Ekonomi
BI Catat QRIS Sudah Digunakan 65,77 Juta Pengguna

QRIS banyak digunakan di Indonesia. (Foto : istimewa)
FAKTUAL-INDONESIA : Pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia terus berkembang. Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima di 44,86 juta merchant di Indonesia.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, sekitar 96,68 persen merchant QRIS merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan peran QRIS yang semakin penting dalam mendorong digitalisasi UMKM.
“QRIS bukan lagi sekadar alat pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal, tetapi QRIS sudah menjadi pintu masuk utama bagi UMKM ke dalam ekosistem keuangan digital,” kata Filianingsih di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
BI menilai digitalisasi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan produktivitas UMKM, memperluas jangkauan pasar, sekaligus membuka peluang usaha agar dapat berkembang dan naik kelas.
Untuk mendukung hal tersebut, BI mendorong UMKM melakukan transformasi digital melalui tiga strategi utama, yaitu e-farming, e-commerce, dan e-financing.
Melalui e-farming, pelaku usaha didorong memanfaatkan teknologi digital dalam sektor pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Sementara e-commerce diarahkan untuk membantu UMKM masuk ke pasar digital dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Adapun e-financing dilakukan antara lain melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK). Sistem tersebut dapat membantu UMKM memperbaiki pencatatan keuangan sekaligus mendukung akses terhadap pembiayaan.
Selain memperluas penggunaan QRIS, BI juga terus memperkuat ekosistem inovasi digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI).
PIDI menjadi wadah yang mempertemukan talenta digital, inovator, industri, pemerintah, dan berbagai mitra strategis untuk menghasilkan solusi digital yang dapat diterapkan di sektor riil, termasuk UMKM.
Menurut Filianingsih, keberadaan ekosistem tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memperoleh solusi digital yang mudah diterapkan dan dikembangkan secara luas. Dengan demikian, UMKM dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, sekaligus memperoleh akses pembiayaan yang lebih baik.
“Dengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif, dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh, dan naik kelas,” ujarnya.
Digelar dalam rangkaian KKI 2026
Penguatan digitalisasi UMKM tersebut turut dibahas dalam Innovation Talk bertajuk “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level” yang digelar BI pada Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Sejumlah narasumber dari BI, inovator muda, serta pelaku UMKM binaan BI berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan kinerja usaha.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya pencatatan keuangan secara digital serta pemanfaatan data UMKM oleh sektor perbankan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan efisiensi dan tata kelola usaha sekaligus memperluas akses pembiayaan.
BI menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi digital UMKM. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan pelaku usaha yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing serta menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.***














