Internasional
Ziarah 3.700 Kilometer Para Biksu Theravada di AS, Menyemai Damai dari Texas hingga Washington

Ritual Thudong kerap dilakukan oleh biksu Thailand untuk sebarkan misi perdamaian. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Sebuah perjalanan spiritual lintas benua tengah berlangsung di Amerika Serikat. Sekelompok biksu Buddha Theravada dari berbagai negara menjalani ziarah berjalan kaki sejauh sekitar 3.700 kilometer, membawa pesan perdamaian, welas asih, dan kerukunan umat manusia di tengah masyarakat modern yang sarat ketegangan.
Perjalanan yang dikenal sebagai thudong ini dimulai dari Kuil Huong Dao di Fort Worth, Texas, pada 26 Oktober 2025. Rombongan dijadwalkan mencapai Washington, D.C., pada pertengahan Februari 2026.
Selain sebagai praktik spiritual, perjalanan panjang ini juga mengusung misi simbolis: mengusulkan kepada Kongres Amerika Serikat agar Hari Raya Vesak atau Waisak diakui sebagai hari libur federal.
Baca Juga : Bertemu Para Biksu Buddha Senior, Dalai Lama akan Umumkan Reinkarnasi, Lahir di Luar China
“Dengan pengakuan tersebut, Vesak dapat menjadi momentum refleksi universal untuk menumbuhkan welas asih, kesadaran, dan harmoni, tanpa melihat perbedaan keyakinan,” ujar Long Si Dong, juru bicara Kuil Huong Dao.
Dalam ziarah ini, para biksu tidak berjalan sendirian. Seekor anjing penyelamat bernama Aloka setia menemani langkah mereka. Aloka pertama kali bertemu pemimpin rombongan, Biksu Pannakara, saat ziarah di India pada 2022.
Sejak itu, kehadiran Aloka menjadi simbol ketulusan dan kekuatan batin, sekaligus menarik perhatian jutaan warganet yang mengikuti perjalanan ini melalui media sosial.
Meski kerap disambut hangat oleh masyarakat di berbagai kota, perjalanan ini juga diwarnai cobaan berat. Pada 19 November 2025, sebuah truk menabrak kendaraan pengawal rombongan di Texas.
Baca Juga : Para Biksu dari Thailand Berjalan Kaki Menuju Candi Borobudur, Tiba di Cirebon
Insiden tersebut melukai dua biksu, dan satu di antaranya harus kehilangan kaki. Akibatnya, jumlah peserta kini berkurang menjadi 18 orang.
Tantangan fisik semakin terasa ketika para biksu harus menapaki jalan-jalan aspal Amerika Serikat bagian selatan yang dipenuhi paku dan pecahan kaca.
Berbeda dengan Asia, mereka tidak memiliki akses ke jalur alami seperti sawah atau ladang karena sebagian besar lahan merupakan milik pribadi. Banyak biksu memilih berjalan tanpa alas kaki sebagai latihan kesadaran penuh.
“Di India, kami bisa mencari jalur yang lebih lembut. Di sini, kami harus menerima kenyataan apa adanya,” tutur Biksu Pannakara.
Baca Juga : 32 Biksu Tiba di Semarang, Pemerintah Kota Bakal Kawal Hingga ke Borobudur
Namun, kelelahan itu kerap terobati oleh kehangatan warga. Di Saluda, South Carolina, seorang warga bernama Audrie Pearce mengaku terharu setelah bertemu rombongan tersebut. Ia menyebut kehadiran para biksu menghadirkan ketenangan di tengah maraknya trauma dan kekerasan di Amerika.
Pesan toleransi juga terasa kuat saat rombongan singgah di Opelika, Alabama, pada malam Natal. Mereka disambut Pendeta Patrick Hitchman-Craig di gerejanya yang dipenuhi sekitar 1.000 jemaat.
“Siapa pun yang mengorbankan diri untuk melayani perdamaian berada sangat dekat dengan hati Tuhan,” kata Pendeta Craig.
Melalui meditasi Vipassana dan interaksi langsung dengan masyarakat, para biksu ini menegaskan bahwa tujuan utama perjalanan mereka bukan sekadar mencapai Washington, melainkan menanamkan benih kedamaian batin di setiap langkah yang mereka tempuh.***














