Connect with us

Ekonomi

Rupiah Selamat dan IHSG Tergelincir pada Penutupan Perdagangan Akhir Pekan

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Rupiah Selamat dan IHSG Tergelincir pada Penutupan Perdagangan Akhir Pekan

Mampu membalikan posisi di akhir perdagangan Jumat (5/12/2025), nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru gagal bertahan di terotori positif sehingga ditutup melemah.

FAKTUAL INDONESIA: Pergerakan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya beda-beda tipis pada perdagangan valuta dan saham di akhir pekan, Jumat (5/12/2025).

Nilai tukar (kurs) rupiah yang sempat stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan, Jumat pagi, mampu selamat ke posisi menguat di penutupan transaksi sore harinya.

Sedangkan IHSG BEI sebenarnya memiliki peluang untuk ditutup menguat karena pada pembukaan perdagangan sempat menguat. Namun IHSG tergelincir ke zona merah di sesi kedua sehingga ditutup melemah.

Baca Juga : Rupiah Makin Melemah, IHSG BEI Bangki

Sejalan Mata Uang Asia

Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS setelah  berhasil membalikkan keadaan di akhir perdagangan Jumat (5/12/2025).  Rupiah ditutup dengan nilai Rp 16.648 per dolar AS.

Advertisement

Catatan itu membuat rupiah menguat tipis 0,03% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.653 per dolar AS.

Padahal saat pembukaan nilai tukar rupiah bergerak stagnan 0 poin atau 0 persen menjadi tetap Rp16.653 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.653 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ini seperti dilansir kontan.co.id, sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.

Baca Juga : Rupiah dan IHSG Terpeleset dari Posisi Mandek dan Menguat saat Pembukaan Perdagangan

Hingga pukul 15.00 WIB, bahdt Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,47%. Disusul, yen Jepang yang terkerek 0,31%.

Selanjutnya ada dolar Taiwan yang sudah ditutup terangkat 0,22% dan won Korea Selatan yang menanjak 0,21%. Lalu ringgit Malaysia yang naik 0,15%.

Advertisement

Berikutnya, peso Filipina yang ditutup terapresiasi 0,14%. Diikuti dolar Singapura yang terangkat 0,08% serta yuan China menguat 0,04%.

Sementara itu, rupee India kembali melemah dan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,06%.

Kemudian ada dolar Hongkong yang melemah tipis 0,02% terhadap the greenback pada hari ini.

Dikutip dari iNews.id, pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menuturkan, salah satu sentimen penguatan datang dari eksternal yakni dukungan yang lebih luas datang dari ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan.

“Investor telah beralih ke pandangan bahwa The Fed mungkin akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Advertisement

Lalu, perundingan AS-Rusia yang diadakan awal pekan ini gagal menghasilkan terobosan langsung menuju gencatan senjata Ukraina. Kurangnya kemajuan meredam harapan bahwa sanksi energi terhadap minyak mentah Rusia dapat segera dilonggarkan, sehingga menjaga premi risiko di pasar. Para analis mengatakan gangguan pasokan dapat berlanjut, terutama setelah serangan Ukraina baru-baru ini terhadap infrastruktur energi Rusia.

Baca Juga : Selasa Ceria untuk Rupiah dan IHSG BEI, Menguat dari Pembukaan hingga Penutupan Perdagangan

Pasar juga terus bersiap menghadapi potensi serangan militer AS ke Venezuela setelah Presiden Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa AS akan segera mengambil tindakan untuk menghentikan pengedar narkoba Venezuela di darat.

Dari sentimen domestik, Bank Indonesia mencatat posisi Cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 sebesar 150,1 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir Oktober 2025 sebesar 149,9 miliar dolar AS. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Selain itu, kenaikan cadangan devisa juga terjadi di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Posisi cadangan devisa pada akhir November 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Advertisement

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.640 – Rp16.680 per dolar AS.

Baca Juga : Ya Ampun, Rupiah dan IHSG BEI Kompak Melemah di Penutupan Perdagangan Akhir Pekan

IHSG Mengalami Pullback

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap kebijakan suku bunga acuan The Fed pada pekan depan.

IHSG ditutup melemah 7,44 poin atau 0,09 persen ke posisi 8.632,76. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,47 poin atau 0,76 persen ke posisi 847,27.

Menurut laporan liputan6, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa pasar sempat bergairah dan mencatatkan rekor baru (new intraday high) sebelum akhirnya terkoreksi.

Advertisement

“Setelah sempat mencapai level intraday tertinggi baru lagi di 8.689, IHSG mengalami pullback yang antara lain dipicu oleh kondisi jenuh beli,” ujar Ratna, Jumat (5/12/2025).

Dari mancanegara, pelaku pasar mengarahkan perhatiannya terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed pada 9-10 Desember 2025 pekan depan.

Apabila Indeks Price Consumer Expenditure (PCE) Prices AS yang dirilis Jumat (05/12) malam ini masih relatif dengan harapan pasar, maka potensi penurunan suku bunga 25 bps oleh The Fed akan semakin besar pada pekan depan.

Dari dalam negeri, pada pekan depan, akan dirilis sejumlah data indikator ekonomi, yaitu penjualan sepeda motor bulan November 2025 pada Senin (08/12), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan November 2025 pada Selasa (09/12), serta penjualan ritel bulan Oktober 2025 pada Rabu (10/12).

Baca Juga : Rupiah Tancap Gas, Giliran IHSG BEI Tergelincir ke Zona Merah

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat yaitu dipimpin sektor industri yang naik sebesar 3,85 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor transportasi & logistik yang naik masing-masing sebesar 2,88 persen dan 2,70 persen.

Advertisement

Sedangkan, lima sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,62 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor barang konsumen primer yang masing- masing turun 0,51 persen dan 0,34 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu PSDN, SDPC, TRON, DOOH dan KETR, Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni HUMI, ASPI, GHON, TALF dan ATLA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.557.089 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 48,21 miliar lembar saham senilai Rp20,47 triliun. Sebanyak 362 saham naik 293 saham menurun, dan 146 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 525,42 poin atau 1,03 persen ke 49.316,50, indeks Shanghai menguat 27,01 poin atau 0,70 persen ke 3.902,81, indeks Hang Seng menguat 149,18 poin atau 0,58 persen ke posisi 26.033,26, dan indeks Straits Times melemah 3,78 poin atau 0,08 persen ke 4.531,36. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca