Ekonomi
Jumat, Rupiah Menggeliat Menghijau, IHSG Terseret Memerah di Akhir Pekan

Rupiah membuat kejuatan dengan mampu menggeliat dari melemah ke menguat pada perdagangan Jumat (20/2/2026) sebaliknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) justru terjebak terus di zona merah
FAKTUAL INDONESIA: Jumat (20/2/2026) menjadi tanda menggeliatnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun sempat dibuka melemah namun kemudian bangkit menguat pada penutupan perdagangan valuta.
Jika rupiah berhasil parkir di zona hijau, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini justru harus rela “bermalam” di zona merah pada penutupan perdagangan saham pekan ini.
Baca Juga : IHSG Memerah, Rupiah Masih Loyo Makin Dekati Rp17.000 Perdolar Amerika Serikat
Rupiah Menguat ke Rp16.885
Rupiah berhasil mengukir senyum di akhir pekan. Setelah sempat bergerak loyo dan menembus level psikologis Rp16.900 pada pembukaan perdagangan pagi, nilai tukar rupiah akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Jumat (20/2/2026).
Pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.903 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.894 per dolar AS.
Namun setelah itu rupiah mampu bergerak positif sehingga ditutup menguat 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.888 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.894 per dolar AS.
Sedangkan berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah menguat tipis ke level Rp16.885 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di angka Rp16.925.
Baca Juga : IHSG Terbang Pasca – Imlek, Rupiah Terpeleset Tertekan Ketegangan Selat Hormuz
Kemenangan tipis rupiah di penghujung pekan ini tidak lepas dari kombinasi sentimen domestik dan global:
- Efek Suku Bunga BI: Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur kemarin memberikan sinyal stabilitas. Pasar merespons positif komitmen BI untuk menjaga volatilitas kurs di tengah ketidakpastian global.
- Sentimen Kerja Sama AS-Indonesia: Adanya komitmen baru dalam kerja sama ekonomi antara Amerika Serikat dan Indonesia turut memberikan tenaga tambahan bagi mata uang domestik.
- Aksi “Wait and See” Data Inflasi AS: Investor global cenderung berhati-hati menjelang rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat. Hal ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, sedikit mereda di sesi sore.
Perjalanan Dramatis Rupiah
Perjalanan rupiah hari ini tergolong dramatis. Pada pagi hari, rupiah sempat terkapar hingga menyentuh Rp16.913 per dolar AS akibat tingginya permintaan terhadap greenback. Namun, penguatan fundamental ekonomi dan intervensi terukur dari Bank Indonesia berhasil membalikkan keadaan.
Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah masih terbatas oleh kondisi dolar AS yang solid di pasar global.Menurutnya, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) periode Januari menunjukkan nada hati-hati, namun cenderung hawkish, sehingga pemotongan suku bunga jangka pendek dinilai tidak mungkin dilakukan.
“Risalah tersebut membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil, menekan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (20/2/2026) petang seperti dilansir ipotnews.
Meski demikian, sentimen domestik menjadi penopang bagi rupiah. Pemerintah Indonesia dan Amerika resmi menandatangani perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk “Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance” di Washington DC.
Baca Juga : Rupiah Menguat Tipis Jadi Rp 16.831 per Dolar AS, pada 16 Februari 2026
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi utama AS nanti malam, termasuk pembacaan awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV, Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), serta indeks PMI Global S&P. Hasil data ini diperkirakan memengaruhi arah pergerakan mata uang global dan rupiah dalam jangka pendek.
IHSG Tutup Pekan dengan ‘Lampu Merah’
Mengakhiri perdagangan pekan ketiga Februari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mengikuti jejak rupiah yang menguat. Pada penutupan perdagangan Jumat (20/2/2026), indeks IHSG terparkir di zona merah setelah mengalami koreksi tipis.
IHSG ditutup melemah 2,31 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.271,77. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,99 poin atau 0,12 persen ke posisi 835,28.
Padahal pada pembukaan perdagangan Jumat pagi IHSG dibuka menguat 26,14 poin atau 0,32 persen ke posisi 8.300,22. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,76 poin atau 0,33 persen ke posisi 837,04.
Baca Juga : Rupiah dan IHSG Masih Loyo Jelang Long Weekend Imlek, Tertekan Aksi Ambil Untung
Meski pelemahannya tergolong tipis, pergerakan hari ini cukup membuat para investor berkeringat dingin karena mayoritas saham justru berguguran.
Ada beberapa faktor utama yang membuat langkah IHSG terasa berat hari ini:
- Tensi Panas AS-Iran: Kabar meningkatnya risiko geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi beban utama bagi bursa Asia, termasuk Indonesia. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi membuat investor cenderung menarik diri dari aset berisiko.
- Minyak Dunia ‘Go Up’: Efek ketegangan geopolitik tersebut memicu harga minyak dunia melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan. Hal ini menjadi sentimen negatif bagi sektor konsumsi karena ancaman inflasi.
- Sektor Konsumen & Kesehatan Lesu: Sebanyak 7 sektor saham ditutup melemah. Sektor barang konsumen primer dan kesehatan menjadi pemberat indeks paling signifikan pada sesi sore ini.
- Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Setelah sempat menguat di tengah minggu, banyak investor memilih untuk mencairkan keuntungan (cash out) sebelum libur akhir pekan, mengantisipasi ketidakpastian global yang bisa terjadi dalam dua hari ke depan.
Baca Juga : IHSG dan Rupiah Hari Ini Harus Sama-sama Masuk Zona Merah
Statistik Pasar Hari Ini
Walaupun indeks hanya turun tipis, “jeroan” pasar menunjukkan kondisi yang cukup kontras:
Saham Melemah: 381 saham.
Saham Menguat: 267 saham.
Saham Stagnan: 171 saham.
Nilai Transaksi: Mencapai Rp20,39 triliun, menunjukkan pasar tetap aktif meski cenderung berhati-hati.
Di tengah “mendungnya” indeks, beberapa saham tetap berhasil melesat:
Top Gainers: Saham ZATA memimpin kenaikan dengan lonjakan signifikan mencapai 34,71%.
Top Losers: Saham INDS harus menelan pil pahit dengan koreksi sedalam 14,98%.
Baca Juga : Rupiah Perkasa, IHSG BEI Melesat Tajam, Awas Ancaman Mengintai
Seperti dilansir liputan6, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan, jelang akhir pekan, IHSG di zona melemah seiring sentimen eksternal. Dari mancanegara, bursa kawasan Asia melemah di tengah peningkatan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
“Pelaku pasar mempertimbangkan risiko geopolitik, yang mana ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu 10-15 hari untuk pembicaraan kesepakatan nuklir,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani draft kesepakatan tarif AS sebesar 19 persen, yang diwakili dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia bersama bersama Perwakilan Dagang AS.
“Draft kesepakatan tentunya akan memberikan kepastian para pelaku usaha dan investor, tetapi di sisi lain belum ada penjelasan resmi kapan kesepakatan tarif tersebut berlaku,” katanya. ***














