Nusantara
Hindarkan Perusakan, Lestarikan Terumbu Karang Indonesia

Para pakar kelautan berdiskusi di kanal Sudut Terumbu. (Istimewa)
FAKTUALid – Ketika orang ramai berdebat tentang siasat terhindar dari pandemi Covid-19, mereka menjadi lupa, bahwa sejatinya masih ada sisi kehidupan lain yang saat ini mulai terancam punah, dan butuh langkah konkret untuk melestarikannya
Kehidupan lain itu, terkait tumbuh kembang biota laut yang dikenal sebagai terumbu karang. Dimana saat ini hanya kalangan tertentu saja, yang masih mau peduli pada kelestarian terumbu karang di Indonesia, yang semakin mendapat tekanan dan gangguan sangat kuat.
Melihat kondisi memprihatinkan itu, Dosen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, yang juga peneliti terumbu karang, Dr Ir Munasik MSc, membuka kanal Sudut Terumbu Live, guna membahas kesehatan terumbu karang dengan sejumlah pakar kelautan dan peneliti terumbu karang di Indonesia.
“Saat ini, Sudut Terumbu Live yang saya asuh, telah masuk pada episode 4 dan 5,” terang Munasik kepada FAKTUALid, Senin (5/7/2021).
Ia memaparkan, Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, telah merilis indeks kesehatan terumbu karang sejak 2018 untuk menggambarkan kondisi terumbu karang di berbagai wilayah di Indonesia. Tapi bagaimana kesehatan terumbu karang dapat diukur? Belum banyak diketahui.
Bahkan, P2O LIPI selaku wali data terumbu karang nasional, sudah melakukan monitoring kesehatan terumbu karang di berbagai wilayah yang melibatkan para peneliti terumbu karang Indonesia yang tersertifikasi. Melalui pengembangan metode pengamatan terumbu karang yang standar telah tersedia data kondisi terumbu karang dan eksosistem terkait.
Kondisi terumbu karang dinilai dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), yaitu keadaan substrat terumbu dipotret dibawah laut, kemudian data gambar tersebut diolah dan dianalisis dengan metode analisis yang standar untuk menghasilkan indeks kesehatan terumbu karang Indonesia.
Peneliti muda P2O LIPI yang menjadi nara sumber dalam Sudut Terumbu, Muhammad Abrar MSi, mengatakan pemulihan akibat gangguan lingkungan yang akut, sebagai dampak pemutihan karang (coral bleaching) atau predasi karang secara luas, diperkirakan pemulihan secara alami dapat terjadi baik oleh rekrutmen karang maupun pemulihan karang dewasanya.
Laju rekrutmen akan meningkat apabila sumber larva karang dari terumbu karang yang sehat, tersedia disekitarnya. Akan tetapi kerusakan terumbu karang secara kronis, dimana tekanan terjadi terus menerus, biasanya akibat aktivitas manusia, misalnya disebabkan pencemaran limbah domestik, sehingga kondisi terumbu karang bersifat stable, tidak kunjung membaik dan justru terjadi penurunan dari waktu ke waktu.
Munasik yang bertindak sebagai host menambahkan, umumnya pada kerusakan kronis, substrat yang terbuka akan ditumbuhi alga sehingga mengurangi rekrutmen. Akibatnya kemampuan pulih terumbu karang yang disebabkan kerusakan kronik sangat rendah.
Dalam diskusi mengemuka, bahwa tersedianya substrat dan sumber larva karang (anakan karang) menjadi faktor yang mempengaruhi laju rekrutmen karang dan dampaknya terhadap keberhasilan pemulihan karang.
“Sudut Terumbu menyimpulkan, kaitannya dengan pengembangan indeks kesehatan terumbu karang ke depan, maka aspek kemampuan pulih terumbu karang dapat berpotensi menjadi komponen atau variabel tambahan berupa data laju rekrutmen di lingkungan terumbu karang. Untuk mendapatkan data tersebut diperlukan kesamaan metode pengumpulan dan pengolahan data yang standar dan sederhana sehingga mudah dilakukan oleh peneliti terumbu karang di seluruh Indonesia,” pungkas Munasik.***














