Nasional
Waspadai Ancaman Utama setelah Status Gunung Semeru Turun ke Level Siaga, Jangan Beraktivitas di Besuk Kobokan

FAKTUAL INDONESIA: Masyarakat perlu mewaspadai ancaman utama yang muncul dalam waktu dekat setelah status Gunung Semeru diturunkan dari Level IV (Awas) menjadi Level III (Siaga).
Menurut Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria, penurunan level Semeru seiring dengan menurunnya aktivitas gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang Jawa Timur itu.
Namun seperti dimust dalam keterangan tertulis yang diterima di Kabupaten Lumajang, Jatim, Sabtu (29/11/2035), Lana Saria mengemukakan, ancaman utama dalam waktu dekat yaitu berupa awan panas guguran dan potensi lahar seiring intensitas hujan yang meningkat.
Baca Juga : Status Tanggap Darurat Akibat Erupsi Gunung Semeru Diperpanjang Hingga 2 Desember 2025
“Gunung Semeru berstatus Siaga, sehingga kami meminta masyarakat/ pengunjung/ wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi),” katanya.
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/ puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu panas (pijar),” ujarnya.
Baca Juga : Sebanyak 651 Prajurit TNI Dikerahkan untuk Percepatan Pemulihan Usai Semeru Erupsi
Dia mengatakan, berdasarkan hasil analisis dan evaluasi maka maka terhitung dari tanggal 29 November 2025 pukul 09.00 WIB, tingkat aktivitas Gunung Semeru diturunkan dari Level Awas menjadi Siaga.
Menurutnya hasil evaluasi terpadu terhadap data pemantauan menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Semeru setelah 19 November 2025 masih didominasi oleh proses permukaan tanpa indikasi adanya peningkatan suplai magma baru dari kedalaman.
“Secara visual, teramati letusan berulang berskala kecil–menengah dengan kolom asap putih–kelabu setinggi 300–1.000 meter. Guguran lava teramati dengan jarak luncur 800–1000 meter ke Besuk Kobokan,” tuturnya.
Baca Juga : Pengungsi Gunung Semeru Terus Bertambah, Usai Hari ke-4 Erupsi
Ia menjelaskan aktivitas letusan berskala kecil-menengah tidak diikuti oleh indikasi penguatan suplai magma baru dan hal itu diperkuat oleh rendahnya aktivitas gempa vulkanik, menandakan bahwa tekanan magmatik di kedalaman tidak mengalami peningkatan signifikan.
“Parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) sempat mengalami penurunan menjelang kejadian awan panas 19 November 2025 dan kemudian cenderung kembali stabil, menandakan bahwa sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi,” katanya.
Data kegempaan dan deformasi menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti intrusi baru atau peningkatan tekanan magmatik. ***














