Connect with us

News

Target Ambisius? Dari 2.800 Menuju 300.000 Pemain: Saatnya Bridge Masuk Sekolah dan Institusi

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Roadmap Menuju Masa Depan Bridge Indonesia

Jika kita ingin mencapai 300.000 pemain pada tahun 2046, maka kita membutuhkan tambahan sekitar 297.000 pemain baru dalam dua puluh tahun.

Jika kita ingin mencapai 300.000 pemain pada tahun 2046, maka kita membutuhkan tambahan sekitar 297.000 pemain baru dalam dua puluh tahun.

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

FAKTUAL INDONESIA: Dalam artikel sebelumnya saya mengangkat visi yang disampaikan Presiden Indian Bridge Federation, Prasad Keni, pada pembukaan 5th Asia Bridge Cup 2026 di Goa.

India menargetkan memiliki 1 juta pemain bridge dalam 20 tahun ke depan.

Dari sana muncul pertanyaan:

Jika Indonesia ingin memiliki 300.000 pemain bridge pada tahun 2046, bagaimana cara mencapainya?

Advertisement

Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menentukan angkanya.

Karena target tanpa program hanyalah mimpi.

Dan program tanpa target hanyalah kegiatan rutin.

Indonesia membutuhkan keduanya.

Target yang jelas dan program yang terukur.

Advertisement

 

Dari Mana Pemain Baru Akan Datang?

Saat ini jumlah pemain Indonesia yang tercatat di World Bridge Federation (WBF) sekitar 2.800 orang.

Bahkan jika jumlah pemain yang tidak terdaftar kita masukkan, totalnya tetap relatif kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 300 juta jiwa.

Jika kita ingin mencapai 300.000 pemain pada tahun 2046, maka kita membutuhkan tambahan sekitar 297.000 pemain baru dalam dua puluh tahun.

Advertisement

Pertanyaannya sederhana.

Dari mana mereka akan datang?

Jawabannya juga sederhana.

Sekolah dan institusi.

Tidak ada sumber pemain baru yang lebih besar daripada kedua tempat tersebut.

Advertisement

 

Bridge Masuk Sekolah (BMS)

Jika ingin membangun masa depan bridge Indonesia, maka kita harus mulai dari generasi muda.

Selama puluhan tahun Indonesia telah menikmati manfaat pembinaan melalui sekolah dan kegiatan pelajar.

Namun setelah bridge tidak lagi menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan pelajar nasional, proses regenerasi menjadi jauh lebih sulit.

Advertisement

Karena itu Program Bridge Masuk Sekolah (BMS) harus menjadi prioritas nasional.

Tujuannya bukan langsung mencetak juara.

Tujuannya memperkenalkan bridge kepada sebanyak mungkin siswa.

Bridge mengajarkan:

  • Berpikir logis.
  • Komunikasi.
  • Kerja sama.
  • Disiplin.
  • Pengambilan keputusan.
  • Manajemen risiko.

Nilai-nilai tersebut sangat sesuai dengan tujuan pendidikan modern.

Sebenarnya Program Bridge Masuk Sekolah bukanlah sesuatu yang baru. Pada masa kepemimpinan Miranda S. Goeltom sebagai Ketua Umum PB GABSI, program ini pernah dijalankan dan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Bahkan pada saat itu bridge sempat menjadi salah satu cabang olahraga prioritas di lingkungan pendidikan nasional.

Advertisement

Sayangnya, seiring perubahan kebijakan dan pergantian kepemimpinan di kementerian terkait, bridge kemudian tidak lagi memperoleh tempat yang sama seperti sebelumnya.

Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukanlah memulai dari nol, melainkan menghidupkan kembali program yang pernah terbukti dapat dijalankan dengan baik.

 

Target BMS 2030

Sebagai tahap awal, GABSI dapat menetapkan target:

Advertisement
  • 100 sekolah aktif.
  • 10 provinsi pelaksana.
  • 10.000 siswa diperkenalkan pada bridge.
  • 1.000 pemain muda aktif.

Target ini cukup menantang tetapi masih realistis untuk dicapai dalam satu periode kepengurusan.

 

Bridge Masuk Institusi (BMI)

Namun sekolah saja tidak cukup.

Kita juga membutuhkan pertumbuhan pemain dari kalangan dewasa.

Di sinilah Program Bridge Masuk Institusi (BMI) menjadi penting.

Advertisement

Indonesia memiliki jutaan orang yang bekerja di:

  • Perguruan tinggi.
  • BUMN.
  • Perbankan.
  • Kementerian.
  • Pemerintah daerah.
  • TNI.
  • Polri.
  • Perusahaan swasta.
  • Organisasi profesi.

Mereka merupakan kelompok yang sangat potensial untuk mengenal bridge.

Banyak pemain bridge Indonesia pada masa lalu justru lahir dari kampus, militer, instansi pemerintah, dan dunia usaha.

Artinya, kita sebenarnya hanya menghidupkan kembali tradisi yang pernah berhasil.

Yang menarik, gagasan Bridge Masuk Institusi juga bukan sekadar konsep di atas kertas. Program ini telah mulai dirintis oleh Pengurus Kota GABSI Jakarta Pusat di bawah kepemimpinan Didi Andries.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa bridge memiliki peluang besar untuk diperkenalkan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia di berbagai lingkungan kerja dan organisasi.

Advertisement

Karena itu, tugas PB GABSI ke depan bukan lagi merumuskan konsep dasarnya, melainkan memperluas cakupan dan menjadikannya sebagai gerakan nasional.

 

Bridge sebagai Pelatihan Kepemimpinan dan Strategi

Keunggulan BMI adalah bridge tidak harus diperkenalkan sebagai olahraga kompetisi.

Bridge dapat diperkenalkan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia.

Advertisement

Bridge melatih:

  • Teamwork.
  • Strategic Thinking.
  • Leadership.
  • Problem Solving.
  • Decision Making.
  • Risk Management.

 

Keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern.

Karena itu bridge memiliki peluang besar masuk ke berbagai institusi sebagai bagian dari pengembangan kompetensi SDM.

 

EMBE: Jembatan Menuju Dunia Profesional

Advertisement

Salah satu tantangan terbesar memperkenalkan bridge kepada orang dewasa adalah anggapan bahwa bridge sulit dipelajari.

Karena itu diperlukan pendekatan yang lebih sederhana.

 

Executive Mini Bridge Exercise (EMBE) dapat menjadi salah satu solusi.

Melalui EMBE, peserta tidak harus langsung mempelajari bidding yang rumit. Mereka dapat langsung merasakan manfaat bridge dalam konteks komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Advertisement

Konsep ini sebenarnya telah mulai disusun dan dikembangkan oleh penulis dengan mengambil inspirasi dari materi Bridge Academy milik World Bridge Federation (WBF), kemudian diperkaya dengan berbagai aspek yang relevan bagi dunia kerja dan organisasi modern.

Fokus EMBE bukanlah mengajak orang menjadi pemain bridge terlebih dahulu.

Fokusnya adalah memperkenalkan manfaat berpikir ala bridge dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja.

Dengan pendekatan seperti ini, peserta akan melihat bridge bukan sekadar permainan kartu, melainkan sarana untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, analisis, dan pengambilan keputusan.

Seluruh fondasi dasarnya telah tersedia.

Advertisement

Tantangan berikutnya adalah bagaimana menerapkannya secara lebih luas melalui Program Bridge Masuk Institusi.

 

Target BMI 2030

Sebagai tahap awal, target yang dapat dicanangkan adalah:

  • 50 institusi aktif.
  • 10 perguruan tinggi.
  • 10 BUMN.
  • 10 instansi pemerintah.
  • 5 lingkungan TNI/Polri.
  • 15 perusahaan swasta atau organisasi profesi.

Dengan target:

  • 5.000 peserta baru mengenal bridge.
  • 1.000 pemain aktif baru.

Menuju 2034 dan 2046

Jika program berjalan baik, maka target berikutnya dapat ditingkatkan.

Advertisement

Tahun 2034

  • 500 sekolah aktif.
  • 200 institusi aktif.
  • 50.000 pemain baru.

Tahun 2046

  • 1.000 sekolah aktif.
  • 500 institusi aktif.
  • 300.000 pemain bridge Indonesia.

Target ini mungkin terdengar ambisius.

Tetapi tidak lebih ambisius dibandingkan target satu juta pemain yang dicanangkan India.

Bukan Lagi Mencari Ide, Tetapi Menjalankan Program

Jika dicermati, sesungguhnya banyak bagian dari roadmap ini sudah pernah dicoba.

BMS pernah dijalankan dan terbukti dapat diterapkan.

Advertisement

BMI sudah mulai dirintis di Jakarta Pusat.

EMBE telah disiapkan sebagai metode pendekatan kepada kalangan profesional dan institusi.

Dengan kata lain, tantangan terbesar GABSI ke depan bukan lagi mencari ide baru.

Tantangan sesungguhnya adalah menjadikan berbagai inisiatif tersebut sebagai gerakan nasional yang berkesinambungan.

 

Advertisement

Tugas Besar Ketua Umum Baru

Kongres Mamuju 2026 tentu akan memilih Ketua Umum PB GABSI yang baru.

Namun siapa pun yang terpilih nantinya harus menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan prestasi.

Tantangan terbesar adalah memperbesar komunitas bridge Indonesia.

Karena tanpa pemain baru, tidak akan ada atlet baru.

Advertisement

Tanpa atlet baru, tidak akan ada prestasi baru.

Dan tanpa prestasi serta pertumbuhan komunitas, bridge akan semakin sulit menarik perhatian masyarakat, sponsor, maupun pemerintah.

 

Penutup

Jika India berbicara tentang satu juta pemain, maka Indonesia harus mulai berbicara tentang bagaimana menciptakan pemain-pemain itu.

Advertisement

Bridge Masuk Sekolah dan Bridge Masuk Institusi bukan sekadar program pembinaan.

Keduanya adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bridge Indonesia.

Karena pada akhirnya, masa depan bridge Indonesia tidak ditentukan oleh berapa banyak medali yang kita miliki hari ini.

Tetapi oleh berapa banyak orang yang mulai belajar bridge hari ini.

Target tanpa program hanyalah mimpi. Bridge Masuk Sekolah dan Bridge Masuk Institusi adalah jembatan menuju 300.000 pemain bridge Indonesia. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca
Advertisement