Connect with us

Hukum

Dari Sambo, Kanjuruhan hingga Teddy Minahasa, Peringatan Polri Harus Serius Berbenah Diri

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Tugas berat di pundak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menata Polri setelah mendapat sorotan tajam mulai dari kasus Ferdy Sambo, Tragedi Kanjuruhan dan Teddy Minahasa.

Tugas berat di pundak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menata Polri setelah mendapat sorotan tajam mulai dari kasus Ferdy Sambo, Tragedi Kanjuruhan dan Teddy Minahasa.

FAKTUAL-INDONESIA: Tragedi demi tragedi yang menghantam tahun 2022 ini membuat Indeks Kepercayaan Masyarakat terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menurun drastis.

Munculnya kasus Ferdy Sambo, Kerusuhan Kanjruhan dan terseretnya Teddy Minahasa dalam kasus narkoba benar-benar membuat kepercayaan masyarakat kepada Polri bukan saja terlentang namun sudah jatuh.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sampai memanggil jajaran Polri, mulai dari para pejabat utama Mabes Polri, kepala kepolisian daerah (kapolda), hingga kepala kepolisian resor (kapolres) seluruh Tanah Air di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 14 Oktober 2022.

Dalam arahannya, Presiden mendorong Polri bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan publik kepada institusi Polri.

“Di November itu (kepercayaan publik terhadap Polri) masih 80,2 (persen), sangat tinggi, bukan tinggi, sangat tinggi sekali. Sekarang, kemarin Agustus, berada di 54 (persen), jatuh, terlentang, rendah sekali. Itulah pekerjaan berat yang Saudara-saudara harus kerjakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Polri di tengah situasi yang juga tidak mendukung saat ini,” ujar Presiden.

Advertisement

Menurut Presiden, sebelum ada peristiwa penembakan di Duren Tiga yang menyeret mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo, Indeks Kepercayaan Masyarakat menempatkan Polri di puncak teratas saat itu. Hal tersebut didorong oleh kerja keras jajaran Polri dalam penanganan Covid-19 dengan mendukung penyuntikan 440 juta dosis vaksin kepada masyarakat sehingga pandemi mereda dan ekonomi bisa tumbuh 5,44 persen.

“Tetapi begitu ada peristiwa FS (Ferdy Sambo), runyam semuanya, dan jatuh ke angka yang paling rendah. Dulu, dibandingkan institusi-institusi penegak hukum yang lain, tertinggi. Sekarang, Saudara-saudara harus tahu, menjadi terendah. Ini yang harus dikembalikan lagi dengan kerja keras Saudara-saudara sekalian,” ungkapnya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam keterangannya usai pertemuan mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta jajaran Polri untuk melakukan langkah-langkah perbaikan dan tindakan tegas terhadap berbagai hal yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri.

Saat Presiden memanggil jajaran Polri, Irjen Pol Teddy Minahasa yang sebelumnya dimutasi dari Kapolda Sumatera Barat ke Kapolda Jawa Timur ternyata tidak hadir di Istana Negara. Dari keterangan Kapolri terungkap, Teddy Minahasa sudah dijemput dan ditangkap karena terseret kasus peredaran narkoba.

Pukulan baru lagi bagi Polri setelah sorotan keras dari Tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur menyusul kasus menggegerkan pembunuhan Brigadir J yang menyeret Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo.

Advertisement

Berbenah Diri

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyebutkan, dugaan kasus narkoba yang menyeret Irjen PolTeddy Minahasa, sebagai tragedi baru yang dialami Polri. Oleh karena itu, seperti dipantau dari media antaranews.com, ia meminta Polri berbenah diri dan betul-betul menata diri.

“Harus sadar informasi tidak bisa ditutupi, media sosial yang begitu masif. Tidak bisa lagi kita melakukan sesuatu kemudian bersembunyi,” katanya pula.

Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan bahwa penindakan Teddy Minahasa menunjukkan langkah-langkah ketegasan Polri untuk mereformasi diri.

“Mungkin kita bisa melihatnya dari sudut sebaliknya untuk tetap mendukung Polri bersemangat karena semuanya yang terjadi ini justru merupakan langkah-langkah ketegasan Polri untuk mereformasi diri,” kata Mahfud dalam rekaman yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Advertisement

Peristiwa yang menimpa institusi Polri secara beruntun, seperti kasus Ferdy Sambo, kasus Stadion Kanjuruhan, disusul dengan kasus Teddy Minahasa yang ditangkap karena kasus narkoba, mengakibatkan gencarnya kritikan dari masyarakat.

“Itu maklum kalau masyarakat kemudian melontarkan kritiknya. Akan tetapi, mari kita lihat ini sebagai langkah yang merupakan sisi lain dari sudut kemajuan,” ucap Mahfud.

Mahfud mengatakan bahwa ketegasan Kapolri menunjukkan kepada seluruh jajaran Polri bahwa Kapolri bisa bertindak tegas.

“Misalnya, terhadap Sambo. Itu tindakannya tegas. Artinya, Polri itu punya power untuk melakukan itu, dan bisa melakukan itu,” tuturnya.

Terkait dengan kasus Teddy Minahasa, Mahfud mengatakan, “Apabila berpikir lebih negatif, bisa saja pengakuan dari ibu-ibu yang ditangkap karena membawa narkoba, yang menyatakan bahwa ibu-ibu tersebut bekerja sama dengan Teddy Minahasa, ditutup dan Teddy dibiarkan begitu saja.”

Advertisement

Mahfud melanjutkan, “Itu bisa. Akan tetapi, Kapolri mengambil langkah tegas untuk melakukan itu. Ini dilakukan oleh Kapolri, ungkap, tangkap, pecat, ‘kan gitu Kapolri.”

Dalam kesempatan tersebut, Mahfud juga menyebutkan terdapat sejumlah prestasi Polri yang belum banyak mendapat perhatian publik, seperti penangkapan bandar-bandar judi yang lari ke luar negeri.

“Tidak mudah mengambil narapidana itu yang sudah lari ke luar negeri kalau tidak punya kesungguhan dan jaringan yang kuat, serta memberi pengertian kepada negara lain untuk mengambil itu,” ucap Mahfud.

Oleh sebab itu, Mahfud meminta kepada masyarakat untuk melihat sisi sebaliknya dari rentetan peristiwa yang dialami oleh institusi Polri.

“Tanpa menghalangi Anda atau kita semua mengkritik kinerja Polri, lihat juga sisi sebaliknya bahwa ini justru satu langkah maju dari Kapolri dan Polri bahwa dia bisa menindak siapa pun anak buahnya yang bandel,” ucap Mahfud.

Advertisement

Mahfud MD meminta Polri menghilangkan friksi di tubuh lembaga penegak hukum ini, jika ingin kembali bangkit.

“Satu-satunya jalan kalau Polri ingin bangkit, ya harus konsolidasi internal, hilangkan friksi-friksi,” kata Mahfud, usai menghadiri Dies Natalis Ke-65 Universitas Diponegoro Semarang, Sabtu, seperti dikutip dari media antaranews.com.

Menurut dia, Polri harus mulai bersatu dalam perbedaan masa lalu untuk bersatu ke masa depan.

“Itu kalau Polri mau bagus, kalau nggak ya susah,” katanya pula.

Kondisi yang menjadi peringatan keras Polri harus serius berbenah diri, menata dan tegas mereformasi diri untuk kemudian bangkit kembali menjadi lembaga penegak hukum yang dipercaya masyarakat. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca