Connect with us

Ekonomi

Rupiah Rabu 20 Mei 2026: Bangkit Menguat di Harkitnas Respon Intervensi BI dan Pidato Presiden Prabowo

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Rabu 20 Mei 2026: Bangkit Menguat di Harkitnas Respon Intervensi BI dan Pidato Presiden Prabowo

Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai respon positif pasar terhadap pidato Presiden Prabowo di DPR RI dan keputusan Bank Indonesi menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, Rabu (20/5/2026). (Foto : Istimewa)

FAKTUAL INDONESIA:  Setelah sempat tertekan dan membuat pasar khawatir di awal pekan, nilai tukar (kurs) rupiah mulai unjuk gigi, Rabu (20/5/2026). Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), rupiah bangkit dari posisi melemah saat pembukaan menjadi menguat pada penutupan perdagangan valuta asing hari ini.

Perjalanan rupiah hari ini sejatinya dipenuhi drama. Pada pembukaan pasar pagi, rupiah sempat loyo dan anjlok ketika dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.743 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.706 per dolar AS. Bahkan menyentuh hingga ke level Rp17.738 per dolar AS. Pelemahan ini sempat memicu kekhawatiran karena menyentuh salah satu titik terlemahnya tahun ini.

Baca Juga :  Gubernur BI Yakin Rupiah Akan Kembali Stabil

Namun, kombinasi antara intervensi langsung BI di pasar valas serta respons positif investor terhadap kenaikan suku bunga langsung membalikkan keadaan pada siang hingga sore hari.

Setelah intervensi agresif dan langkah berani Bank Indonesia (BI), serta pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, mata uang Garuda sukses berbalik arah dan ditutup menguat signifikan.

Bahkan pada perdagangan intraday pukul 14.25 WIB, rupiah sempat menyentuh level terkuatnya di posisi Rp17.605 per dolar AS.

Advertisement

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah sore ini parkir di level Rp17.654 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan penguatan sebesar 52 poin atau 0,29 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang sempat terpuruk di angka Rp17.706 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.685 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.719 per dolar AS.

Baca Juga : Rupiah Senin 18 Mei 2026: Ambles, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Lagi, Jadi Ingat Orang Desa

Jawara di Kawasan Asia

Menariknya, performa impresif ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia sepanjang hari ini.

Melesatnya rupiah sore ini sukses mengungguli mata uang utama Asia lainnya. Di belakang rupiah, yuan China dan ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan masing-masing sebesar 0,11 persen, disusul dolar Singapura yang terapresiasi 0,10 persen. Sebaliknya, rupee India justru menjadi yang paling merana setelah melemah 0,35 persen terhadap the greenback.

Advertisement

Selain faktor domestik, meredanya tekanan pada rupiah juga sedikit terbantu oleh sentimen global setelah adanya sinergi komunikasi dari petinggi AS terkait peluang percepatan perundingan damai dalam konflik Timur Tengah, yang perlahan mulai mendinginkan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga : Rupiah Rabu 13 Mei 2026: Bangkit Perkasa Jadi Mata Uang Terkuat Asia, Potensi Melemah Mengancam

Jurus BI Rate 5,25%

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan penguatan rupiah sebagai respon positif pasar terhadap pidato Presiden Prabowo di DPR RI dan keputusan Bank Indonesi menaikkan suku bunga acuan, BI Rate.

Prabowo di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% pada 2027.

“Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan inflasi di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen,” kata Ibrahim kepada wartawan.

Advertisement

Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3 persen. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diasumsikan US$70-US$90 per barel.

Adapun lifting minyak mentah 602 ribu barel per hari hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 934 ribu barel setara minyak per hari hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.

Baca Juga : Rupiah Menguat ke Bawah Rp 17.500 per Dolar AS, BI Soroti Dampak Konflik Timur Tengah

Terkait APBN, tahun depan pemerintah turut menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82 hingga 12,40% dari PDB, belanja negara 13,62 hingga 14,80% dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4% dari PDB.

Menurut Ibrahim, penguatan rupiah, juga disebabkan oleh keputusan Bank Indonesi menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 50 basis poin ke level 5,25%. Suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25% dan Lending Facility sebesar 6.25%. Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun.

Keputusan ini, menurut BI, dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1%.

Advertisement

Langkah taktis ini diambil demi membendung dampak ketidakpastian global yang kian memburuk akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan valuta asing (valas) musiman di dalam negeri untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal II-2026.

“Keputusan ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 tetap terkendali,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Baca Juga : Rupiah Selasa 12 Mei 2026: Kembali Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Alarm Stabilitas Moneter Nasional

Tantangan Jangka Pendek

Meski menguat, rupiah masih dibayangi oleh sejumlah tantangan jangka pendek. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kekhawatiran arus modal asing keluar (capital outflow) tetap menjadi perhatian.

Di kancah global, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menantikan risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dan data ekonomi Amerika Serikat terbaru. Kondisi ini sempat mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Advertisement

“Tensi geopolitik global dan penguatan dolar AS secara umum turut meningkatkan kehati-hatian investor di pasar keuangan,” kata Tiffani Safinia, Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), seperti dilansir mediaindonesia.

Untuk perdagangan Kamis (21/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp 17.650-Rp 17.700 per dolar AS. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement