Internasional
Trump Sesumbar, Amerika Siap Menyerang Lagi tetapi Iran Menginginkan Kesepakatan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku membatalkan keputusan menyerang Iran lagi setelah didesak negara Teluk sekutunya dan Iran menginginkan kesepakatan. (Foto AI)
FAKTUAL INDONESIA: Ketegangan di Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang membuat dunia menahan napas.
Lewat platform media sosialnya, Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa dirinya baru saja membatalkan sebuah serangan militer besar-besaran terhadap Iran yang sedianya dijadwalkan meluncur.
Namun, drama ini bukan akhir dari cerita. Di balik gertakan tersebut, ada sebuah celah diplomasi yang sangat tipis: Iran dilaporkan sangat menginginkan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang, meski AS tetap meletakkan jarinya di atas tombol pelatuk.
Baca Juga : Viral, Kerbau Warna Pink dari Bangladesh Dijuluki ‘Donald Trump
Pembatalan di Menit-Menit Terakhir
Trump menjelaskan bahwa keputusan untuk menunda serangan tersebut diambil setelah adanya intervensi dan permohonan langsung dari para pemimpin negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Para sekutu AS ini meyakinkan Washington bahwa Teheran kini sedang menunjukkan itikad serius dalam meja perundingan.
“Saya diminta oleh para pemimpin hebat dan sekutu kita di Teluk untuk menahan serangan militer terencana terhadap Republik Islam Iran yang dijadwalkan besok pagi,” tulis Trump. “Sebab, negosiasi serius saat ini sedang berlangsung.”
Baca Juga : Trump Klaim Capai Kesepakatan Dagang “Fantastis” dengan Xi Jinping
Meskipun demikian, Trump yang dikenal dengan gaya diplomasinya yang keras, memberikan peringatan yang sangat lugas. Ia menegaskan bahwa militer AS berada dalam status siaga penuh dan siap meluncurkan serangan skala besar dalam waktu sekejap jika kesepakatan tidak tercapai.
Bukan Penyerahan Diri
Di sisi lain, Iran yang berada di bawah tekanan blokade laut AS dan gempuran ekonomi, mengonfirmasi telah mengirimkan draf proposal perdamaian terbaru (berisi 14 poin) melalui mediator Pakistan.
Pihak Teheran menegaskan bahwa fokus mereka saat ini adalah mengakhiri konfrontasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz—jalur urat nadi minyak dunia yang sempat mereka tutup dan memicu lonjakan harga energi global.
Baca Juga : Usai Pembicaraan dengan Xi Jinping, Trump Mengatakan Kesabarannya Terhadap Iran Mulai Habis
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggarisbawahi bahwa kesediaan mereka untuk bernegosiasi sama sekali bukan sinyal bahwa Iran bertekuk lutut atau menyerah tanpa syarat.
Ada beberapa poin krusial yang masih mengganjal di antara kedua belah pihak:
- Senjata Nuklir: Trump bersikeras bahwa kesepakatan apa pun wajib menjamin “TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!”. AS menuntut pembongkaran total cadangan uranium yang diperkaya milik Iran.
- Sanksi Ekonomi: Iran menuntut pencabutan total sanksi ekonomi berlapis yang selama ini mencekik sekujur negara mereka sebagai kompensasi utama.
- Selat Hormuz: AS menuntut jalur pelayaran internasional tersebut segera dibuka bebas dan aman, sementara Iran masih berupaya mempertahankan kontrol atas wilayah perairan tersebut.
Baca Juga : Pertemuan Trump dengan Xi Jinping Disambut Meningkatnya Ketegangan di Selat Hormuz
Pasar Global Merespons
Kabar penundaan serangan ini langsung memberikan angin segar sesaat bagi ekonomi dunia yang sempat terombang-ambing akibat perang. Harga minyak mentah dunia jenis Brent yang sempat melambung tinggi, langsung merosot sekitar 2,15% ke level $109 per barel sesaat setelah pengumuman Trump keluar.
Dunia kini sedang memperhatikan apakah diplomasi “gertakan” ala Trump dan desakan ekonomi atas Iran mampu melahirkan perjanjian damai yang permanen, ataukah jeda ini hanyalah ketenangan sesaat sebelum badai bom berikutnya benar-benar datang. ***














