Connect with us

Nusantara

Pemerintah Diminta Beri Kesempatan Disabilitas untuk Produktif

Diterbitkan

pada

Tokoh disabilitas Solo, Sugian Noor menggunakan motor modifikasi untuk difabel yang diberikan Yayasan Loveland Indonesia dan Yayasan Tawon Gulo Indonesia. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Kesempatan untuk lebih produktif dan inovatif bagi penyandang disabilitas di Indonesia dinilai masih sangat kurang. Sebab pemerintah kurang memberikan kesempatan tersebut kepada disabilitas.

“Harapannya pemerintah kasih dong kesempatan, karena saat kami diberi kesempatan akan lebih produktif dan inovatif. Selama ini stigma difabel kan gak enak, non produktif, miskin, bodoh, ketergantungan. Stigma negatif itu kadang membuat swasta dan pemerintah sendiri bimbang saat memberikan kesempatan,” kata tokoh disabilitas Kota Solo yang juga pengajar di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo, Sugian Noor, di sela-sela menerima bantuan motor modifikasi untuk difabel dari Yayasan Tawon Gulo Indonesia dan Loveland Indonesia di Ngarsopuro  Mangkunegaran Solo, Jumat (3/12/2021).

Sugian juga menyayangkan pejabat pemerintah yang tidak paham dengan penyandang disabilitas. Seharusnya pejabat pemerintah memahami dulu dunia difabel seperti apa, kebutuhan aoa yang diinginkan serta paham apa yang bisa dikerjakan dan tidak bisa mereka kerjakan.

“Contohnya Bu Risma ( Menteri Sosial, Tri Rismaharini) yang mengatakan kepada penyandang tunarungu, kamu bisa bicara. Bu Risma gak tahu sampai Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) protes,” katanya lagi.

Lebih lanjut Sugian mengatakan selama ini penyandang disabilitas jarang berada di perusahaan atau instansi formal, karena perusahaan masih enggan merekrut penyandang disabilitas.

Advertisement

Meskipun sudah diatur dalam UU 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menyatakan kuota tenaga kerja difabel dari 100 orang pekerja ada satu untuk difabel. Tetapi dalam UU tersebut tidak dituliskan mengenai sanksi.

“Jadi implementasi di perusahaan masih biasa. Misal perusahaan gak angkat difabel juga gak papa kok, kecuali di pasal berikutnya ada bilamana tidak ada pekerja difabel dikenakan sanksi. Ditambah lagi ada setiap lowongan kerja tertulis syarat harus sehat jasmani dan rohani,” jelasnya.

Sementara itu, untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang jatuh tanggal 3 Desember, Yayasan Tawon Gulo Indonesia dan Loveland Indonesia memberikan apresiasi kepada Sugian Noor dengan memberikan motor modifikasi untuk difabel.

Menurut Founder Yayasan Loveland Indonesia, Mujadi Tani, pemberikan motor modifikasi difabel tersebut untuk mengapresiasi perjualan Sugianur dalam membimbing dan mengajari anak-anak disabilitas belajar musik.

“Kenapa dipilih Om Gik (Sugian Noor)  ya karena dia berbuat. Kalau difabel mungkin banyak tapi sosok Om Gik ini dia berjuang dan peduli pada anak-anak dengan mengajari bermain musik,” jelas Mujadi seusai memberikan motor modifikasi kepada Sugian Noor.

Advertisement

Untuk membuat motor modifikasi untuk difabel tersebut dibutuhkan waktu hingga enam bulan. Perakitan motor tersebut dilakukan di bengkel khusus yang juga milik penyandang disabilitas.

“Dananya dari  kolektif kita open donasi selama satu tahun. Untuk merakit motor modifikasi ini butuh biaya Rp16 juta,” ujarnya.

Selain motor modifikasi pada kesempatan itu juga diberikan SIM D dari Satlantas Kota Solo. Motor modifikasi tersebut diberikan untuk menunjang aktivitas Sugian Noor sebagai pengajar di SLB YPAC Solo.

Selama ini untuk beraktifitas mengajar selalu berjalan dengan kursi roda dengan didorong anak-anaknya. Saat ini dengan bantuan tersebut, Sugian bisa menjalankan aktivitasnya lebih mudah. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement