Connect with us

Ekonomi

Pelaku Usaha Industri Mebel Indonesia Was-Was Dampak Perang Rusia Ukraina

Diterbitkan

pada

 

Rakernas HIMKI di Kota Solo, Jawa Tengah. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Pelaku usaha industri mebel dan furnitur di Indonesia, was-was dengan dampak perang Rusia dan Ukraina. Karena selama ini, pasokan bahan baku industri mebel di China berasal dari Rusia.

“Jika China kesulitan mendapatkan bahan baku dari Rusia, maka dia akan mencari bahan baku dari seluruh dunia. Hal ini justru rawan bagi industri dalam negeri, jika tidak hati-hati pasar Indonesia akan anjlok,” jelas Ketua Presidium HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia), Abdul Sobur di sela-sela Rakernas HIMKI di Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/3/2022).

Selama ini, China menguasai mayoritas pasar mebel di dunia, sehingga jika China kesulitan mendapatkan bahan baku maka akan mempengaruhi pasar industri dunia.

Untuk iti, pihaknya meminta kepada pemerintah untuk memperkecil penampang pengaruh. HIMKI meminta eksisting ke pemerintah, jika penampangnya diperlebar, China bisa mengambil bahan baku yang lebih besar dari Indonesia.

Advertisement

“Tapi hal ini bukan peluang karena saat ini Indonesia sudah tidak memperbolehkan ekspor bahan baku, tapi barang jadi. Kalau kita ekspornya bahan maka furniturnya tidak dipakai,” jelasnya lagi.

Abdul menyebut China memiliki kekuatan di teknologi sehingga pasar dunia mampu dikuasai China. Padahal Indonesia memiliki kekuatan di solid wood, jati, mahoni dan bahan rotan.

“Kalau China kayu apa saja dia pakai di enginering sedemikian rupa sehingga menjadi sangat efisien. Indonesia perlu untuk belajar engineering kayu seperti industri China, artinya kayu apapun kita coba pakai juga. Karena kayu apapun tumbuhnya di sini, China malah ga punya kayu sebanyak di kita,” katanya.

Jika industri mebel Indonesia bisa memiliki teknologi seperti di China maka tidak mungkin industri dalam negeri tidak akan kalah dengan China. Apalagi desain mebel Indonesia unik dan berbeda dengan produk China. Keunikan desain mebel Indonesia tersebut yang menyebabkan produk mebel dalam negeri masih banyak diminati.

Sementara itu, pasar industri mebel Indonesia saat ini mengalami kenaikan. Bahkan di tahun 2021 mengalami kenaikan 30 persen

Advertisement

“Ini belum pernah terjadi. Rata-rata kenaikan biasanya hanya 4-6 persen, tiba-tiba naik 30 persen. Fantastis sekali ini,” ujarnya.

Tahun 2021 industri mebel dan furnitur nasional membukukan tambahan 400 juta dolar AS dengan total nilai ekspor 3.4 miliar dolar atau setara Rp50 triliun.  Tapi, kontribusi ekspor mebel dan furnitur belum masuk 10 besar ekspor di Indonesia dan masih kalah dengan industri makanan dan minuman. Phaknya menargetkan pada tahun 2024 ekspor mebel Indonesia akan masuk 10 besar.

“Market dunia adalah 500 miliar dolar dan dikuasai oleh China.  Kalau kita ambil 5 persen saja sudah lumayan. Saat ini kita baru 3-4 persen. Tujuan ekspor terbesar adalah Amerika mendekati 50 persen total ekspor mebel Indonesia sisanya Uni Eropa dan negara lainnya,” pungkasnya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement