Connect with us

News

Gunung Semeru Meletus, Kegundahan Sang Penyeimbang

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Oleh; Gungde Ariwangsa SH

FAKTUAL-INDONESIA: Gunung Semeru meletus lagi, Sabtu (4/12/2021). Lambang penyeimbang Pulau Jawa ini kembali menunjukkan keaktifannya setelah hampir setiap tahun erupsi. Semeru seperti ingin menunjukkan kegundahannya dalam menjaga keseimbangan. Terus memberi peringatan bahwa  belum adanya keseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketimpangan masih terjadi di sana-sini sehingga Semeru terus memberi reaksi.

Berdasarkan catatan sejarah Gunung Semeru pernah meletus sangat besar pada 200 tahun lalu tepatnya 8 November 1818. Hingga 1913 letusan tak banyak terdokumentasikan. Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Kemudian berlanjut 1977, 1978 – 1989, 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, 2008, 2020 dan 2021.

Gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) ini juga sering disebut Gunung Meru. Dari legenda, Gunung Semeru diciptakan para dewa untuk menjaga keseimbangan Pulau Jawa. Dalam kitab kuno Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang.

Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa. Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Advertisement

Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan.

Akhir Bencana

Kali ini, erupsi gunung yang terletak di Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur itu, begitu tiba-tiba sehingga cukup mengagetkan. Dari informasi korban yang terdampak dapat dikatakan letusan Semeru terhitung dahsyat. Sejumlah video amatir yang viral di media sosial, menampakan ketakutan masyarakat atas amuk Gunung Semeru. Gumpalan asap membumbung tinggi membuat warga lari histeris.

Warga yang melihat letusan berlari menyelamatkan diri menghindari kejaran awan pekat dan panas. Guguran awan panas meluncur menuju Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Pronojiwo, Lumajang. Erupsi itu menyebabkan sejumlah orang terluka dan sejumlah penambang pasir masih terjebak.

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar  menyampaikan, hampi semua rumah di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, hancur akibat dari letusan Gunung Semeru. Kerusakan jembatan juga terjadi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, yang memutus akses tunggal antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Di Desa Sumberwuluh yang terdapat area tambang ada dua orang yang hilang sampai saat ini belum ditemukan. Selain itu ada sekitar delapan orang yang terjebak di kantor milik perusahaann tambang.

Advertisement

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kapusdatin BNPB Abdul Muhari mengungkapkan bahwa hingga Minggu (5/12/2021) pukul 06.20 WIB, terdapat 13 korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, dengan teridentifikasi baru dua orang atas nama Poniyim 50 tahun, dan Pawon Riyono. Untuk 11 korban lainnya masih dalam proses identifikasi jenazah oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang.

Berangkat dari legenda terciptanya Semeru, letusan-letusan gunung tertinggi ketiga di Tanah Air  itu ada yang mengaitkan perannya sebagai penyeimbang Pulau Jawa atau bahkan mungkin Indonesia. Kemunculan letusan di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang belum kunjung berakhir bisa dijadikan lambang Semeru mencari keseimbangan untuk mengusir pageblug atau bencana wabah sehingga kehidupan rakyat kembali normal.

Bisa juga Semeru tengah mencari keseimbangan untuk kehidupan rakyat kecil yang semakin sulit, berat dan tertekan. Ada peringatan agar wong cilik benar-benar diperhatikan secara nyata. Bukan hanya sekadar janji atau ucapan di bibir saja.

Bila dikaitkan dengan bencana-bencana alam lainnya di berbagai pelosok negeri, peringatan Semeru menjadi pemuncak dari kegundahan belum seimbangnya pengelolaan negara ini. Di mana-mana alam bereaksi baik melalui gunung meletus, banjir, tanah longsor, kebakaran, dan wabah penyakit. Bila alam bereaksi, sekecil apa pun, bisa dijadikan cermin adanya gangguan pada keseimbangan hidup.

Banyak juga yang mengakitkan kegundahan Semeru dan reaksi alam di berbagai daerah sebagai tanda akan lahirnya pemimpin yang adil. Lahirnya satrio peningit. Harapan yang muncul bila pemimpin tidak menjalankan kepemimpinannya untuk rakyat yang dipimpinnya.

Advertisement

Adakah ini peringatan untuk para pemimpin atau rakyat? Bila semua sadar tentu ini peringatan untuk semua penghuni alam. Agar semua bertindak sesuai dengan janji kebaikan, kesejahteraan, keadlian dan keseimbangan yang terucap. ***

= = = = = = = = =

‘HUBUNGI KAMI’

Apakah Anda tertarik  dengan informasi yang diangkat dalam tulisan ini? Atau Anda memiliki informasi atau ide soal politik, ekonomi, hukum dan lainnya? Bagikan pengalaman dan pendapat Anda dengan mengirim email ke aagwared@gmail.com

Harap sertakan foto dan nomor kontak Anda untuk konfirmasi. ***

Advertisement

= = = = = = = = =

Lanjutkan Membaca
Advertisement