Politik
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PKS Desak Evaluasi Total Perlindungan Pasukan Perdamaian

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, menyampaikan duka cita mendalam sekaligus memberikan catatan kritis terkait gugurnya prajurit TNI di Lebanon. (AI/Foto : Istimewa)
FAKTUAL INDONESIA: Kabar duka menyelimuti tanah air setelah seorang prajurit terbaik bangsa yang tergabung dalam misi perdamaian dunia di Lebanon gugur dalam tugas. Menanggapi insiden tersebut, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, menyampaikan duka cita mendalam sekaligus memberikan catatan kritis terkait keselamatan personel TNI di wilayah konflik.
Selain satu prajurit yang gugur, insiden di wilayah penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tersebut juga menyebabkan tiga personel lainnya mengalami luka-luka. Mulyanto menegaskan bahwa pengorbanan ini adalah bukti nyata komitmen tak tergoyahkan Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
Baca Juga : Alarm Krisis Energi, PKS Menilai Kelangkaan BBM di SPBU Swasta Bukti Kebijakan Pemerintah Terlalu Kaku
Desak Evaluasi Alutsista dan Intelijen
Melihat eskalasi konflik yang kian memanas di Lebanon Selatan, Mulyanto meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan pasukan Kontingen Garuda.
“Indonesia perlu melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan pasukan, termasuk aspek keamanan, intelijen lapangan, serta kelengkapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang digunakan dalam misi,” ujar Mulyanto tegas.
Menurutnya, evaluasi juga harus menyentuh aspek Rules of Engagement (ROE) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) di wilayah konflik aktif. Tujuannya jelas: memastikan keselamatan prajurit tetap menjadi prioritas utama tanpa mengurangi efektivitas misi internasional.
Baca Juga : PKS Minta Pemerintah Tidak Menaikkan Harga BBM Bersubsidi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
Di Tengah Ketegangan Hezbollah-Israel
Situasi di Lebanon saat ini memang berada dalam titik didih. Eskalasi antara Hezbollah dan Israel menempatkan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam posisi yang sangat rentan.
Mulyanto mengapresiasi tinggi dedikasi prajurit TNI yang tetap teguh menjalankan tugas mulia di tengah risiko dan ketidakpastian global. Namun, ia mengingatkan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi mereka.
“Ke depan, harus ada keseimbangan antara kontribusi pasukan dengan jaminan keamanan maksimal. Pengiriman pasukan harus berbasis pada kalkulasi risiko yang matang,” tambahnya.
Baca Juga : Ketua MPP PKS Mulyanto Desak Pemerintah Menunjukkan Keseriusan Menuntaskan Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis HAM
Diplomasi Aktif Sebagai Solusi
Lebih lanjut, PKS mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan peran diplomasi di forum internasional. Indonesia diharapkan mampu mendorong de-eskalasi konflik di Timur Tengah agar tidak terus memakan korban jiwa.
“Indonesia harus tampil sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penanggung risiko dari konflik yang terus berlarut,” kata Mulyanto.
Mengakhiri pernyataannya, Mulyanto mendoakan agar prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. “Pengorbanan ini tidak akan pernah sia-sia dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah pengabdian Indonesia bagi perdamaian dunia.” ***














