Connect with us

News

AI Membantu Saya Mencari Kembali Jejak Prestasi 50 Tahun di Dunia Bridge

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Bukan Sekadar Mencari Medali, tetapi Menemukan Kembali Cerita di Balik Perjalanan

Mungkin inilah manfaat AI yang paling saya rasakan, bukan menggantikan pengalaman, bukan menggantikan ingatan, bukan pula menulis ulang kehidupan seseorang seolah-olah semuanya bisa ditemukan di internet tetapi membantu membuka kembali pintu-pintu arsip yang selama ini tertutup.

Mungkin inilah manfaat AI yang paling saya rasakan, bukan menggantikan pengalaman, bukan menggantikan ingatan, bukan pula menulis ulang kehidupan seseorang seolah-olah semuanya bisa ditemukan di internet tetapi membantu membuka kembali pintu-pintu arsip yang selama ini tertutup. (Foto: Istimewa)

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

FAKTUAL INDONESIA: Setelah lebih dari lima puluh tahun berkecimpung di dunia bridge, saya sendiri kadang kesulitan menjawab sebuah pertanyaan yang sebenarnya sederhana:

“Sebenarnya apa saja prestasi yang pernah saya raih?”

Bukan karena tidak ada yang bisa diceritakan.

Justru sebaliknya.

Advertisement

Perjalanan itu sudah terlalu panjang.

Saya mulai belajar bridge pada 1971, ketika masih duduk di kelas 3 SMA di Tondano. Pada 1974 saya pertama kali mengikuti Kejurnas di Magelang. Tahun 1976 saya menjadi juara nasional Patkawan Terbuka di Kejurnas Yogyakarta dan mendapat kesempatan pertama mewakili Indonesia ke luar negeri, di Kejuaraan Dunia di Monte Carlo.

Lima puluh tahun kemudian, saya masih duduk di meja bridge.

Saya masih bermain.

Masih menulis.

Advertisement

Masih mengikuti perkembangan bridge dunia.

Dan karena perjalanan itu begitu panjang, saya berpikir:

Mengapa tidak mencoba mencari kembali jejak perjalanan tersebut dengan bantuan AI?

Ternyata hasilnya cukup menarik.

Bahkan lebih menarik daripada yang saya bayangkan.

Advertisement

AI sebagai asisten pencarian

Saya meminta AI menelusuri berbagai sumber:

arsip World Bridge Federation;

hasil pertandingan;

roster kejuaraan;

Advertisement

pemberitaan media;

dokumentasi kejuaraan internasional;

arsip organisasi;

tulisan-tulisan lama;

dan berbagai sumber lain yang mencantumkan nama saya.

Advertisement

AI kemudian menemukan banyak hal.

Ada prestasi yang ternyata sudah saya lupa.

Ada pertandingan yang masih saya ingat tetapi sulit ditemukan dokumennya.

Ada pula nama saya yang tercantum dalam arsip, tetapi ternyata saya tidak pernah berangkat.

Di sinilah saya menyadari sesuatu:

Advertisement

AI sangat membantu menemukan arsip, tetapi AI tidak otomatis mengetahui kebenaran sebuah peristiwa.

Karena itu setiap hasil pencarian harus saya periksa kembali.

Saya harus bertanya:

Apakah saya benar-benar berangkat?

Apakah saya benar-benar bermain?

Advertisement

Apakah saya benar-benar menjadi NPC?

Apakah nama saya hanya sudah didaftarkan sebelumnya?

Dan ternyata jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa mengubah sebuah cerita.

2005 – nama saya ada, tetapi saya tidak berangkat

Contoh paling jelas adalah World Senior Championship 2005 di Estoril, Portugal.

Advertisement

Dalam arsip WBF, nama saya tercantum sebagai NPC Indonesia.

Kalau hanya melihat arsip tersebut, orang bisa saja menyimpulkan bahwa saya ikut membawa Indonesia menjadi runner-up dunia.

Tetapi saya tahu kenyataannya.

Saya tidak berangkat ke Estoril.

Kemungkinan besar nama saya sudah didaftarkan PB GABSI sebelumnya sebagai NPC, tetapi ketika terjadi perubahan keberangkatan, roster tersebut tidak diperbarui.

Advertisement

Jadi meskipun nama saya masih ada dalam arsip, saya tidak boleh mengklaim prestasi tersebut.

Maka:

2005 saya keluarkan dari daftar prestasi pribadi.

2009 – juga saya keluarkan

Hal yang sama berlaku untuk World Senior Championship 2009 di São Paulo.

Advertisement

Indonesia memang meraih medali perunggu.

Tetapi saya tidak menjadi bagian dari tim tersebut.

Maka prestasi tersebut juga tidak saya masukkan.

Prinsip saya sederhana:

Lebih baik daftar prestasi sedikit tetapi benar daripada panjang tetapi keliru.

Advertisement

Bagi saya, ini penting.

Karena tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuat CV saya terlihat lebih hebat.

Saya justru ingin membuatnya lebih akurat.

Dari Tondano ke panggung dunia

Perjalanan itu dimulai dengan sangat sederhana.

Advertisement

1971.

Saya belajar bridge ketika masih duduk di kelas 3 SMA di Tondano.

1974.

Saya pertama kali mengikuti Kejurnas di Magelang.

1976.

Advertisement

Saya menjadi juara nasional Patkawan Terbuka di Kejurnas Yogyakarta.

Kemenangan itu membawa saya mendapatkan kesempatan pertama mewakili Indonesia ke luar negeri.

Tujuannya:

Monte Carlo.

Kejuaraan Dunia.

Advertisement

Bagi seorang pemain muda dari Tondano, pengalaman tersebut tentu luar biasa.

Saya belum tahu bahwa perjalanan itu akan berlangsung selama lebih dari lima puluh tahun.

1978 dan tahun-tahun awal perjalanan internasional

Dalam catatan lama yang saya miliki, saya menemukan kembali sejumlah prestasi pasangan yang sudah lama berlalu.

Di antaranya:

Advertisement

Juara Pasangan Asia Pacific 1978 bersama George Soo dari Filipina;

Juara II bersama Denny Sacul di Bangkok;

Juara III bersama Roy Tirtadji di Hong Kong;

Juara Kejuaraan Pasangan Antarwartawan Bridge di Maastricht, Belanda bersama Ananta Widjaya;

Juara Pesta Sukan Singapura bersama Amiruddin Jusuf;

Advertisement

Juara pasangan Gold Coast Congress bersama Giovani Watulingas;

Juara pasangan ASEAN Bridge Club Championships bersama almarhum Memed Hendrawan;

Juara pasangan Selangor Congress bersama Tanudjan Sugiarto.

Ketika membaca kembali catatan tersebut, saya sendiri baru menyadari:

ternyata perjalanan itu sudah sangat panjang sejak masa muda.

Advertisement

Orang-orang yang pernah duduk satu meja dengan saya

Semakin lama saya menelusuri perjalanan tersebut, semakin saya menyadari bahwa prestasi bridge tidak pernah benar-benar merupakan prestasi seorang diri.

Di balik setiap hasil ada partner.

Ada rekan satu tim.

Ada lawan.

Advertisement

Ada kapten.

Ada coach.

Dan ada sahabat.

Dalam perjalanan panjang itu saya pernah duduk satu meja dengan banyak nama besar bridge Indonesia.

Di antaranya:

Advertisement

Munawar Sawiruddin

Munawar adalah salah satu pemain senior yang sangat saya hormati.

Kami pernah menjadi bagian dari tim nasional dan tim senior Indonesia.

Pada final APBF di Wuyi 2014, saya bahkan turun bermain bersama Munawar pada session kedua melawan Australia.

Indonesia akhirnya menjadi juara Asia Pacific.

Advertisement

Henky Lasut

Henky adalah salah satu maestro bridge Indonesia.

Kami berada dalam generasi yang sama dan berkali-kali berada dalam lingkungan tim nasional dan kompetisi internasional.

Michael Bambang Hartono

Dengan Bambang Hartono, perjalanan saya berlangsung sampai periode yang relatif baru.

Advertisement

Kami pernah menjadi pasangan dan rekan satu tim dalam berbagai event internasional, termasuk Asian Games 2018 ketika kami menjadi bagian dari tim Super Mixed Indonesia yang meraih medali perunggu.

Denny Sacul

Almarhum Denny Sacul mempunyai tempat khusus dalam perjalanan saya.

Kami pernah menjadi pasangan dalam berbagai kesempatan.

Pada APBF 2015, kami meraih medali perak nomor pasangan dan sekaligus menjadi bagian dari tim Senior Indonesia yang meraih emas.

Advertisement

Memed Hendrawan

Dengan almarhum Memed Hendrawan saya juga pernah menjadi pasangan dalam berbagai kesempatan.

Salah satu yang paling saya ingat adalah World Bridge Championships Bali 2013, ketika kami mencapai babak perempat final dan tercatat sebagai kelompok peringkat 5–8 dunia.

Tanudjan Sugiarto

Dan tentu saja Tanudjan Sugiarto.

Advertisement

Perjalanan saya bersama Tanudjan mempunyai cerita tersendiri.

Ada Wuyi.

Ada Sanya.

Ada kesempatan Wroclaw yang akhirnya harus dijalani dengan partner lain.

Dan ada begitu banyak pertandingan lain yang kami jalani bersama.

Advertisement

2013 – Bali: tahun yang sangat penting

Tahun 2013 mempunyai tempat khusus dalam perjalanan saya.

Indonesia akhirnya menjadi tuan rumah 41st World Bridge Teams Championships di Nusa Dua, Bali.

WBF kemudian menggambarkan Bali 2013 sebagai sebuah kejuaraan yang sangat sukses dan memberikan penghargaan tinggi kepada tuan rumah Indonesia atas keramahan, organisasi dan penyelenggaraannya.

Saya pada waktu itu bukan hanya memikirkan pertandingan sebagai pemain.

Advertisement

Saya juga aktif dalam organisasi PB GABSI dan terlibat dalam berbagai persiapan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kejuaraan dunia tersebut.

Dalam proses persiapan itulah saya berinteraksi cukup intensif dengan Gianarrigo Rona, Presiden WBF.

Rona sendiri terpilih kembali sebagai Presiden WBF di Nusa Dua pada 2013.

Jadi hubungan saya dengan beliau bukan hubungan yang baru muncul ketika kasus Sanya terjadi.

Kami sudah saling mengenal melalui pekerjaan dan persiapan kejuaraan dunia di Bali.

Advertisement

Dan ternyata hubungan profesional tersebut beberapa tahun kemudian menjadi bagian dari sebuah cerita yang tidak pernah saya duga.

2013 – sekaligus bertanding di Kejuaraan Dunia

Di Bali saya juga turun sebagai pemain.

Saya berpasangan dengan Memed Hendrawan.

Arsip resmi WBF mencatat pasangan POLII Bert Toar – HENDRAWAN Memed dalam d’Orsi Seniors Trophy. WBF juga mencatat bahwa Indonesia mencapai fase perempat final dalam kompetisi tersebut.

Advertisement

Kami kalah di perempat final dari Jerman.

Kemudian terjadi sesuatu yang cukup luar biasa.

Jerman akhirnya dinyatakan bersalah melakukan cheating dan WBF mencabut gelar serta medali mereka.

Saya sempat mempertanyakan:

“Kalau tim yang mengalahkan kami kemudian didiskualifikasi, mengapa Indonesia tidak naik ke semifinal?”

Advertisement

Jawabannya ternyata tidak demikian.

Sanksi terhadap Jerman tidak membatalkan pertandingan perempat final yang sudah kami mainkan.

Karena itu hasil Indonesia tetap:

Peringkat 5–8 dunia.

Dan sekarang saya memahami bahwa itu memang hasil resmi kami.

Advertisement

2014 – Wuyi: awal perjalanan istimewa bersama Tanudjan

Setelah Bali, tahun 2014 menjadi tahun penting.

Memed Hendrawan mengundurkan diri dari tim senior.

Saya kemudian berpasangan dengan Tanudjan Sugiarto.

Prestasi pertama kami langsung sangat baik.

Advertisement

Pada The 2nd Asia Pacific Bridge Cup di Wuyi, China, tim Senior Indonesia menjadi juara.

Tim tersebut diperkuat pemain-pemain seperti:

Henky Lasut, Eddy Manoppo, Munawar Sawiruddin, Michael Bambang Hartono, Bert Toar Polii dan Tanudjan Sugiarto.

Pada final melawan Australia, saya bahkan turun bermain bersama Munawar pada session kedua.

Indonesia menjadi juara.

Advertisement

Bagi saya, momen tersebut sangat istimewa.

2014 – Sanya: ketika hasil di meja tidak cukup

Beberapa bulan kemudian saya dan Tanudjan kembali bermain bersama di 14th Red Bull World Bridge Series di Sanya, China.

Kami tampil di nomor Senior Pairs.

Hasil kami sebenarnya sangat baik.

Advertisement

Tetapi kemudian terjadi persoalan.

Kami tidak dapat mengikuti final.

Dan yang membuat persoalan ini berbeda adalah:

bukan karena hasil permainan kami.

Dalam buletin resmi WBF bahkan tercatat adanya:

Advertisement

“Registration process error.”

Kesalahan proses registrasi tersebut menyebabkan kerugian bagi pasangan Senior Indonesia Bert Toar Polii–Tanudjan Sugiarto.

Championship Manager bahkan menyampaikan permintaan maaf.

Bagi saya, persoalan tersebut tentu tidak selesai hanya dengan sebuah permintaan maaf.

Sebagai anggota International Players Bridge Association (IPBA), saya kemudian menulis komplain mengenai kasus tersebut melalui buletin IPBA.

Advertisement

Saya merasa kasus seperti ini harus dicatat.

Bukan hanya demi kepentingan saya dan Tanudjan.

Tetapi juga karena saya percaya bahwa seorang pemain yang sudah mendapatkan hasil di meja pertandingan berhak mendapatkan perlakuan administratif yang benar.

Saya tidak tahu saat itu apa akibat dari tulisan tersebut.

Saya hanya merasa:

Advertisement

kalau ada sesuatu yang tidak benar, harus disampaikan dengan cara yang baik dan melalui jalur yang tepat.

Dari Sanya ke Wroclaw

Dua tahun kemudian, saya mendapatkan sebuah email yang sampai sekarang masih saya simpan.

Tanggal:

14 Desember 2015.

Advertisement

Pengirim:

Gianarrigo Rona, President World Bridge Federation.

Email tersebut sangat singkat tetapi bagi saya sangat berarti.

Presiden WBF menulis bahwa, sebagaimana sudah disampaikannya kepada saya di Chennai, beliau dengan senang hati menginformasikan bahwa:

saya dan partner saya, Sugiarto Tanudjan, diundang mengikuti World National Seniors Pairs Championship di Wroclaw.

Advertisement

Undangan tersebut diberikan dengan:

FREE ENTRY

dan

B&B ACCOMMODATION IN DOUBLE ROOM

Awalnya akomodasi diberikan untuk:

Advertisement

10–16 September 2016.

Tetapi ada satu kalimat yang membuat email ini menjadi dokumen yang sangat penting:

“Expressing again to you and Tanudjan my apologies for what happened in Sanya…”

Presiden WBF secara langsung kembali menyampaikan permintaan maaf kepada saya dan Tanudjan atas apa yang terjadi di Sanya.

Jadi sekarang hubungan antara kedua peristiwa itu bukan lagi dugaan.

Advertisement

Ada bukti tertulisnya.

Saya meminta akomodasi diperpanjang

Saya kemudian mengajukan permintaan lain.

Saya ingin mengikuti seluruh rangkaian kejuaraan sampai upacara penutupan.

Karena itu saya meminta agar masa akomodasi diperpanjang.

Advertisement

Permintaan tersebut disetujui.

Akhirnya akomodasi menjadi:

10–18 September 2016.

Saya memang ingin menyaksikan sampai akhir seluruh rangkaian World Bridge Games.

Tetapi Tanudjan tidak bisa berangkat

Advertisement

Kemudian muncul persoalan yang sama sekali berbeda.

Tanudjan harus mewakili Jawa Tengah pada PON 2016 di Bandung.

Karena itu ia tidak dapat berangkat ke Wroclaw.

Padahal undangan WBF pada awalnya diberikan kepada:

Bert Toar Polii – Tanudjan Sugiarto.

Advertisement

Saya kemudian mengajukan permintaan khusus kepada WBF:

“Apakah saya diperbolehkan mengganti partner?”

Permintaan tersebut disetujui.

Saya akhirnya tetap berangkat.

Dan partner saya di Wroclaw menjadi:

Advertisement

Hartono.

Arsip resmi WBF memang mencatat:

POLII Bert Toar – HARTONO Hartono

sebagai pasangan Indonesia di Senior Pairs Wroclaw 2016, dengan hasil akhir 46,07%.

Jadi Wroclaw bukan cerita tentang medali.

Advertisement

Bukan pula cerita tentang hasil yang luar biasa.

Tetapi bagi saya, Wroclaw mempunyai arti lain.

Ini adalah cerita tentang sebuah kesempatan kedua.

Sanya 2014 → Wroclaw 2016

Kalau saya rangkai sekarang, perjalanan itu terlihat sangat jelas:

Advertisement

Sanya 2014

Bert Toar Polii – Tanudjan Sugiarto

Kesalahan registrasi → kehilangan kesempatan tampil di final.

Setelah Sanya

Advertisement

Komplain melalui IPBA.

14 Desember 2015

Presiden WBF mengirim undangan.

Free entry + B&B accommodation.

Advertisement

Dan kembali meminta maaf atas apa yang terjadi di Sanya.

Permintaan saya

Akomodasi diperpanjang agar saya bisa mengikuti penutupan.

10–18 September 2016.

Advertisement

2016

Tanudjan tidak bisa berangkat karena PON Jawa Tengah.

Permintaan khusus

Advertisement

Saya meminta izin mengganti partner.

WBF menyetujui

Wroclaw

Advertisement

Bert Toar Polii – dr. Hartono.

Kalau hanya membaca daftar hasil pertandingan, cerita ini tidak akan pernah terlihat.

Tetapi ketika dokumen dan pengalaman pribadi disatukan, barulah kisahnya menjadi utuh.

2015 – dua medali dalam satu kejuaraan

Di antara Sanya dan Wroclaw, tahun 2015 juga menjadi salah satu tahun penting.

Advertisement

Pada APBF Championship 2015 di Bangkok, tim Senior Indonesia menjadi juara.

Saya bersama:

Michael Bambang Hartono

Munawar Sawiruddin

Henky Lasut

Advertisement

Eddy Manoppo

Denny Sacul

meraih:

🥇 Medali Emas Senior Team

Bersama Denny Sacul saya juga meraih:

Advertisement

🥈 Medali Perak Pairs

Satu kejuaraan menghasilkan dua medali.

2016 – masih bermain, sekaligus membina

Wroclaw juga bukan satu-satunya kegiatan saya pada 2016.

Saya juga bertugas sebagai coach tim Girls Indonesia pada World Youth Team Championships di Salsomaggiore, Italia.

Advertisement

Di sinilah perjalanan saya mulai semakin menarik.

Saya masih bermain sebagai pemain senior.

Tetapi sekaligus mulai semakin aktif dalam pembinaan generasi muda.

2018 – Asian Games

Kemudian datang salah satu momen terbesar dalam sejarah bridge Indonesia.

Advertisement

Pada Asian Games 2018, bridge untuk pertama kalinya dipertandingkan.

Saya menjadi bagian dari tim Super Mixed Indonesia.

Bersama:

Michael Bambang Hartono

Conny Eufke Sumampouw

Advertisement

Rury Andhani

Franky Steven Karwur

Jemmy Boyke Bojoh

kami meraih:

🥉 Medali Perunggu Asian Games

Advertisement

Bagi saya, medali ini mempunyai makna khusus.

Bukan hanya karena warna perunggunya.

Tetapi karena kami menjadi bagian dari sejarah ketika bridge pertama kali masuk Asian Games.

2018 – Minahasa Award

Pada 30 November 2018, saya menerima:

Advertisement

Minahasa Award – “Tuama Leos, Keter Wo Nga’asan”

Piagam yang saya miliki menyebut penghargaan tersebut diberikan atas:

dedikasi dan pengabdian dalam olahraga bridge sebagai pemain internasional dan pengurus PB GABSI.

Piagam itu juga mencatat saya sebagai:

peraih medali perunggu Asian Games olahraga bridge.

Advertisement

Bagi saya, penghargaan ini sangat berarti.

Karena yang dihargai bukan hanya hasil pertandingan.

Tetapi juga:

dedikasi dan pengabdian.

Gelar-gelar Bridge

Advertisement

Selain medali dan penghargaan, perjalanan panjang tersebut juga menghasilkan gelar-gelar bridge.

Yang tercatat dalam berbagai sumber dan dokumentasi yang telah kita kumpulkan adalah:

World Bridge Federation

World Life Master

Senior International Master (SIM)

Advertisement

Asia Pacific Bridge Federation

Grand Master

GABSI

Life Master

Jadi gelar saya dapat dituliskan:

Advertisement

World Life Master – WBF

Senior International Master – WBF

Grand Master – APBF

Life Master – GABSI

Bagi saya, gelar-gelar tersebut bukan sekadar titel.

Advertisement

Di balik setiap gelar ada ribuan papan yang dimainkan, perjalanan panjang, partner, lawan, kemenangan, kekalahan dan pengalaman.

2020 – Satyalancana Dharma Olahraga

Kemudian datang salah satu penghargaan yang paling berarti bagi saya.

Pada 2020 saya menerima:

Satyalancana Dharma Olahraga

Advertisement

dari Presiden Republik Indonesia.

Dokumen yang saya miliki mencantumkan:

Bert Toar Polii – Olahragawan/Bridge

berdasarkan:

Keppres RI No. 36/TK/Tahun 2020

Advertisement

ditetapkan di Jakarta pada:

13 Mei 2020.

Ini adalah salah satu penghargaan tertinggi yang saya terima sebagai atlet.

Atlet Legenda

Saya juga menerima penghargaan:

Advertisement

Atlet Legenda

dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Bukti dokumentasinya sekarang sudah saya miliki.

Bagi saya, penghargaan ini melengkapi perjalanan panjang tersebut.

Kalau Satyalancana Dharma Olahraga merupakan penghargaan negara, Minahasa Award merupakan penghargaan dari daerah asal, maka Atlet Legenda menjadi pengakuan dari lingkungan olahraga nasional.

Advertisement

2022 – masih bermain dan memimpin

Pada Bridge Asia Cup 2022 di Jakarta, saya kembali memperkuat tim senior Indonesia.

Saya bukan hanya bermain.

Saya juga dipercaya menjadi kapten tim.

Bagi saya, kepercayaan tersebut mempunyai arti khusus.

Advertisement

Karena setelah perjalanan yang begitu panjang, saya masih dipercaya untuk duduk di meja pertandingan sekaligus memimpin tim.

2025 – pemain sekaligus Playing Captain

Pada 54th APBF Championships di Hefei, China, saya kembali memperkuat tim Senior Indonesia.

Kali ini saya dipercaya sebagai:

Pemain sekaligus Playing Captain

Advertisement

Indonesia kemudian meraih:

🥉 Medali Perunggu APBF Senior Team

Bagi saya, yang paling menarik bukan hanya medalinya.

Tetapi kenyataan bahwa setelah lebih dari lima puluh tahun bermain bridge, saya masih dipercaya untuk bermain sekaligus memimpin tim senior Indonesia di tingkat Asia Pasifik.

2026 – masih duduk di meja bridge

Advertisement

Dan sekarang kita sampai pada 2026.

Saya masih bermain.

Masih menulis.

Masih mengikuti perkembangan bridge.

Masih memikirkan pembinaan.

Advertisement

Masih memikirkan bagaimana bridge Indonesia bisa berkembang.

Kalau ada yang bertanya:

“Kapan karier bridge Bert Toar Polii berakhir?”

Jawaban saya:

Belum.

Advertisement

Partner yang membentuk perjalanan saya

Semakin lama saya menelusuri arsip, semakin saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya bukan cerita tentang saya seorang.

Di balik setiap prestasi ada orang lain.

Ada partner.

Ada rekan satu tim.

Advertisement

Ada lawan yang membuat kita belajar.

Ada coach.

 

Ada kapten.

 

Advertisement

Ada pengurus.

 

Ada keluarga.

 

Dan ada sahabat.

Advertisement

 

Nama-nama seperti:

 

Munawar Sawiruddin

Henky Lasut

Advertisement

Michael Bambang Hartono

Denny Sacul

Memed Hendrawan

Tanudjan Sugiarto

 

Advertisement

bukan sekadar nama dalam daftar hasil pertandingan.

 

Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya di bridge.

 

Sebagian masih bersama kita.

Advertisement

 

Sebagian sudah pergi.

 

Tetapi semuanya meninggalkan jejak.

 

Advertisement

AI membantu saya mencari, tetapi manusia tetap harus mengingat

 

Inilah yang paling menarik dari proyek ini.

 

Saya awalnya mengira AI hanya akan membantu menemukan berita lama.

Advertisement

 

Ternyata lebih dari itu.

 

AI menemukan arsip WBF.

 

Advertisement

AI menemukan hasil pertandingan.

 

AI menemukan pemberitaan lama.

 

AI menemukan nama saya dalam berbagai dokumen.

Advertisement

 

Tetapi kemudian saya harus mengatakan:

 

“Yang itu jangan dimasukkan. Saya tidak berangkat.”

 

Advertisement

Atau:

 

“Yang itu benar. Saya memang bermain.”

 

Atau:

Advertisement

 

“Yang ini saya ingat berbeda. Mari kita cek lagi.”

 

Dan di sinilah saya melihat batas sekaligus kekuatan AI.

 

Advertisement

AI dapat mencari.

 

AI dapat menghubungkan informasi.

 

AI dapat membantu membaca arsip.

Advertisement

 

Tetapi AI tidak menjalani pertandingan tersebut.

 

Saya yang menjalaninya.

 

Advertisement

Karena itu pengalaman manusia tetap diperlukan untuk memverifikasi arsip.

 

Sejarah pribadi ternyata juga perlu diverifikasi

 

Kita sering mengira bahwa sejarah diri sendiri pasti kita ingat dengan benar.

Advertisement

 

Ternyata tidak selalu.

 

Nama bisa tertinggal dalam roster.

 

Advertisement

Dokumen bisa tidak diperbarui.

 

Kesalahan administrasi bisa terjadi.

 

Partner bisa berubah.

Advertisement

 

Perjalanan bisa batal.

 

Dan prestasi yang sudah puluhan tahun berlalu bisa saja terlupakan.

 

Advertisement

Karena itu saya memilih satu prinsip:

 

Jangan masukkan sesuatu hanya karena ada nama saya di internet. Pastikan saya benar-benar ada di sana.

 

Ini juga alasan mengapa beberapa informasi yang semula ditemukan AI akhirnya saya keluarkan.

Advertisement

 

2005 – tidak saya masukkan.

 

2009 – tidak saya masukkan.

 

Advertisement

Sebaliknya, pengalaman seperti:

 

Bali 2013 – 5–8 dunia

 

tetap saya pertahankan karena memang saya jalani.

Advertisement

 

Dan kisah:

 

Sanya 2014 → Wroclaw 2016

 

Advertisement

justru menjadi semakin kuat karena sekarang ada dokumen pendukung yang menjelaskan apa yang terjadi di balik hasil pertandingan.

 

Dari 1971 sampai 2026

 

Kalau perjalanan panjang tersebut saya ringkas:

Advertisement

 

1971

Mulai belajar bridge.

 

1974

Advertisement

Pertama kali mengikuti Kejurnas.

 

1976

Juara nasional dan pertama kali mewakili Indonesia ke luar negeri.

 

Advertisement

1978

Juara Pasangan Asia Pacific.

 

2011

NPC tim putri Indonesia dan mencapai final Venice Cup.

Advertisement

 

2013

Bertanding di World Bridge Championships Bali dan mencapai perempat final, tercatat dalam kelompok peringkat 5–8 dunia.

 

2014

Advertisement

Juara Asia Pacific Senior Team di Wuyi.

 

2014

Sanya bersama Tanudjan Sugiarto; hasil baik tetapi kehilangan kesempatan tampil di final akibat kesalahan registrasi.

 

Advertisement

2015

Juara APBF Senior Team dan peraih perak Pairs.

 

2016

World Bridge Games Wroclaw; berpasangan dengan dr. Hartono setelah memperoleh persetujuan WBF untuk mengganti partner.

Advertisement

 

2016

Coach tim Girls Indonesia pada World Youth Team Championships.

 

2018

Advertisement

Medali perunggu Asian Games.

 

2018

Minahasa Award.

 

Advertisement

2020

Satyalancana Dharma Olahraga dari Presiden Republik Indonesia.

 

2022

Masih bermain dan dipercaya memimpin tim senior.

Advertisement

 

2025

Medali perunggu APBF sebagai pemain sekaligus Playing Captain.

 

2026

Advertisement

Masih aktif bermain dan menulis.

 

Dan di sepanjang perjalanan itu saya memperoleh gelar:

 

World Life Master – WBF

Advertisement

Senior International Master – WBF

Grand Master – APBF

Life Master – GABSI

 

Lebih dari lima puluh tahun.

Advertisement

 

Dan ternyata ceritanya masih berlanjut.

 

Penutup

Saya mencari prestasi, tetapi menemukan perjalanan hidup

Advertisement

 

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat saya terlihat hebat.

 

Terus terang, itu bukan tujuan saya.

 

Advertisement

Saya hanya ingin menjawab sebuah pertanyaan sederhana:

 

“Setelah lebih dari lima puluh tahun menjadi Tukang Bridge, sebenarnya jejak apa yang sudah saya tinggalkan?”

 

AI membantu saya mencari jawabannya.

Advertisement

 

Arsip WBF memberikan petunjuk.

 

Media memberikan konfirmasi.

 

Advertisement

Dokumen penghargaan memberikan bukti.

 

Email Presiden WBF memberikan sebuah cerita yang tidak mungkin saya temukan hanya dari tabel hasil pertandingan.

 

Dan ingatan saya sendiri membantu meluruskan ketika sebuah arsip tidak sesuai dengan kenyataan.

Advertisement

 

Dari proses tersebut saya justru mendapatkan pelajaran sederhana:

 

SEJARAH TIDAK CUKUP HANYA DICARI.

SEJARAH HARUS DIVERIFIKASI.

Advertisement

 

Termasuk sejarah diri sendiri.

 

Mungkin inilah manfaat AI yang paling saya rasakan.

 

Advertisement

Bukan menggantikan pengalaman.

 

Bukan menggantikan ingatan.

 

Bukan pula menulis ulang kehidupan seseorang seolah-olah semuanya bisa ditemukan di internet.

Advertisement

 

Tetapi membantu membuka kembali pintu-pintu arsip yang selama ini tertutup.

 

Kemudian saya tinggal masuk.

 

Advertisement

Melihat kembali nama-nama lama.

 

Mengingat wajah-wajah yang pernah duduk satu meja.

 

Mengingat kemenangan.

Advertisement

 

Mengingat kekalahan.

 

Mengingat partner-partner yang pernah menemani perjalanan.

 

Advertisement

Dan kadang menemukan cerita yang ternyata sudah hampir saya lupakan.

 

Seperti Sanya.

 

Seperti Wroclaw.

Advertisement

 

Seperti email Presiden WBF yang masih saya simpan.

 

Pada akhirnya saya sadar:

 

Advertisement

Yang saya cari sebenarnya bukan daftar prestasi.

 

Saya sedang mencari kembali perjalanan hidup saya di dunia bridge.

 

Dan setelah melihat kembali semuanya, saya hanya bisa tersenyum dan berkata:

Advertisement

 

“Oh… ternyata perjalanan saya sudah sejauh ini.”

 

Tetapi satu hal belum berubah.

 

Advertisement

Saya masih:

 

TUKANG BRIDGE

 

Dan selama kartu masih dibagikan,

Advertisement

 

PERMAINAN BELUM SELESAI. ***

Lanjutkan Membaca
Advertisement