Selebritis
Istri LeBron James Mengaku Ditolak di Butik Hermès, Pegawai Langsung Dipecat

Savannah dan suaminya, LeBron James. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Savannah James, istri pebasket NBA LeBron James, mengungkap pengalaman kurang menyenangkan saat hendak berbelanja di butik Hermès di Italia. Ia mengaku sempat tidak mendapat pelayanan sebagaimana mestinya meski telah membuat janji terlebih dahulu.
Para pelayan tampaknya tak mengetahui siapa Savannah yang merupakan istri dari pebasket terkenal dunia.
Cerita tersebut disampaikan Savannah dalam podcast Question Everything yang dipandu Danielle Robay. Dalam episode terbaru, Savannah hadir bersama sahabatnya, April McDaniel, untuk menceritakan kembali pengalaman mereka ketika bepergian ke Eropa.
Menurut April, keduanya telah mengatur jadwal untuk mengunjungi butik Hermès karena ingin melihat sejumlah produk berbahan kulit eksotis, termasuk barang-barang berbahan kuli8t buaya.
Namun, kedatangan mereka justru diwarnai pengalaman yang mengecewakan. April mengatakan seorang pramuniaga menolak melayani mereka meskipun keduanya telah memiliki reservasi.
“Kami sudah punya janji,” kata Savannah saat menceritakan kejadian tersebut.
April menambahkan bahwa mereka merasa diperlakukan dengan tidak semestinya. Bahkan, menurut ceritanya, toko tersebut sempat ditutup ketika mereka datang.
“Kami terus berjuang keras. Tapi mereka memperlakukan kami seperti sampah. Mereka menutup seluruh toko,” ujar April.
April mengaku tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut. Ia bahkan menegaskan kepada pramuniaga bahwa orang tersebut telah memilih orang yang salah untuk diperlakukan demikian.
“Aku bilang, ‘Sayang, kamu salah orang hari ini,’” kata April.
Berujung Pelayanan Istimewa
Setelah keluhan disampaikan, situasi di butik tersebut disebut berubah. Savannah dan April akhirnya diterima dan mendapatkan pelayanan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Keduanya bahkan ditempatkan di sebuah ruangan privat dengan sajian sampanye dan kaviar. Berbagai koleksi tas juga diperlihatkan kepada mereka.
“Kami ditempatkan di ruang privat, lengkap dengan sampanye dan kaviar. Aku tanya, kalian punya berapa tas? Sepuluh? Mereka mengeluarkan semuanya,” tutur Savannah.
Savannah mengatakan dirinya kemudian menikmati sesi belanja tersebut. Ia mengaku membeli berbagai barang yang diinginkannya, mulai dari pakaian renang hingga perlengkapan makan berbahan perak.
“Aku bilang aku mau beli baju renang, aku juga mau beli peralatan makan perak. Saat itu aku benar-benar menikmati hidup,” ujarnya.
Savannah juga menyebut bahwa setelah kejadian tersebut, pegawai yang sebelumnya melayani mereka dengan buruk akhirnya diberhentikan oleh Hermès.
Kisah tersebut kemudian memicu beragam komentar dari warganet. Sebagian pengguna media sosial menilai pengalaman Savannah dan April menunjukkan adanya dugaan perlakuan diskriminatif terhadap pelanggan kulit hitam di sejumlah toko mewah.
Namun, ada pula warganet yang menilai Savannah dan April mungkin memiliki cara berkomunikasi yang kurang sopan sehingga memicu konflik. Sebagian lainnya mempertanyakan keputusan keduanya yang tetap berbelanja di butik tersebut setelah mengalami perlakuan tidak menyenangkan.
Pernah Mengalami Hal Serupa di Chanel
Hermès ternyata bukan satu-satunya butik mewah yang membuat Savannah dan April kecewa. Keduanya juga mengaku pernah mengalami kejadian serupa ketika mengunjungi butik Chanel di Prancis.
April menceritakan bahwa seorang asisten toko saat itu berulang kali melarang Savannah menyentuh sebuah tas berukuran kecil. Padahal, menurut mereka, pelanggan sebenarnya diperbolehkan menyentuh produk tersebut.
Meski mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan, April mengatakan pengalaman tersebut tidak membuatnya kapok berbelanja. Namun, ia mengaku akan mengambil tindakan jika ada pegawai yang memperlakukannya secara tidak pantas.
“Aku akan panggil bosnya. Kita tutup saja toko ini. Dia boleh pergi kalau sikapnya begitu,” ujar April.
Kisah Savannah dan April kembali menjadi perbincangan karena memperlihatkan pengalaman pelanggan ketika berhadapan dengan layanan butik kelas atas. Di sisi lain, cerita tersebut juga memunculkan diskusi mengenai dugaan diskriminasi dan standar pelayanan di industri fesyen mewah.***














