapa pembuat kebijakan bahkan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut setelah yang pertama.
Yen Jepang menguat 0,48 persen versus greenback di 129,79 per dolar, sementara sterling terakhir diperdagangkan di 1,2258 dolar, turun 0,52 persen hari ini.
Di pasar mata uang kripto, bitcoin terakhir turun 3,88 persen menjadi 29.797,31 dolar AS, setelah jatuh di bawah 30.000 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Juli pada Selasa (10/5/2022). Sementara itu, ethereum terakhir turun 6,79 persen menjadi 2.168,69 dolar AS.
Wall Street Jatuh
Sementara itu Indeks-indeks utama di Wall Street merosot pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah data menunjukkan bahwa angka inflasi AS untuk April lebih tinggi dari yang diperkirakan meskipun sedikit mendingin.
Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 326,63 poin atau 1,02 persen, menjadi menetap di 31.834,11 poin. Indeks S&P 500 jatuh 65,87 poin atau 1,65 persen, menjadi berakhir di 3.935,18 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup anjlok 373,43 poin atau 3,18 persen, menjadi 11.364,24 poin.
Masih seperti dipantau dari media antaranews.com, delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumen non-primer dan teknologi masing-masing terpangkas 3,57 persen dan 3,3 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi terdongkrak 1,37 persen seiring melonjaknya harga minyak, merupakan kelompok berkinerja terbaik.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (11/5/2022) bahwa indeks harga konsumen (IHK) AS naik 0,3 persen pada April, di atas konsensus 0,2 persen, untuk kenaikan 8,3 persen secara tahun-ke-tahun. IHK inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,6 persen, di atas konsensus 0,4 persen, untuk kenaikan 6,2 persen secara tahun-ke-tahun.
Laporan yang lebih panas dari perkiraan datang pada saat investor semakin khawatir tentang seberapa banyak Federal Reserve harus meningkatkan suku bunga acuannya guba menjinakkan inflasi yang tinggi.
“Inflasi naik lebih cepat dari yang diperkirakan pada April,” Will Compernolle, ekonom senior di FHN Financial, mengatakan dalam sebuah catatan pada Rabu (11/5/2022).
“Jalur pengetatan Fed saat ini mengasumsikan beberapa moderasi inflasi sepanjang tahun ini, sehingga kejutan kenaikan inflasi tambahan dalam beberapa bulan mendatang dapat membuka kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif daripada yang diperkirakan saat ini untuk memulihkan stabilitas harga,” kata Compernolle.
Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga AS sebesar 50 basis poin, langkah terbesar dalam lebih dari 20 tahun, dan mengisyaratkan bahwa kenaikan setengah poin tetap dipertimbangkan untuk beberapa pertemuan bank sentral berikutnya. ***














