Ekonomi
Kamis 12 Mei 2022 Pagi > Harga Minyak Melonjak 5 Persen, Emas Terangkat

Minyak dan emas berkibar Kamis (12/5/2022) pagi ini setelah harganya melonjak dan terangkat
FAKTUAL-INDONESIA: Ekonomi Faktual Indonesia (FI) pagi, Kamis 12 Mei 2022, memantau harga minyak melonjak dan emas terangkat.
Pada akhir perdagangan Kamis 12 Mei 2022 pagi WIB, FI mencatat harga minyak melonjak lebih dari 5 persen sedangkan harga emas naik setelah dua hari mengalami penurunan.
Berdasarkan pantau FI harga minyak melonjak karena ada kaitannya dengan gas Rusia yang kini perang dengan Ukraina sementara emas membaik karena melemahnya dolar dan indeks saham Amerika Serikat, sampai Kamis 12 Mei 2022 pagi WIB.
Harga minyak melonjak lebih dari lima persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah aliran gas Rusia ke Eropa turun dan Rusia memberikan sanksi kepada beberapa perusahaan gas Eropa, menambah ketidakpastian di pasar energi dunia.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli terangkat 5,05 dolar AS atau 4,9 persen, menjadi menetap di 107,51 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman bertambah 5,95 dolar AS atau 6,0 persen, menjadi ditutup di 105,71 dolar AS per barel.
Harga minyak dan gas telah meningkat sejak Moskow menginvasi Ukraina pada Februari dan Amerika Serikat serta sekutunya kemudian menjatuhkan sanksi berat terhadap Rusia. Perdagangan minyak mentah telah dibatasi, dan Rusia telah mengancam akan menangguhkan pasokan gas ke Eropa, meskipun langkah itu telah dihentikan.
Seperti dipantau dari laporan media antaranews.com, aliran gas Rusia ke Eropa melalui Ukraina turun seperempat setelah Kyiv menghentikan penggunaan rute transit utama, menyalahkan campur tangan pasukan pendudukan Rusia. Ini adalah pertama kalinya ekspor melalui Ukraina terganggu sejak invasi.
Langkah itu menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan serupa dapat terjadi bahkan ketika harga sudah melonjak. Rusia pada Rabu (11/5/2022) memberikan sanksi kepada 31 perusahaan yang berbasis di negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Moskow setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari.
Uni Eropa telah mengancam embargo penuh minyak Rusia, meskipun negosiasi terus berlanjut. Karena peran Rusia sebagai pengekspor minyak mentah dan bahan bakar terbesar, gangguan – yang diperkirakan akan memburuk – telah menyebabkan pasar mengetat di seluruh dunia, terutama untuk produk olahan seperti minyak diesel.
“Harga akan terus bergerak naik terutama jika Uni Eropa mencapai kesepakatan untuk menghentikan pembelian minyak Rusia tahun ini,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.
Uni Eropa masih tawar-menawar embargo minyak Rusia, yang menurut para analis akan semakin memperketat pasar dan mengalihkan arus perdagangan. Pemungutan suara membutuhkan dukungan dengan suara bulat, tetapi telah ditunda karena Hongaria telah berusaha keras menentangnya.
Angka terbaru pada persediaan AS menggarisbawahi dinamika yang mendorong harga lebih tinggi. Meskipun stok minyak mentah AS meningkat lebih dari 8 juta barel – sebagian besar karena pelepasan cadangan strategis – stok bensin turun 3,6 juta barel dan stok produk sulingan juga turun.
Kapasitas penyulingan telah berkurang di Amerika Serikat dan negara tersebut telah menggenjot ekspor untuk memenuhi permintaan dari pembeli di luar negeri. Sejauh ini pada 2022, Amerika Serikat mengekspor, secara bersih, sekitar 4 juta barel bahan bakar setiap hari.
“Angka tingkat pemanfaatan 90 persen tidak seperti dulu karena kapasitas keseluruhan turun,” kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging. “Kami melihat penyulingan tidak mampu memenuhi permintaan bensin.”
Harga minyak mentah telah melonjak pada 2022 karena invasi Rusia ke Ukraina menambah kekhawatiran pasokan, dengan Brent mencapai 139 dolar AS, tertinggi sejak 2008, pada Maret. Kekhawatiran tentang pertumbuhan yang disebabkan oleh pembatasan COVID China dan kenaikan suku bunga AS telah mendorong kemerosotan minggu ini.
Emas Dan Data Inflasi AS
Emas lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), berbalik menguat dari penurunan dua hari beruntun karena dolar AS tergelincir di tengah sedikit pendinginan harga konsumen untuk April, namun data inflasi tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan.
Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Juni terangkat 12,7 dolar AS atau 0,69 persen, menjadi ditutup pada 1,853,70 dolar AS per ounce.
Sehari sebelumnya, Selasa (10/5/2022), emas berjangka tergelincir 17,6 dolar AS atau 0,95 persen menjadi 1.841,00 dolar AS, setelah anjlok 24,2 dolar AS atau 1,29 persen menjadi 1.858,60 dolar AS pada Senin (9/5/2022), dan menguat 7,1 dolar AS atau 0,38 persen menjadi 1.882,80 dolar AS pada Jumat (6/5/2022).
Masih dari pantauan media antaranews.com, pertumbuhan harga konsumen AS melambat pada April karena harga bensin turun dari rekor tertinggi, menunjukkan inflasi mungkin telah mencapai puncaknya, meskipun kemungkinan akan tetap panas untuk sementara dan menjaga Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk mendinginkan permintaan.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (11/5/2022) bahwa indeks harga konsumen AS naik 8,3 persen secara tahun ke tahun pada April, sedikit lebih tinggi dari 8,1 persen yang diperkirakan para ekonom.
Meskipun angka inflasi April turun dari 8,6 persen pada Maret dan menandai penurunan pertama dalam lima bulan, angka tersebut tetap tinggi, menurut analis pasar.
Membantu emas menguat, indeks dolar, yang awalnya menguat di tengah data indeks harga konsumen (IHK), turun tipis 0,1 persen. Emas juga mendapat dukungan tambahan karena imbal hasil obligasi pemeritah AS dan indeks saham AS melemah.
“Pasar melihat cetakan dan pergi ‘JUAL, JUAL, JUAL.’ Tetapi emas telah bangkit kembali dengan pemikiran bahwa data (inflasi) lebih tinggi dari yang diperkirakan, tetapi tidak mengerikan,” kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen di New York.
“The Fed tidak akan menjadi lebih hawkish dengan laporan ini, tetapi pasti tidak akan melonggar juga.”
Pejabat bank sentral AS pada Selasa (10/5/2022) memperkuat argumen mereka untuk rangkaian kenaikan suku bunga tercepat setidaknya sejak tahun 1990-an untuk memerangi inflasi.
“Secara keseluruhan, emas bukanlah investasi yang buruk. Emas berada dalam kisaran yang cukup ketat, saya lebih suka memiliki emas daripada Nasdaq, atau Bitcoin,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.
Meskipun emas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman dari inflasi, kenaikan suku bunga AS meningkatkan peluang kerugian memegang emas, sementara meningkatkan dolar, mata uang di mana emas dihargai.
“Kami memperkirakan harga (emas) akan kembali mengambil isyarat dari imbal hasil riil seiring berjalannya tahun, menghadapi tekanan turun di semester kedua tetapi tetap relatif meningkat terhadap level historis,” kata Suki Cooper, seorang analis di Standard Chartered.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 15,1 sen atau 0,7 persen, menjadi ditutup pada 21,575 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 42,6 dolar AS atau 4,5 persen, menjadi ditutup pada 989,8 dolar AS per ounce. ***














