Connect with us

Ekonomi

Rupiah Jumat 19 Juni 2026: Melemah Lagi Lewati Rp17.800, Setelah Libur Masih Negatif

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Nilai tukar (kurs) rupiah belum mampu bangkit dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga kembali melemah ke posisi di atas Rp17.800 pada perdagangan valuta asing Jumat (19/6/2026). (Ist)

Nilai tukar (kurs) rupiah belum mampu bangkit dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga kembali melemah ke posisi di atas Rp17.800 pada perdagangan valuta asing Jumat (19/6/2026). (Ist)

FAKTUAL INDONESIA: Menutup perdagangan di akhir pekan, nilai tukar (kurs)  rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) harus rela finis di zona merah.

Mata uang Garuda memang ditutup melemah tipis namun sudah kembali memasuki level di atas Rp17.800 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan valuta asaing Jumat (19/6/2026) sore, rupiah ditutup melemah

10 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp 17.804 per dolar AS.

Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak datar di level Rp17.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.

Advertisement

Meskipun kembali merosot, pelemahan yang sangat tipis ini menunjukkan bahwa rupiah sebenarnya sedang berupaya keras menahan gempuran sentimen eksternal yang cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir.

Fluktuasi Sengit di Pasar Spot

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini terbilang cukup dramatis. Sejak pembukaan pasar di pagi hari, rupiah langsung berada di bawah tekanan dan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.790 hingga menembus tipis di atas kepala 17.800 saat lonceng penutupan pasar berbunyi.

Pada pembukaan pagi hari rupiah bahkan dibuka melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.845 per dolar AS.

Rapor Rupiah Akhir Pekan:

Advertisement
  • Posisi Penutupan: Rp 17.804 per dolar AS
  • Pelemahan: -10 poin (-0,06%)

Mengapa Rupiah Tertekan?

Para analis pasar uang menyebutkan ada dua faktor utama yang membuat langkah rupiah sedikit terbebani di akhir pekan ini:

  • Sinyal ‘Hawkish’ The Fed: Bank sentral AS masih terus mempertahankan nada kebijakan yang ketat. Ketidakpastian mengenai kapan suku bunga acuan mereka akan diturunkan membuat pelaku pasar global lebih memilih mengamankan aset mereka dalam bentuk dolar AS.
  • Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Menjelang libur akhir pekan, banyak investor institusi melakukan penyesuaian portofolio dan beralih ke mata uang safe haven (aset aman), yang secara otomatis memicu tekanan musiman bagi mata uang pasar berkembang (emerging markets) termasuk rupiah.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi meskipun sentimen pasar global menunjukkan perbaikan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah serta memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, menurut Ibrahim, optimisme pasar masih dibayangi ketidakpastian setelah militer Israel melancarkan serangan udara baru pada Kamis (18/6/2026), sehingga memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan proses perdamaian.

“Prospek ekspor yang kembali meningkat telah menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang mendorong harga minyak di atas US$ 120 per barel pada puncak krisis,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (19/6/2026).

Dari eksternal, seperti dilansir beritasatu, Ibrahim menyatakan ,rupiah juga tertekan setelah para pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal hanya akan memangkas suku bunga satu kali hingga akhir 2026.

“The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu, tetapi komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan pasar sebagai sangat agresif, sehingga meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun,” jelas Ibrahim.

Advertisement

Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif datang setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menetapkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.

Keputusan tersebut diambil setelah MSCI kembali menyoroti kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu maupun perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rupiah yang masih menghadapi kombinasi sentimen global dan domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Proyeksi Setelah Libur

Meskipun ditutup di atas level psikologis baru, langkah intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas sejauh ini dinilai cukup efektif menjaga agar volatilitas (goyangan harga) rupiah tidak liar dan tetap berada dalam koridor yang dapat diprediksi oleh pelaku usaha dunia nyata.

Advertisement

Untuk pekan depan, setelah perdagangan Sabtu tutup, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (22/6/2026).

“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.800 – Rp 17.850,” ungkap Ibrahim Assuaibi.

Ibrahim memproyeksi nilai tukar rupiah akan fluktuatif dalam sepekan ke depan di sekitar level Rp 17.500 – 18.000 per dolar AS. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement