Ekonomi
Awal Pekan Cerah, Rupiah dan IHSG BEI Menguat, Emas Antam Naik, Pengaruh Apa?

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat, Senin (19/5/2025) dan emas PT Aneka Tambang (Antam) Tbk naik
FAKTUAL INDONESIA: Perdagangan awal pekan, Senin (19/5/2025), yang cerah bagi rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan emas PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan IHSG BEI ditutup menguat Senin sore.
Sedangkan harga emas Antam naik berdasarkan laman Logam Mulia dan stabil di situs remis Pegadaian.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini di Jakarta menguat sebesar 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.434 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.445 per dolar AS.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin justru melemah ke level Rp16.455 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.424 per dolar AS.
Seperti dilansir laman berita antaranews.com, pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi kontribusi hilirisasi terhadap capaian investasi di Indonesia.
Baca Juga : Ditutup Menguat, Rupiah 84 Poin, IHSG BEI 0,94 Persen dan Emas Antam Melonjak
“Pasar merespon positif tentang kontribusi hilirisasi terhadap capaian investasi Indonesia terus meningkat. Pada kuartal I 2025, program hilirisasi berhasil membawa investasi Rp136,3 triliun dari keseluruhan investasi periode tersebut yang sebesar Rp465,2 triliun,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Di samping itu, penguatan kurs rupiah juga dikarenakan penurunan peringkat utang Amerika Serikat AS) oleh Moody’s.
“Moody’s menurunkan peringkat investasi Aaa AS selama akhir pekan, dengan alasan kekhawatiran atas utang pemerintah yang meningkat dan kurangnya langkah-langkah yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. Penurunan peringkat tersebut membebani sentimen, yang dipicu oleh deeskalasi dalam (kesepakatan) tarif AS-Tiongkok (yang) mereda menjelang akhir minggu lalu,” katanya.
Aksi Net Buy
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup menguat di tengah pelemahan bursa saham kawasan Asia.
IHSG ditutup menguat 34,56 poin atau 0,49 persen ke posisi 7.141,09. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,50 poin atau 0,68 persen ke posisi 811,65.
“IHSG bergerak menguat di saat bursa regional Asia melemah, yang mana pasar merespon rilis data ekonomi China yang menunjukkan pertumbuhan penjualan ritel April 2025 melambat dan gagal memenuhi ekspektasi, memperkuat kekhawatiran atas permintaan konsumen yang lemah, output industri mengalahkan perkiraan tetapi melambat dari kecepatan Maret 2025,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus di Jakarta, Senin.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG BEI Ditutup Menguat, Eh .. Emas Antam Malah Anjlok
Dari dalam negeri, IHSG melanjutkan kenaikan seiring aksi net buy (beli bersih) oleh investor asing. Di sisi lain, dengan downgrade yang terjadi pada AS, berpotensi menimbulkan arus modal investor masuk ke emerging market, salah satunya Indonesia.
Bank Indonesia (BI) melaporkan pada pekan kedua Mei 2025, aliran modal asing masuk (capital inflow) ke Indonesia senilai Rp4,14 triliun, yang menunjukkan bahwa investor asing mulai kembali melakukan akumulasi, menandakan bahwa mereka secara bertahap kembali memasuki pasar saham Indonesia.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor transportasi & logistik yang menguat sebesar 2,65 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor energi yang naik masing-masing sebesar 2,11 persen dan 1,90 persen.
Sedangkan, dua sektor menurun yaitu sektor teknologi turun paling dalam minus sebesar 0,73 persen, diikuti oleh sektor properti yang turun sebesar 0,17 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ERTX, COCO, IDPR, TOBA dan BMTR. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DAYA, KOPI, NAIK, SSTM dan DKHH.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.432.159 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,50 miliar lembar saham senilai Rp14,80 triliun. Sebanyak 409 saham naik 225 saham menurun, dan 173 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 280,22 poin atau 0,74 persen ke 37,473,50, indeks Shanghai menguat 0,12 poin atau 0,00 persen ke 3.367,58, indeks Hang Seng melemah 12,33 poin atau 0,05 persen ke 23.332,72, dan indeks Strait Times melemah 20,67 poin atau 0,53 persen ke 3.877,20.
Baca Juga : Amerika – China Bersepakat, Rupiah dan IHSG BEI Ditutup Menguat, Emas Antam Naik Turun
Emas Antam Melesat
Harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia, Senin (19/5) mengalami kenaikan melesat Rp23.000, sehingga kini harga emas menjadi Rp1.894.000 dari semula Rp1.871.000 per gram.
Adapun harga jual kembali (buyback) emas batangan turut naik ke angka Rp1.738.000 per gram.
Sedangkan harga emas yang dikutip dari laman resmi Pegadaian, Senin (19/5/2025) menunjukkan harga tiga produk logam mulia, yakni buatan Antam, UBS dan Galeri24 yang tidak mengalami perubahan harga jual dari hari sebelumnya.
Emas Antam stabil di angka Rp1.946.000 per gram, setelah kemarin anjlok Rp21.000. Begitu pula emas Galeri24 yang tetap dibanderol Rp1.866.000 per gram.
Sementara emas buatan UBS tetap dijual di harga Rp1.897.000 per gram, setelah kemarin sempat anjlok Rp20.000.
Emas buatan Antam dan Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram. ***














