Connect with us

Politik

Patahkan Big Data Luhut, LaNyalla – Percakapan Pemilu Kalah Besar dari Kelangkaan Minyak Goreng

Gungdewan

Diterbitkan

pada

Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti (kanan) patahkan klaim Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan  soal analisa Big Data Penundaan Pemilu 2024

Ketua DPD RI LaNyalla Mahmud Mattalitti (kanan) patahkan klaim Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan soal analisa Big Data Penundaan Pemilu 2024

FAKTUAL-INDONESIA: Nah lho ketahuan. Apanya? Ya, biasalah itu. Simak saja ini.

Big data sekitar 110 juta pengguna media sosial yang membahas wacana penundaan Pemilu 2024 ternyata tidak sebesar yang digembar-gemborkan oleh Luhut Binsar Pandjaitan.

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi yang tiba-tiba ikut meramaikan wacana penundaan Pemilu 2024 menyusul tes antigen dan PCR tidak lagi menjadi kunci utama setelah syarat vaksinasi yang diutamakan dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Big data soal pengguna media sosial yang membahas wacana penundaan Pemilu 2024 dari Menko Marves Luhut BP dipatahkan oleh Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

Dalam rilisnya, LaNyalla dengan tegas mematahkan klaim Luhut yang mengatakan, berdasarkan analisa big data terdapat sekitar 110 juta pengguna media sosial yang membahas wacana penundaan Pemilu 2024.

Advertisement

Tak hanya itu, ratusan juta pengguna media sosial itu juga diklaim oleh Luhut aktif membicarakan wacana perpanjangan masa jabatan Presiden.

Data Luhut ditampik LaNyalla. Senator asal Jawa Timur itu mengatakan, klaim yang dilakukan Luhut amat berlebihan.

“Pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan. Berdasarkan analisa big data yang kami miliki, percakapan tentang Pemilu 2024 di platform paling besar di Indonesia yaitu Instagram, YouTube dan TikTok tidak sampai 1 juta orang,” papar LaNyalla saat diminta pendapatnya soal klaim tersebut, Sabtu (12/3/2022).

Dipaparkan LaNyalla, jumlah pasti akun yang terlibat dalam percakapan wacana tersebut sebanyak 693.289 percakapan. Jumlah itu terbagi atas 87 ribu percakapan di YouTube, 134 ribu percakapan di Instagram dan 454 ribu di TikTok.

“Media sosial paling ribut seperti Twitter, percakapan tentang pemilu hanya melibatkan 17 ribu akun unik,” jelas LaNyalla.

Advertisement

Justru dari analisa big data yang digunakan oleh DPD RI, LaNyalla menyebut percakapan pemilu tak sebesar percakapan ibu-ibu dan masyarakat umum soal kelangkaan minyak goreng, gula pasir dan komoditas kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Justru dari big data terlihat jika masyarakat lebih menitikberatkan perhatian mereka pada kelangkaan dan antrian ibu-ibu saat membeli minyak goreng. Dari big data tersebut percakapan tentang minyak goreng yang hilang dari pasaran mencapai 3.272.780 percakapan,” tegas LaNyalla.

Dari data-data itu, LaNyalla meyakini jika pendapat Menko Luhut Pandjaitan bahwa ada 110 juta pengguna media sosial membicarakan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan Presiden tidak kredibel.

LaNyalla juga membocorkan, jika sentimen negatif pemberitaan tentang penundaan Pemilu 2024 cenderung meningkat.

“Hingga Jumat, 11/3/2022 sore, kecenderungan sentimen negatif terhadap wacana ini meningkat. Skornya sudah melebihi 50 persen jika dibandingkan pada skor sentimen pada Februari 2022. Termasuk adanya peningkatan emosi anger (marah) sebesar 8 persen,” tutup LaNyalla. ***

Advertisement

Lanjutkan Membaca