Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Selasa 23 Juni 2026: Melemah Tipis setelah Terjun Bebas, Menanti Pengumuman MSCI

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terseret ke ke bawah level psikologis sebelum akhirnya ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (23/6/2026). (AI)

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat terseret ke ke bawah level psikologis sebelum akhirnya ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (23/6/2026). (AI)

FAKTUAL INDONESIA: Dinamika pasar modal Indonesia kembali bergerak fluktuatif menjelang momen penting dari lembaga indeks global. Pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa parkir di zona merah, melemah tipis 15,36 poin atau 0,25 persen ke posisi 6.101,33.

Laju indeks hari ini sejatinya sempat membuat para investor jantungan. Ketika pembukaan perdagangan saham Selasa pagi, IHSG sudah melemah 20,19 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.096,50. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,01 poin atau 0,34 persen ke posisi 597,19.

Pada sesi II siang tadi, tekanan jual yang masif sempat menyeret IHSG terjun bebas ke bawah level psikologis hingga menyentuh titik terendahnya di 5.993. Beruntung, menjelang menit-menit akhir penutupan, aksi beli selektif berhasil memperkecil rapor merah indeks hingga kembali ke level 6.100-an.

IHSG akhirnya ditutup melemah lebih tipis  15,36 poin atau 0,25 persen ke posisi 6.101,33. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,77 poin atau 0,13 persen ke posisi 598,43.

Pasar Kompak ‘Wait and See’

Advertisement

Penyebab utama di balik loyonya IHSG hari ini adalah sikap hati-hati (wait and see) para pelaku pasar yang tengah menantikan pengumuman penting dari MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan rilis Rabu dini hari (24/6/2026). Investor global sedang harap-harap cemas menunggu status pasar modal Indonesia, apakah tetap bertahan di Emerging Market atau justru turun kelas menjadi Frontier Market.

Selain itu, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp311,60 miliar di seluruh pasar, menambah beban pergerakan indeks. Sektor keuangan dan energi menjadi motor utama pelemahan hari ini, di mana saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BMRI ikut tertekan.

Meskipun IHSG melemah, panggung bursa tetap diwarnai oleh saham-saham top gainers yang melesat tinggi. Salah satunya adalah saham PT Logindo Samudramakmur Tbk. (LEAD) yang meroket hingga 33,71 persen.

Menurut lansiran TradingView, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya tekanan jual pada saham sektor teknologi.

“Indeks bursa global terkoreksi akibat tekanan jual di sektor teknologi. Indeks Kospi yang sebelumnya reli juga mengalami koreksi tajam dan memimpin pelemahan di kawasan Asia,” kata Alrich, Selasa (23/6/2026).

Advertisement

Selain itu, indeks futures di bursa Wall Street juga tercatat melemah, menambah tekanan terhadap pergerakan pasar saham domestik.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih cenderung wait and see menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.

Rupiah juga tercatat melemah 0,09% ke level Rp17.859 per dolar Amerika Serikat, yang turut menambah tekanan terhadap IHSG.

Secara sektoral, saham sektor teknologi mencatatkan koreksi terbesar sebesar 1,05%, sementara sektor kesehatan menjadi penopang dengan penguatan 3,97%.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pengumuman MSCI akan menjadi sentimen utama yang sangat krusial bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Advertisement

Menurutnya, pasar tengah mencermati kejelasan status freeze pada indeks Indonesia, menyusul penurunan penilaian pada kriteria Information Flow dalam laporan Global Market Accessibility Review MSCI.

“Jika MSCI mempertahankan status Emerging Market tanpa penurunan ke Frontier Market, maka respons pasar cenderung terbatas karena kekhawatiran terburuk tidak terjadi,” jelasnya.

Namun, ia menambahkan, sinyal positif terkait peluang pencabutan status freeze berpotensi mendorong arus masuk dana asing ke pasar domestik.

Rebound atau Lanjut Koreksi?

Gerak IHSG pada perdagangan Rabu (24/6/2026) diperkirakan akan sangat bergantung pada hasil pengumuman klasifikasi MSCI yang keluar dini hari nanti.

Advertisement
  • Skenario Bullish (Menguat): Jika MSCI mempertahankan Indonesia di kelas Emerging Market, hal ini akan menjadi katalis positif yang kuat. Aliran dana asing (capital inflow) berpotensi masuk kembali secara masif dan memicu aksi rebound teknikal menuju area resistance terdekat di kisaran 150–6.220.
  • Skenario Bearish (Melemah): Sebaliknya, jika hasil pengumuman di luar ekspektasi pasar, IHSG rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji kembali level psikologis dan area support kuat di rentang 950–5.990.

Untuk perdagangan Rabu (24/6/2026), Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.150.

Sementara itu, Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak dengan level support di 5.972 dan 5.848, serta resistance di 6.257 dan 6.377.

Phintraco Sekuritas dalam ulasan, Selasa (23/6/2026), memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 6.000-6.150 pada perdagangan Rabu (24/6/2026)

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan, IHSG akan rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji rentang area 5.723-5.972, selanjutnya masih terdapat peluang IHSG menguat ke rentang 6.548-6.782.

Secara teknikal, indeks diprediksi akan bergerak di rentang konsolidasi pendek dengan volatilitas tinggi pada sesi awal perdagangan esok hari. Investor disarankan untuk tetap mencermati saham-saham dengan fundamental solid yang sudah terkoreksi dalam (buy on weakness) sembari memantau sentimen global serta pergerakan nilai tukar pupiah.

Empat Sektor Menguat, Enam Melemah

Advertisement

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor menguat yaitu dipimpin sektor kesehatan yang naik sebesar 3,84 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor barang baku yang naik masing-masing sebesar 1,21 persen dan 0,52 persen.

Sedangkan enam sektor melemah yaitu sektor keuangan turun paling dalam minus 1,55 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor energi yang turun masing-masing sebesar 1,04 persen dan 0,87 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu LEAD, BALI, PTPW, ENAK, dan LAJU. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni ARKO, KIOS, CEKA, ZONE, dan FLMC.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.756.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 40,10 miliar lembar saham senilai Rp32,97 triliun. Sebanyak 294 saham naik, 398 saham menurun, dan 267 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 2.505,96 poin atau 3,46 persen ke 69.848,00, indeks Shanghai melemah 56,84 atau 1,37 persen ke 4.106,25, indeks Hang Seng melemah 432,24 poin atau 1,82 persen ke 23.336,28, dan indeks Strait Times menguat 1,73 poin atau 0,03 persen ke 5.205,74. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement