Internasional
Bayang-Bayang Revolusi 1979: Iran Mencekam, Upacara Berkabung Kembali Ledakan Aksi Protes

FAKTUAL INDONESIA: Suasana mencekam menyelimuti Iran. Air mata duka keluarga demontrans yang tewas dalam aksi unjuk rasa anti pemerintah masih tetap dijawab dengan tembakan peluru.
Rezim penguasa tetap menunjukkan wajah bengis dan brutalnya untuk mempertahankan kekuasaan otoriternya. Jadilah upacara berkabung berubah menjadi medan pembantaian lagi.
Laporan dari lapangan menggambarkan situasi yang mencekam pada hari Selasa (17/2/2026):
Baca Juga : Trump dan Netanyahu Sepakat Amerika Harus Menekan Iran untuk Mengurangi Penjualan Minyak ke China
Kota Abdanan (Provinsi Ilam): Saksi mata melaporkan pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah ratusan pelayat yang berkumpul di pemakaman. Video yang beredar menunjukkan massa berlarian di tengah dentuman senjata sambil meneriakkan “Mati bagi diktator!”—sebuah seruan yang langsung ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Mashhad & Hamedan: Bentrokan serupa dilaporkan terjadi. Kelompok HAM Hengaw mengonfirmasi setidaknya tiga orang terluka dan sembilan lainnya ditangkap di wilayah Kurdi.
Pemutusan Akses: Sebagai bentuk kontrol, otoritas setempat dilaporkan membatasi akses internet secara besar-besaran di kota-kota yang menjadi titik panas bentrokan.
Baca Juga : Menko Yusril Tegaskan Independensi Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Buka Pintu Repatriasi Narapidana Iran
Upaya Kontrol Rezim
Pemerintah Iran mencoba melakukan pendekatan “dua kaki”. Di satu sisi, mereka meminta maaf kepada “semua pihak yang terdampak” sambil menyalahkan “teroris” atas kekerasan yang terjadi. Di sisi lain, mereka mengerahkan aparat keamanan secara masif untuk menjaga setiap sudut pemakaman agar tidak berubah menjadi mimbar revolusi.
Apakah taktik kuno ini akan mampu meruntuhkan kekuasaan yang telah berdiri selama lima dekade, atau justru akan diredam oleh tindakan keras pemerintah? Yang jelas, di pekuburan-pekuburan Iran saat ini, yang terkubur bukan hanya jenazah, melainkan juga janji akan perubahan.
Baca Juga : Putra Mahkota Iran Desak Amerika Lakukan Intervensi Militer Jatuhkan Rezim Teheran
Gema Revolusi 1979
Sejarah seolah sedang memutar ulang pita lamanya di tanah Iran. Pekan ini, jalanan di berbagai kota kembali dipenuhi massa yang berduka. Namun, di balik lantunan doa bagi mereka yang tewas dalam demonstrasi bulan lalu, tersimpan api perlawanan yang membuat rezim ulama di Teheran terjaga di malam hari.
Fenomena ini adalah gema dari Revolusi Islam 1979. Kala itu, jatuhnya kekuasaan Shah Iran dipicu oleh siklus “40 harian” (Chehelom): sebuah tradisi Syiah untuk mengenang kematian yang justru bertransformasi menjadi gelombang protes tanpa henti.
Baca Juga : Trump Putuskan Kerahkan Kapal Induk Terbesar di Dunia ke Timur Tengah Disaat Iran Berduka
Siklus “Martir” yang Menghantui Pemerintah
Strategi para demonstran saat ini terbilang puitis sekaligus berbahaya. Setiap kali seorang pengunjuk rasa gugur dan diperingati 40 hari kemudian, upacara tersebut berubah menjadi aksi protes baru. Protes baru ini sering kali memicu kekerasan aparat, menghasilkan “martir” baru, dan memulai siklus 40 hari berikutnya.
Meski momentum saat ini belum sebesar tahun 1979, pemerintah Iran tampak sangat waspada. Apalagi di tengah tekanan eksternal dari Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam serangan militer terkait kebijakan nuklir mereka.
“Mereka mencoba mencegah sejarah terulang kembali dengan mengambil alih upacara ini di masjid-masjid negara, namun mereka gagal,” ujar seorang aktivis hak asasi manusia di Iran yang meminta anonimitas. ***














