Connect with us

Ekonomi

Rupiah Kamis 21 Mei 2026: Melemah Lagi, Tergelincir ke Rp17.667 Per Dolar AS

Gungdewan

Diterbitkan

pada

FAKTUAL INDONESIA: Sempat menghadirkan secercah harapan sehari sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya harus rela menyerah melemah kembali pada perdagangan valuta asing  Kamis  (21/5/2026). Mata uang Garuda sudah melemah sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan hari ini.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi bergerak melemah 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.655 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.654 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah makin melemah menjadi 13 poin atau 0,08 persen jadi Rp17.667 per dolar AS.

Sementara Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini bergerak menguat ke level Rp17.673 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.685 per dolar AS.

Advertisement

Untuk kawasan Asia, rupiah tidak sendirian melemah. Di wilayah regional, baht Thailand dan dolar Singapura terpantau ikut kompak memerah menghadapi keperkasaan the greenback.

Sentimen Dalam dan Luar Negeri

Pelemahan yang terjadi pada perdagangan hari ini terbilang menarik karena justru didominasi oleh respons pelaku pasar terhadap dinamika kebijakan domestik. Analis pasar mencatat ada dua faktor utama yang membuat langkah rupiah terasa berat sore ini:

  • Wacana Regulasi Baru Danantara: Langkah Presiden Prabowo Subianto membentuk badan eksportir komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia memicu sikap hati-hati (wait and see) di kalangan investor. Pasar mengkhawatirkan potensi ketidakpastian regulasi baru atau pengetatan kontrol negara terhadap sektor swasta.
  • Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan: Kekhawatiran atas data makroekonomi domestik, khususnya proyeksi defisit neraca transaksi berjalan untuk kuartal pertama Indonesia, turut memberikan beban tambahan bagi pergerakan mata uang lokal.

Bukan hanya faktor dari dalam negeri, bayang-bayang global juga belum sepenuhnya mereda. Harga minyak mentah dunia yang masih betah bertengger di atas 100 dolar AS per barel membuat pos anggaran fiskal dalam negeri menjadi lebih sensitif.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang merangkak naik ke posisi 99,16 ikut membatasi ruang gerak mayoritas mata uang Asia.

“Rupiah terbebani oleh sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik. Wacana tata kelola ekspor lewat Danantara membuat sebagian investor memetakan ulang potensi risiko regulasi,” ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Advertisement

Sementara itu Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga sikap bank sentral Amerika Serikat yang masih mewaspadai inflasi.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 13 point, sebelumnya sempat melemah 30 point di level Rp17.667 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.653,” kata Ibrahim, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, perkembangan konflik Iran dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat yang dirilis Rabu waktu setempat.

Dokumen tersebut menunjukkan mayoritas pejabat Federal Reserve masih melihat risiko inflasi tetap tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan harga belum kembali menuju target 2 persen.

Advertisement

Risalah FOMC juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pejabat The Fed terhadap dampak inflasi akibat konflik Iran dan lonjakan harga energi global.

“Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal tetap stabil dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%,” pungkas Ibrahim.

“Rupiah terbebani oleh sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik. Wacana tata kelola ekspor lewat Danantara membuat sebagian investor memetakan ulang potensi risiko regulasi,” ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Bagi investor dan pelaku pasar, rilis data ekonomi domestik serta kepastian detail regulasi ekspor dalam beberapa hari ke depan akan menjadi kompas penting untuk melihat apakah rupiah mampu bangkit atau justru kembali tertahan di zona merah. ***

Advertisement
Lanjutkan Membaca