Connect with us

Hukum

Rebut Kekuasaan di Afghanistan, Polri Waspadai adanya Simpatisan Taliban di Indonesia

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, waspadai Taliban

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, waspadai Taliban

FAKTUALid – Keberhasilan Taliban kembali merebut kekuasaan di Afghanistan membuat Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mewaspadai kemungkinan adanya simpatisan kaum militant itu di Tanah Air.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengemukakan, Polri sedang melakukan penyelidikan tentang kemungkinan adanya simpatisan Taliban di Indonesia.

Ini guna mengantisipasi gerakan terorisme dan ekstrimisme di Tanah Air.

“Kami sedang melakukan penyelidikan, ada kaitannya atau tidak, kita belum bisa menentukan,” kata Argo Yuwono saat dikonfirmasi antaranews.com, Minggu.

Meski demikian, kata Argo, Polri belum mendapatkan informasi adanya simpatisan Taliban di Tanah Air. Untuk itu pihaknya melakukan penyelidikan.

Advertisement

“Belum dapatkan informasi itu, Polri tetap waspada, dan tetap melakukan penyelidikan terkait itu,” ujar Argo.

Setelah Pemerintah Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan, gerakan nasionalis Islam Taliban mengambil alih pemerintahan.

Krisis pemerintahan ini mengakibatkan warga Afghanitan berupaya keluar dari negaranya, hingga terjadinya ‘chaos’ di Bandara Kabul dan menewaskan sejumlah warna sipil.

Dalam diskusi virtual membahas dampak kepemimpinan Taliban terhadap terorisme di Indonesia, Sabtu (21/8/2021), beberapa pengamat dan praktisi mengatakan kemenangan Taliban di Afghanistan kemungkinan tidak akan memicu aksi terorisme di Indonesia karena tidak ada bukti-bukti yang mendukung dugaan tersebut.

“Kita tidak perlu khawatir dengan kemenangan Taliban dan kaitan itu dengan aksi terorisme di Indonesia, karena tidak ada bukti empiris kemenangan gerakan di luar negeri memicu aksi terorisme di Indonesia dalam hal ini yang terkait Islam,” kata Imron Byhaqi alias Abu Tholut, WNI yang pernah menjadi petempur di Afghanistan pada periode sekitar 1985-1992.

Advertisement

Menurut Abu Tholut, aksi teror baru akan terjadi jika ada konflik, kezaliman, penjajahan, dan berita-berita duka. ***

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement