Olahraga
Dua Ikon di Klubnya, Satu Dipecat, Satu Akibat Kemampuan Finansial Klub

FAKTUALid – Boaz Solossa dan Lionel Messi, keduanya sudah menjadi ikon di klubnya masing-masing. Boaz menjadi ikon di Persipura sementara Messi ikon Barcelona. Keduanya pun harus hengkang dari klub yang membesarkan namanya.
Sayangnya, berbeda dengan Messi yang harus pergi karena ketidakmampuan klub membayar gajinya, Boaz justru pergi karena dipecat.
Kebersamaan 17 tahun Boaz Solossa bersama Persipura Jayapura berakhir tragis. Penyerang berusia 35 tahun itu dipecat dari tim karena kasus indisipliner berat dan berulang.
Tidak hanya Boaz Solossa, pemain senior lainnya, Yustinus Pae, juga dicoret dari oleh Persipura.
“Dengan sangat berat, kami memutuskan untuk melepas Boaz Solossa dan Pae,” kata Ketua Persipura, Benhur Tomi Mano dalam rilisnya di akun Instagram klub, @persipurapapua1963 pada 5 Juli 2021.
“Apakah hal-hal indisipliner ini sudah sering terjadi? Ya, benar. Para pemain atau ofisial atau yang berada dan pernah berada di tim ini pasti tahu. Silakan ditanyakan saja kalu kami dianggap berbohong.”
“Hampir setiap tahun hal ini terjadi, berlangsung terus-menerus. Kami selalu sabar serta mentoleransi pelanggaran mereka. Apakah kami tidak menghargai mereka?”
“Kami terlalu sayang, hormat, dan menghargai mereka. Sampai kami rela disindir oleh pihak lain karena dianggap terlalu lemah dengan mereka. Tapi kami tetap sabar karena kami menghormati mereka.”
“Kami terus menunggu mereka berubah. Banyak pemain muda kami yang menjadikan mereka sebagai contoh. Tapi tidak ada perubahan. Kami sabar. Tuhan Yang Maha Esa maha tahu segalanya. Tetapi untuk kali ini, bagi kami sudah kelewatan,” terang Wali Kota Jayapura, Papua ini.
Boaz dan Yustinus Pae mengakui menenggak minuman keras sebelum pencoretan terjadi.
“Mengenai kesalahan indisipliner itu, kami harus siap dengan keputusan manajemen, tapi saya kira kejujuran merupakan hal yang sangat berarti. Yustinus Pae jujur kepada pelatih kalau dia sempat minum. Mungkin sebenarnya pelatih sudah tahu, dan setelah berbicara jujur itu kami tetap bermain,” imbuh Boaz.
Pelatih Persipura, Jacksen Tiago bahkan mengindetifikasi perilaku dari Yustinus Pae dan Boaz sebagai “sesuatu yang berbahaya, mengarah ke doping, mengancam nyawa, hingga bisa kolaps di lapangan” ketika beruji coba dengan Persita Tangerang pada 13 Juni 2021.
“Semua orang tahu kalau pengaruh dari meminum minuman keras itu sudah hilang satu hari setelahnya. Ketika meeting dalam ruang ganti sebelum uji coba, saya bilang ke coach bahwa saya dan Boaz memang minum. Semuanya terserah kepada coach. Apakah mau menurunkan kami atau tidak,” jelas Yustinus Pae.
“Coach menjawab, karena saya dan Boaz sudah diproyeksikan bermain, maka kami berdua tetap bermain. Setelah kami bermain, terjadi kekacauan itu. Saya lebih dulu diganti pada babak pertama, baru Boaz di paruh kedua.”
“Setelah kami diganti, baru ada insiden itu. Setelah kejadian itu, laga dihentikan dan kami masuk ruang ganti. Coach bicara banyak. Akhirnya semua dikaitkan dengan perbuatan kami. Coach juga bilang bahwa kejadian itu buntut dari perbuatan kami,” tutur Yustinus Pae.
Hijrah dari Persipura, Boaz bergabung dengan Borneo FC. Sementara Yustinus Pae, masih belum mendapatkan klub hingga saat ini.
Sepanjang kariernya, Boaz telah menyumbangkan tiga gelar Liga Indonesia pada 2005, 2008/2009, 2010/2011, dan 2013 plus satu trofi Indonesia Soccer Championship (ISC) pada 2016.
Selain itu, pemain yang karib dipanggil Bochi ini juga tiga kali menjadi top scorer dan pemain terbaik Liga Indonesia pada 2008/2009, 2010/2011, dan 2013.(Syawal)














