Connect with us

Hukum

Hukuman Juliari Batubara: KPK Mengapresiasi, Pengacara Nilai Vonis Karpet Merah

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara dan penasehat hukumnya saat mendengarkan pembacaan vonis

Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara dan penasehat hukumnya saat mendengarkan pembacaan vonis

FAKTUALid – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengapresiasi vonis yang dijatuhkan majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta terhadap mantan Menteri Sosial Juliari Batubara.

Sedangkan Maqdir Ismail, penasihat hukum Juliari Batubara, menilai vonis terhadap kliennya penuh dengan konflik kepentingan.

Juliari Batubara tidak banyak berkomentar mengenai putusannya tersebut.

“Saya serahkan ke pengacara saya saja,” kata Juliari singkat

Majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta memvonis  Juliari Batubara 12 tahun penjara ditambah denda denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan ditambah kewajiban membayar uang pengganti sejumlah Rp14.597.450.000 subsider 2 tahun penjara.

Advertisement

Ia juga dicabut hak untuk dipilih dalam jabatan publik selama 4 tahun sejak selesai menjalani pidana pokok.

Putusan itu lebih berat dibanding tuntutan JPU KPK yang menuntut agar Juliari divonis 11 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan.

“KPK menghormati putusan majelis yang menyatakan bahwa dakwaan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK terbukti. Kami juga mengapresiasi adanya putusan pidana tambahan berupa penjatuhan pidana uang pengganti serta pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik sebagaimana kami tuangkan dalam amar tuntutan,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin.

Disebutkan, KPK berharap putusan ini memberikan efek jera sekaligus menjadi upaya ‘asset recovery’ hasil tindak pidana korupsi secara optimal.

“Berikutnya, kami akan mempelajari seluruh isi pertimbangan majelis hakim untuk menentukan langkah selanjutnya, tentu setelah menerima salinan putusan lengkapnya,” ungkap Ali.

Advertisement

Karpet Merah

Maqdir Ismail selaku penasihat hukum Juliari Batubara menilai vonis terhadap kliennya penuh dengan konflik kepentingan.

“Menurut hemat saya, putusan ini adalah putusan yang penuh konflik kepentingan. Salah satu hakim saya ingat betul, sudah pernah memutus perkara yang lain terlebih dahulu yang pertimbangannya cukup mirip dengan pertimbangan ini, mestinya tidak boleh seperti itu,” kata Maqdir, di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, Jakarta, Senin.

“Artinya putusan yang lalu dijadikan sebagai karpet merah untuk menghukum Pak Juliari. Ini yang tidak benar,” kata Maqdir.

Maqdir juga menyebut, ia tidak menyangka hakim akan menjatuhkan putusan lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Advertisement

“Satu hal yang pasti putusan itu kan di luar sangkaan kami, karena bagaimana pun juga putusan itu kan lebih tinggi dari tuntutan. Berhubungan dengan adanya fakta mengenai uang yang Rp29 miliar, di situ tidak pernah dipertimbangkan oleh hakim bahwa ada uang Rp8 miliar lebih yang berasal dari perusahaan milik istrinya Matheus Joko Santoso, uang itu seolah-olah berasal dari vendor-vendor yang lain,” ungkap Maqdir.

Sementara di tahap penyidikan, menurut Maqdir, tidak ada satu pun vendor yang mengakui memberikan uang kepada Matheus Joko Santoso selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos sembako periode April-Oktober 2020.

“Jadi betul-betul putusan ini tidak berdasarkan pada fakta persidangan dan juga tidak berdasarkan keterangan dari para saksi,” ujar Maqdir lagi.

Maqdir juga menyebut vonis 12 tahun termasuk hukuman yang berat.

“Sangat berat, karena buktinya sekarang apakah Pak Ari (Juliari) itu menerima uang. Tidak ada, selain dari pengakuan Matheus Joko dan juga Adi Wahyono. Mana ada barang bukti yang disita dari dia. Tidak ada, suap itu kan ada barangnya, bukan angan-angan orang begitu loh,” ungkap Maqdir.

Advertisement

Namun, Maqdir menyebut Juliari belum memutuskan apakah akan mengajukan banding terhadap putusan tersebut.

“Ya nanti kita lihatlah, bahwa hukuman yang lebih berat yang sudah dialami, tidak boleh ditambahi seperti ini. Ini namanya putusan itu sudah berlebihan,” kata Maqdir. ***

Lanjutkan Membaca
Klik Untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement