Connect with us

Nusantara

Perajin Batik di Solo Jadikan Momen MotoGP Mandalika Untuk Motif Batik

Diterbitkan

pada

Perajin batik di Solo membuat motif batik MotoGP Mandalika. (Foto: Istimewa)

FAKTUAL-INDONESIA: Momen gelaran  MotoGP Mandalika di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi ide bagi perajin batik di Kota Solo, Jawa Tengah. Perajin batik di Batik Toeli di yang berada di Jalan Parangkusumo 19A, Pajang, Laweyan, Solo, memproduksi batik tulis bermotif GP Mandalika.

Pemilik Batik Toeli,  Muhammad Taufan Wicaksono bersama dua perajin batik membuat motif batik unik dengan latar belakang MotoGP Mandalika. Menariknya lagi, perajin batik di Batik Toeli tersebut merupakan penyandang disabilitas tuna rungu.

Saat ini mereka sudah memproduksi empat lembar kain batik bermotif MotoGP Mandalika dan pembalap Marc Marquez. Ada bagian tertentu seperti helm dan body motor diberi gambar motif batik khas Lombok.

“GP di Indonesia mendatangkan ide saya dan pegawai dengan membuat motif batik ini,” jelas Taufan di rumah Batik.Toeli, Solo, Jumat (18/3/2022).

Untuk membuat batik itu, sama seperti membuat batik tulis umumnya. Awalnya membuat motif dulu dengan cara menjiplak motif MotoGP ke dalam kertas. Setelah itu digambar di atas kain, selanjutnya proses membatik dengan menggunakan canting.

Advertisement

Dilanjutkan dengan proses pewarnaan, penguncian warna dan finishing dengan memggunakan malam (lilin untuk membatik) yang direbus. Untuk membuat batik ini mulai dari awal hingga finishing membutuhkan waktu satu minggu.

“Pengerjaan dilakukan dua perajin Mas Dian dan Mas Munir, keduanya disabilitas tuna rungu,” jelasnya lagi.

Untuk kain Batik MotoGP Mandalika dijual dengan harga mulai Rp1 jutaan. Pada awalnya baru membuat dua lembar kain batik, saat ini sudah bertambah menjadi empat lembar.

“Untuk warnanya nanti bisa disesuaikan dengan warna seragam masing-masing pembalap. Ada hitam, biru tosca juga,” katamya.

Taufan menerangkan untuk satu kain batik tulis membutuhkan waktu sekitar satu minggu mulai dari desain hingga finishing.

Advertisement

Pembuatan batik dengan motif unik tersebut ternyata sudah beberapa kali dilakukannya. Sebelumnya juga pernah membuat batik motif apple, karikatur hingga motif virus Covid-19 yang dikombinasikan dengan Batik Solo.

Rumah Batik Toeli yang didirikan tahun 2020 lalu, mempekerjakan perajin batik penyandang disabilitas tuna rungu maka diberinama Batik Toeli.

Sementara itu, Kepala Dina Koperasi dan UMKM Kota Solo Kristiana Wahyu menyambut baik kreativitas dari perajin Batik Toeli ini.

“Ini bagian kreativitas, menyemarakkan agenda nasional yang sifatnya internasional. Ini juga bagian dari mempromosikan batik supaya semakin luas dikenal masyarakat,” ujarnya. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca
Advertisement