Connect with us

Ekonomi

IHSG BEI Selasa 26 Mei 2026: Ambles Lagi Terseret Profit Taking, Setelah Libur Tetap Fluktuatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham domestik kembali ambles ke zona merah Selasa (26/5/2026). (Ist)

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham domestik kembali ambles ke zona merah Selasa (26/5/2026). (Ist)

FAKTUAL INDONESIA:  Hanya satu malam usia penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham domestik  kembali ambles ke zona merah Selasa (26/5/2026).

IHSG BEI gagal mempertahankan kekuatannya setelah sempat pamer performa hijau pada hari sebelumnya.

Hari ini  bursa saham kebanggaan tanah air harus rela merana dibuka dan ditutup di zona merah. IHSG parkir dengan pelemahan sekitar 0,91%, tertekan oleh aksi ambil untung (profit taking) dan lesunya saham-saham berkapitalisasi besar.

Langkah IHSG hari ini tampaknya dibayangi oleh kehati-hatian para pelaku pasar yang kembali masuk mode wait and see. Koreksi ini sekaligus membawa indeks menguji area support psikologis barunya.

Melihat kondisi itu IHSG dikhawatirkan masih akan mengikuti tren melemah setelah libur Idul Adha. BEI menetapkan libur bursa dalam rangka hari raya dan cuti bersama Idul Adha pada Rabu-Kamis, 27-28 Mei 2026. Sementara pada Jumat, 29 Mei 2026, bursa saham akan beroperasi seperti biasa.

Advertisement

Sektor Energi Jadi Beban

Tanda-tanda IHSG akan terpuruk hari ini sudah terlihat pada pembukaan perdagangan Selasa pagi ketika dibuka melemah 4,55 poin atau 0,07 persen ke posisi 6.201,80. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,83 poin atau 0,29 persen ke posisi 629,38.

Pergerakan IHSG termasuk berat sehingga ditutup melemah  76,16 poin atau 1,23 persen ke posisi 6.130,19. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 10,81 poin atau 1,71 persen ke posisi 620,40.

Dengan level itu, IHSG menjadi yang paling lemah di Bursa Asia. IHSG bergabung bersama Bursa Asia yang ditutup di zona merah. Index Straits Times (Singapura), PSEi (Filipina), SENSEX (India), Shenzhen Comp. (China), KLCI (Malaysia), TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Comp. (China), TOPIX (Jepang), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan Hang Seng (Hong Kong), yang melemah masing–masing 0,82%, 0,77%, 0,63%, 0,6%, 0,55%, 0,27%, 0,25%, 0,17%, 0,1%, 0,1%, dan 0,03%.

Manajemen Phintraco Sekuritas menyebut, pelemahan IHSG hari ini dipengaruhi oleh aksi ambil untung atau profit taking jelang libur Idul Adha dan rebalancing MSCI.

Advertisement

“Pemicu pelemahan indeks antara lain karena profit taking menjelang libur dan rebalancing MSCI. Rupiah melemah 0,29 persen ke level Rp17.795 per US dolar (26/5), meskipun indeks dolar AS juga melemah,” tulis analis Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Selasa, seperti dilansir infobanknews.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengemukakan, dari mancanegara, serangan terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran Selatan dengan menargetkan lokasi rudal Iran, serta kapal-kapal yang diduga berupaya menempatkan ranjau, di tengah menguatnya harapan perdamaian, menjadi sentimen negatif bagi pasar.

Nilai tukar Rupiah melemah 0,29 persen ke level Rp17.795 per dolar AS, meskipun indeks dolar AS juga melemah.

Di sisi lain, harga minyak mentah yaitu jenis Brent menguat 1,97 persen dan WTI melemah 4,97 persen.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), gerak sektoral hari ini sangat kontras. Sektor energi menjadi “biang keladi” utama ambruknya indeks setelah merosot dalam lebih dari 2%. Hal ini dipicu oleh fluktuasi harga komoditas global, termasuk harga minyak mentah dunia yang mulai mendingin di bawah level US$ 100 per barel seiring adanya harapan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Advertisement

Namun, di tengah redupnya sektor energi, sektor transportasi justru tampil mentereng dan melaju sendirian. Sektor ini melesat hingga 3,83%, menjadi oase hijau di tengah memerahnya papan perdagangan.

Berdasarkan statistik RTI Business, tercatat sebanyak 447 saham terkoreksi, 241 saham menguat, dan 133 saham tetap tidak berubah. Sebanyak 24,88 miliar saham diperdagangkan dengan 1,96 juta kali frekuensi perpindahan tangan, serta total nilai transaksi Rp18,09 triliun.

Selanjutnya, seluruh indeks dalam negeri juga bergerak merah, dengan LQ45 -1,71 persen ke 620,40, IDX30 -1,75 persen jadi 354,10, Sri-Kehati -3,02 persen ke 308,22, dan JII -1,06 persen menjadi 381,93.

Lalu, mayoritas sektor ikut mengalami pelemahan, dengan sektor industrial -3,38 persen, sektor siklikal -2,20 persen, sektor properti -2,14 persen, dan sektor non-siklikal -1,69 persen.

Kemudian, sektor keuangan -1,52 persen, sektor energi -1,04 persen, sektor bahan baku -0,89 persen, dan sektor kesehatan -0,63 persen.

Advertisement

Sementara itu, sektor lainnya masih mampu bergerak menguat, dengan sektor infrastruktur naik 0,18 persen, sektor teknologi meningkat 0,08 persen, dan sektor transportasi menguat 0,06 persen.

Sederet saham top gainers di antaranya adalah PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Sedangkan saham top losers adalah PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Dian Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Adapun, tiga saham teratas yang paling sering diperdagangkan, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Proyeksi Tetap Fluktuatif

Advertisement

Sejumlah analis menilai bahwa koreksi yang dialami IHSG hari ini adalah hal yang wajar mengingat pasar saham global dan regional Asia juga sedang mengalami tekanan serupa. Sentimen dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global serta dinamika domestik membuat investor memilih bermain aman untuk sementara waktu.

Bagi yang gemar trading, para analis menyarankan untuk tetap jeli melihat peluang. Meski indeks melemah, beberapa saham seperti ADRO, ELSA, EXCL, dan INDY dinilai masih menarik untuk dicermati dalam jangka pendek memanfaatkan momentum fluktuasi harga.

Akankah IHSG mampu rebound dan membalas kekalahannya setelah libur? Pada Jumat, 29 Mei 2026, IHSG diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif cenderung dalam tren pelemahan jangka pendek dengan peluang technical rebound terbatas. Pasar diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi menyusul penyesuaian regulasi baru dan sentimen penyeimbangan (rebalancing) indeks global.

“Diperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000-6.200 pada perdagangan Jumat (29/5/2026),” ujar Ratna. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca