Connect with us

Politik

Said Aqil: Pada Muktamar NU Tahun 1936 Disepakati Indonesia Negara yang Damai

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, menyatakan prinsip toleran dimana umat Islam sebagai mayoritas harus melindungi umat yang minoritas di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, menyatakan prinsip toleran dimana umat Islam sebagai mayoritas harus melindungi umat yang minoritas di Indonesia.

FAKTUALid – Nahdlatul Ulama (NU) dilahirkan oleh KH Hasyim Asy’ari dengan prinsip Islam moderat dan toleran.

Pada  Muktamar NU Tahun 1936 telah disepakati jika Indonesia bukan negara Islam, tetapi negara yang damai, merangkul semua komponen agama dalam satu nusa dan satu bangsa.

Demikian dikemukakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dalam webinar dengan tema, langkah nyata merajut kebhinekaan secara daring di Jakarta.

“NU dilahirkan dengan prinsip Islam moderat, anti radikalisme, anti ekstrimisme apalagi terorisme,” kata Said, Jumat.

Said menyatakan prinsip toleran dimana umat Islam sebagai mayoritas harus melindungi umat yang minoritas di Indonesia.

Advertisement

“Percuma Islam kalau tidak toleran,” ujar Said seperti dilansir antaranews.com. “Kalau betul-betul paham agama, Islam itu jauh dari cari maki dan menyakiti orang lain,” ujar Said.

Said menjelaskan dalam kitab suci Alquran sudah ditegaskan untuk jangan sekali-kali mencaci maki orang-orang yang tidak menyembah Allah SWT. Karena demikianlah telah diciptakan setiap umat atau kelompok yang mempunyai kebanggaan mereka masing-masing.

“Kita tidak boleh meremehkan dan jangan mencaci maki, sebaiknya kita hormati mereka,” pesan Said.

Selain itu, tujuan lahirnya NU yakni memperkuat persaudaraan sesama umat Islam, menguatkan persaudaraan sebangsa dan setanah air dan persaudaraan sesama umat manusia.

“Semua agama mengajarkan kemanusiaan, keharmonisan dan berupaya berjuang menata kehidupan yang harmonis,” jelas Said.

Advertisement

Dia menegaskan semua warga yang ada di Indonesia ini adalah saudara, tidak boleh ada yang menganggap musuh, karena kekuatan yang menyatukan semua pihak.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP) tersebut mengatakan faktor kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan menjadi pintu masuk paham radikalisme, ekstrimisme hingga terorisme.

“Dari kelemahan itu, yang paling mudah untuk membakar emosi masyarakat dengan menggunakan bahasa agama,” kata Said.

Said Aqil menegaskan dalam merajut kebhinekaan dimulai dari lingkunga terkecil, yakni keluarga.

“Mengajarkan kesetaraan, kemanusiaan dan keharmonisan harus dimulai dari level keluarga, baru di lingkungan sekitar dan terus semakin dibesarkan,” kata Said.

Advertisement

Mantan Menteri Agama itu  meminta kepada semua umat beragama untuk terus bekerjasama, memperkuat pemahaman, saling melakukan pendekatan satu dengan yang lain.

“Bukan hanya ketika krisis. Jangan ketika hanya ada masalah baru bertemu,” kata Said menegaskan.

Said meminta agar komunikasi dilakukan jauh diluar sebelum adanya persoalan atau kasus. Seharusnya kata Said, bisa bertemu dan berbaur di segala bidang untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan. Dia mencontohkan kebersamaan dibagun di bidang kesehatan, pendidikan, pelatihan bersama hingga persoalan kebersihan lingkungan. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement